JELANG LEBARAN Pelayanan Mudik Masih Terkendala
Mustafa Abubakar, Menteri BUMN.
Jumat, 3 September 2010
JAKARTA (Suara Karya): Kondisi jalan di pantura dan selatan Jawa belum sepenuhnya siap sehingga membuat pelayanan mudik masih terkendala. Sementara itu, pemerintah mengamati dengan intens kesiapan angkutan penyeberangan antarpulau menjelang arus mudik Lebaran 2010 ini.
Wakil Ketua Komisi V DPR Yasti Soepredjo Mokoagow mengatakan, DPR juga terus memantau kesiapan infrastruktur dan angkutan menjelang arus mudik Lebaran 2010 yang tinggal beberapa hari lagi. Apalagi, tim dari Komisi V DPR sudah melakukan kunjungan ke lapangan untuk memantau langsung kesiapan infrastruktur.
Komisi V DPR melihat masih ada potensi kemacetan di jalan pantai utara (pantura) Jawa. Apalagi, setiap tahunnya, terus menjadi titik rawan kemacetan. Selain itu, Komisi V juga akan melihat langsung kesiapan jalur penyeberangan Merak-Bakauheni.
Di jalur pantura, sampai hari ini, masih banyak ditemui jalan berlubang, khususnya di Pemalang-Tegal, Tegal-Brebes, dan Batang-Semarang, sepanjang 70 kilometer. Terutama juga pada ruas jalan Tulis-Gringsing, Kudus-Rembang sepanjang 90 kilometer. Jalan masih rusak cukup parah.
"Komisi V berharap sebelum H-10 Lebaran, jalur pantura sudah betul-betul siap untuk dilalui, sehingga tidak memperparah kemacetan jalan," tuturnya.
Sementara itu, kondisi pelabuhan penyeberangan di sejumlah rute arus mudik juga mendapat sorotan dari pemerintah. Di antaranya Merak-Bakauheni, Ketapang-Gilimanuk, Ujung-Kamal, Padang-Bai Lombok, dan sejumlah ruas penyeberangan lainnya. Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan, seluruh operator penyeberangan diminta untuk mengutamakan pelayanan yang prima dan tidak hanya mencari keuntungan. Sebab, sedikit saja kesalahan, akan berakibat buruk terhadap keselamatan pelayaran yang membawa puluhan ribu pemudik.
Hal ini diungkapkan Mustafa saat melakukan peninjauan langsung kesiapan sejumlah pelabuhan penyeberangan menghadapi puncak arus mudik di Pelabuhan Merak, Banten. Mustafa minta agar operator kapal penyeberangan benar-benar memperhatikan aspek keselamatan. Misalnya dengan menyiapkan perangkat keselamatan, seperti jaket dan pelampung yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah penumpang.
"Boleh saja cari untung saat musim padat penumpang seperti ini. Namun, jangan mengabaikan pelayanan dan keselamatan. Para pemudik itu saudara kita. Mereka juga butuh kecepatan, ketepatan waktu, kenyamanan, dan keselamatan dalam perjalanan," kata Mustafa didampingi Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Bambang Bhakti.
Menurut dia, pelayanan terbaik dan tepat waktu jangan hanya jadi slogan, tapi harus dilaksanakan. Baik-buruknya pelayanan dinilai oleh masyarakat pengguna jasa. Mustafa pun minta agar praktik pungutan liar (pungli) di pelabuhan tidak terjadi lagi.
Perlu diketahui, Pelabuhan Merak yang menghubungkan Banten dan Lampung merupakan jalur penyeberangan paling ramai di Indonesia. Pada musim mudik Lebaran 2010, Pelabuhan Merak mengoperasikan 32 unit kapal dari 38 unit kapal yang ada.
Bambang Bhakti mengatakan, enam unit kapal dijadikan cadangan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang. Khususnya saat puncak mudik yang diperkirakan terjadi pada H-4 hingga H-2 Lebaran.
"Saya sudah keliling untuk melihat langsung persiapan, termasuk petugas di lapangan. Secara umum, mereka sudah cukup baik melakukan persiapan," ucapnya.
