LETUSAN GUNUNG SINABUNG Sebagian Warga Bertahan di Pengungsian
Jumat, 3 September 2010
TANAH KARO, Sumut (Suara Karya): Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo sudah mengeluarkan imbauan agar pengungsi letusan Gunung Sinabung pulang ke kampungnya masing-masing, karena kondisi gunung itu sudah tidak berbahaya lagi. Namun, warga beberapa desa memilih bertahan di tempat pengungsian.
"Kami belum berani pulang karena masih takut Sinabung meletus dan debu yang dikeluarkan dari gunung itu berbahaya. Imbauan pemerintah meminta warga pulang hanya layak bagi warga desa yang berada di atas radius enam kilometer dari Gunung Sinabung. Di bawah radius itu, tidak ada imbauan bagi warga untuk pulang. Itu sebabnya kami masih bertahan di tempat pengungsian," kata Kelang Sitepu, warga Desa Suka Nalu Terans, Kecamatan Naman Teran.
Dia berbicara dengan Suara Karya di lokasi pengungsian Jambur Teras, Berastagi, Karo, Kamis (2/9). Hal yang sama dibenarkan Kepala Desa Pdt Naik Sembiring.
Perihal makanan, kata Sitepu, tidak ada keluhan karena cukup. Bantuan dari luar banyak berdatangan. Begitu juga mengenai kesehatan. Di Jambur, ada posko paramedis. Kalau ada yang sakit atau gejala gangguan kesehatan lainnya, bisa cepat diperiksa.
"Di tempat pengungsian lain, seperti di Jambur Lige, Kabanjahe, kami dengar kekurangan makanan. Tidak tahu kenapa," kata Kelang Sitepu.
Karena warga menolak pulang kampung, Desa Bekerah di kaki Gunung Sinabung seperti desa mati. Tak ada penduduk satu pun di sana. Untuk menjaga rumah penduduk dari pencurian, sekitar 1 kilometer sebelum masuk desa ini ada pos polisi. Kalau ada orang masuk, apalagi naik motor atau mobil, lebih dulu diperiksa. Kalau dicurigai dan tidak jelas identitasnya, tidak diperbolehkan masuk.
Suara Karya masuk Desa Bekerah karena ditemani Kepala Desa Bekerah, Naik Sitepu. Jalan dan tanaman dipenuhi debu putih semburan Gunung Sinabung. Tapi, ternak yang ditinggal penduduk, seperti ayam, bebek, dan anjing, masih bertahan hidup walaupun ada isu bahwa debu gunung sinabung beracun.
Kamis kemarin, sekitar pukul 06.00 WIB, Gunung Sinabung memang kembali mengeluarkan debu vulkanik. Akibatnya, tanaman penduduk di sekitar gunung itu tertutup debu.
"Seluruh tanaman petani di beberapa desa tertutup debu vulkanik," kata Sekretaris Desa Kuta Rakyat Sastrawan Ginting di lokasi pengungsian Kabanjahe, Kamis (2/9).
Desa yang tertutup debu vulkanik itu meliputi Desa Suka Nalu, Desa Bekera, Desa Simacem, Desa Sigaranggarang, Desa Hutagugung, dan Desa Utapelin.
Menurut Ginting, saat terjadinya kabut asap bercampur debu vulkanik di Desa Kuta Rakyat, seluruh warga sudah berada di lokasi pengungsian di Kabanjahe.
Ia menjelaskan, luas areal pertanian milik warga di Desa Kuta Rakyat lebih kurang 300 hektare. Sekitar 30 hektare di antaranya ditanami sayur-sayuran berupa kentang, cabai, kol, sayur putih, wartel, sayur pahit, dan lainnya. Semua tanaman itu rusak akibat tertutup debu vulkanik.
"Seluruh tanaman sayur-sayuran tidak bisa dikelola lagi. Ini benar-benar merugikan petani," katanya. (M Tampubolon)
|
|