Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Alternatif 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Testosteron dan Olahraga
Mitos Mengenali Seks
Sebelum Bertanding
Terapi Hipnotis
Alternatif Pemecahan Kehidupan
Seksual yang Bermasalah
REZA GUNAWAN
Sembuhkan Penyakit
Lewat Kekuatan Jiwa
WELNALDI
Awet Muda lewat Totok Energi
SUMARSONO WURYADI
Terapi Warna untuk
Keseimbangan Tubuh
JULIANA TJANDRA
Akupunktur untuk Rambut Rontok
ZUNAIDI
Terapi Atasi Gangguan Reproduksi
DARWIN KIRO
Sembuhkan Diabetes Secara Total
lewat Ramuan "Mediabetea"
BODY MEDITASI
Optimalkan Potensi Diri
ERBE SENTANU
Hilangkan Stress dengan
Terapi Gelombang Otak
Blush
Terapi Pijat Thailand
ROEMAH OBAT ALAMI
Pusat Pengobatan Herbal dan Prana
arsip  
Testosteron dan Olahraga
Mitos Mengenali Seks
Sebelum Bertanding
Terapi Hipnotis
Alternatif Pemecahan Kehidupan
Seksual yang Bermasalah
REZA GUNAWAN
Sembuhkan Penyakit
Lewat Kekuatan Jiwa
WELNALDI
Awet Muda lewat Totok Energi
SUMARSONO WURYADI
Terapi Warna untuk
Keseimbangan Tubuh
JULIANA TJANDRA
Akupunktur untuk Rambut Rontok
arsip  
 
 
Dr Sukarliono
Terapi Cuci Usus Sembuhkan Jantung Koroner


Minggu, 30 Oktober 2005
Gangguan penyakit tidak selalu disebabkan faktor dari luar tubuh, tetapi bisa juga dari dalam. Salah satunya adalah racun (toksin) dalam darah yang ditimbulkan oleh konsumsi makanan yang tidak sehat. Racun tersebut bisa menimbulkan gangguan kesehatan bila terus menumpuk dalam pembuluh darah. Pembuluh darah yang menyempit bisa menyebabkan stroke maupun jantung koroner.

Upaya pembersihan toksin dalam pembuluh darah bisa dilakukan dengan melakukan terapi cuci usus (colon therapy). Terapi tersebut telah lama digunakan untuk mereka yang mengalami gangguan pencernaan dan mereka yang ingin langsing. Namun, dalam perjalanannya, terapi cuci usus terbukti mampu meluruhkan toksin dalam tubuh sehingga mengembangkan fungsi organ tubuh kembali bugar.

"Selain melakukan terapi cuci usus, perlu juga diberi nutrisi esensial yang mungkin saja hilang saat terapi tersebut," kata dr Sukarliono yang mengembangkan metode pengobatan body & mind cleansing system yang terdiri dari terapi cuci usus, pemberian nutrisi tambahan serta pembersihan perekaman pola negatif.

Dr Karli-- panggilan akrab praktisi pengobatan kedokteran alami yang berpraktik di Jalan Dempo, Matraman, Jakarta Pusat itu percaya bahwa kesehatan tubuh berawal dari usus besar (colon) yang sehat. Pola makan dan pola hidup tak sehat akan menyisakan kerak yang menempel di dinding usus besar.

"Selama kerak dalam usus tidak dibersihkan, proses penyerapan toksin dan partikel protein akan berlangsung terus-menerus. Toksin dan partikel protein itulah yang akan masuk ke pembuluh darah dan membebani kerja lever sebagai pusat metabolisme yang bekerja membongkar semua sampah," ujarnya.

Lever adalah pusat detoksifikasi yang menetralisasi semua racun tubuh. Tanda bila fungsi lever menurun adalah kepala terasa berat, mudah lelah, lapar, mual, kembung, masuk angin, otot-otot terasa pegal, kram, kesemutan, rambut rontok, berat badan naik, kadar kolesterol dan asam urat naik.

Tanda-tanda itu harus diwaspadai karena akan menyebabkan timbulnya berbagai penyakit degeneratif. "Penyakit itu antara lain stroke, jantung koroner, tumor, kanker, gagal ginjal, perlemakan dan pengerasan lever, kencing manis, darah tinggi, dan penuaan dini" paparnya.

Kerak yang menempel di usus besar tak bisa dihilangkan hanya dengan minum obat pencahar atau pembersihan melalui oral. menggunakan terapi cuci usus (colon cleansing therapi untuk membersihkan kerak di dalam usus besar menggunakan media air dan selang kecil yang dimasukkan ke lubang dubur pasien.