Dia menambahkan, pelabuhan penyeberangan menjadi lokasi strategis dalam menghubungkan penduduk dari satu pulau ke pulau lain. Pada musim mudik Lebaran ini, bukan hanya petugas keamanan internal ASDP yang dilibatkan, melainkan juga semua unsur aparat keamanan, termasuk pasukan khusus Polri dan TNI.
Apalagi, kapal-kapal yang dioperasikan di seluruh ruas penyeberangan umumnya berusia tua atau rata-rata di atas 30 tahun. Namun, kapal-kapal ini masih laik operasi dan memenuhi standar pelayaran. "Jadi, ini bukan hanya soal usia tua, melainkan juga soal perawatan. Apakah kapal itu selama ini dirawat secara baik atau tidak. Ini yang penting," tutur Mustafa.
Mulai Padat
Memasuki H-8 Lebaran atau Kamis (2/9), Terminal Bus Antar kota Antarprovinsi (AKAP) Pulo Gadung di Jakarta Timur mulai dipadati pemudik. Sejak pukul 07.00 hingga 14.00 WIB, ratusan penumpang telah memadati terminal itu.
Meski sudah ada peningkatan jumlah penumpang, namun armada bus yang tersedia di terminal itu terbilang cukup banyak. Penumpang pun terlihat tertib dan tidak saling berebut menaiki bus yang akan mengantarkannya ke kota tujuan.
Kepala Terminal Pulo Gadung HM Nur mengatakan, saat ini jumlah armada bus yang disediakan di Terminal Pulo Gadung mencapai 150-200 armada. Jumlah itu cukup untuk mengangkut sekitar 1.000 penumpang.
Sejak pukul 08.00 hingga 14.00 WIB, sudah 38 bus yang diberangkatkan dari Terminal Pulo Gadung. Telah diberangkatkan sebanyak 456 penumpang yang mayoritas tujuan kota-kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, serta Jawa Barat. "Sedangkan untuk angkutan dan penumpang yang berangkat malam hari nanti baru dapat diketahui mulai pukul 20.00 malam," ujar HM Nur.
Untuk tarif angkutan, masih berlaku normal. Namun, pada Jumat (3/9) ini atau memasuki H-7 tarif akan naik. Kenaikan bervariasi, tergantung jarak tempuh yang akan dilalui masing-masing bus.
Untuk bus Sahabat jurusan Jakarta-Kuningan (319 kilometer) kelas ekonomi misalnya, ditentukan tarif batas bawah sebesar Rp 28 ribu dan batas atas Rp 45 ribu per penumpang. Untuk AC/eksekutif sebesar Rp 60 ribu per penumpang. Untuk bus nonekonomi seperti bus Sanjaya jurusan Jakarta-Surabaya Rp 250 ribu per penumpang. Bus Dunia Mas jurusan Jakarta-Bima sebesar Rp 750 ribu. Bus Karina jurusan Jakarta-Surabaya-Madura Rp 400-600 ribu. Bus Lorena jurusan Jakarta-Surabaya-Malang sebesar Rp 485 ribu per penumpang.
Sukino (50), pemudik tujuan Surabaya, mengaku sengaja melakukan perjalanan mudik dengan keluargaya lebih awal karena ingin menghindari macet dan situasi saling desak dengan calon pemudik lain.
"Enak mudik lebih awal. Selain tiketnya murah, kita juga tidak perlu berdesak-desakan dengan penumpang lain," tutur Sukino, yang berprofesi sebagai pedagang makanan di kawasan Kramatjati.
Sementara itu, pemudik yang menggunakan sepeda motor juga terlihat makin banyak di jalur pantai utara Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Muhamad Iksan, pemudik asal kabupaten Purbalingga, mengatakan, mudik lebih awal untuk menghindari kepadatan kendaraan di jalur utama Pantura.
"Saat ini perjalanan Jakarta hingga pantura Indramayu lancar, hanya kurang dari lima jam, karena jumlah kendaraan yang melintas masih normal," katanya.
Terkait hal ini, Kapolres Indramayu AKBP Nasri Winarto mangatakan, pemudik yang melintas di jalur utama pantura Kabupaten Indramayu saat ini memang tidak menemui hambatan kemacetan. (Syamsuri S/Bayu/Antara/Dwi Putro AA)
|
|