Pelaksanaan terapinya sebagai berikut, setelah melepaskan pakaian dan menggantinya dengan sarung, pasien ditidurkan telentang di atas papan fiber, yaitu perlengkapan khusus untuk terapi cuci usus. Dibantu asistennya, ia memasukkan selang kecil (canula) melalui anus sepanjang 5 cm. Saat penahan selang air dilepas, air akan masuk ke dalam usus besar.

Ketika air mulai masuk, ia meminta pasien untuk menahan anus sehingga air tidak berbalik keluar. Langkah selanjutnya, ia meminta pasien merilekskan perutnya, dengan bernapas lebih dalam, agar air lebih jauh masuk ke seluruh usus besar.

Saat sudah tidak tahan dan merasa mau buang air besar, pasien diminta untuk melepaskan tahanan pada anus, sehingga air keluar. Setelah merasa lega, pasien diminta lagi menahan anus agar air tak keluar. Begitu seterusnya hingga air habis.

Setelah melalui proses itu, kotoran biasa akan keluar di hari pertama. Hari kedua tak keluar apa-apa. Hari ketiga dan seterusnya kerak akan keluar. Terapi ini harus dijalani pasien selama 7 hari berturut-turut, sehari dua kali terapi dengan jeda waktu minimal 6 jam.

Waktu yang diperlukan untuk sekali terapi 20-30 menit Selama terapi, pasien diberi suplemen yang diperlukamn untuk perbaikan sel-sel tubuh.

Selain toksin, kerusakan organ juga bisa disebabkan oleh ketenangan mental yang memicu pelepasan mediator kimia (adrenalin, kortisol) yang bisa mengganggu fungsi organ. Ketegangan terbentuk akibat pikiran negatif secara tidak sadar terpola dan terekam, sehingga otomatis menimbulkan refleks.

Kepada pasien dengan gejala seperti itu, dr Karli memberi terapi tambahan wajib berupa pemograman ulang pikiran bawah sadar atau mind cleansing. Ia percaya pikiran negatif bisa dibersihkan dari otak bawah sadar dengan pemograman ulang sehingga akan tercipta pola pikir positif.

Harapannya, akan tercipta ketenangan dan kedamaian. Kondisi tersebut akan melepas mediator kimia endorfing dan melatonin, hormon pertumbuhan yang berfungsi mempercepat perbaikan sel organ tubuh serta penyembuhan.

Dengan diiringi alunan musik instrumental, ia melakukan proses pemograman yang terdiri dari 3 bagian. Pertama, rileksasi dan gelombang alfa. Pasien diminta rileks, mata terpejam, menarik napas dalam, membangun tempat kedamaian, dan mengendurkan otot.

Kedua, visualisasi dan imajinasi. Pasien diminta membayangkan keadaan yang diinginkan dengan melibatkan emosi. Ketiga, afirmasi atau autosugesti. Caranya, pasien diminta berafirmasi, misalnya aku positif saat ini, secara berulang-ulang.

Tentu saja waktu yang diperlukan untuk pemograman otak bawah sadar antara pasien satu dengan lainnya berbeda-beda karena keluhan dan gangguan yang berbeda-beda juga.

Keunggulan pemograman yang ia lakukan, menurutnya, pasien akan masuk ke dalam gelombang alfa dan meyakini potensi otak bawah sadar sebagai penyembuhan. Pasien memasukkan dan merekam pola baru di otak bawah sadar dengan selalu mengulang kata-kata singkat yang positif.

Paska terapi, secara khusus dr Karli mengingatkan pasiennya untuk selalu menurunkan racun tubuh serendah-rendahnya dengan menghindari zat adiktif, meminimalisasi pembusukan dan pembentukan kerak dengan banyak mengonsumsi serat, protein nabati, telur, dan ikan. Bila ingin daging ayam, cukup dikunyah-kunyah untuk diambil sarinya, lalu buang ampasnya.

Pasien juga dianjurkan mencukupi nutrisi esensial dengan minum jus buah, susu kedelai, suplemen (semisal biogreen, kromium, zinc, kalsium, dan magnesium), merendahkan potensi stres, selalu berpikir positif, rajin melakukan rileksasi, serta berolahraga minimal 3 kali seminggu.

Soal biaya untuk menjalani terapi dengannya, pasien diminta langsung menanyakan sendiri ke alamat praktiknya. (Tri Wahyuni)

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i