Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Nusantara 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
LETUSAN GUNUNG SINABUNG
Sebagian Warga Bertahan di Pengungsian
KABUPATEN BARRU
Ada Racun Tikus
di Makanan yang Tewaskan 8 Warga
JAWA BARAT
Pelabuhan Peti Kemas
Lebih Layak Dibangun di Indramayu
PARIWISATA
Pesta Danau Toba Kali Ini Berbeda
KOTA KUPANG
Pembangunan Rumah Murah
Terkesan Asal Jadi
SURABAYA
Oknum Polisi Kepergok
Akan Curi Mobil Dokter
LETUSAN GUNUNG SINABUNG
Pengungsi Mulai Tinggalkan Penampungan
KOTA SOLO
Bus Rapid Transit Diluncurkan
PANTURA BREBES
Pasar Tumpah Masih
Jadi Biang Kemacetan
SUMATERA UTARA
Jelang Lebaran, Semua Guru
Swasta Dapat Dana Insentif
KERACUNAN MAKANAN
Jauh dari Rumah Sakit,
8 Warga Tak Tertolong
BENTROK POLISI-WARGA
Delapan Tewas, Suasana
Kota Biau Masih Mencekam
arsip  
 
 
FORMALIN
Pedagang Resah,
Ibu Rumah Tangga Bingung


Sabtu, 31 Desember 2005
JAKARTA (Suara Karya): Perdagangan ikan asin, tahu, mi basah di daerah-daerah kini dilanda kelesuan. Setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPDM) penggunaan menemukan formalin sebagai bahan pengawet beberapa produk makanan, omzet penjualan ikan asin, tahu dan mi basah turun drastis. Kondisi ini membuat para pedagang resah dan para ibu rumah tangga bingung dalam memilih produk makanan.

"Penjualan turun, padahal barang saya tidak pakai formalin," kata Joko, pedagang ikan asin di Magelang, Jumat.

Para calon pembeli terkesan berhati-hati sebelum membeli ikan asin dan tak jarang menanyakan lebih dahulu apakah ikan asin itu menggunakan formalin.

Ia mengaku tidak ragu-ragu menjelaskan bahwa ikan asinnya tidak menggunakan formalin, buktinya ikan masih kenyal, sedangkan jika menggunakan formalin maka ikan menjadi kaku dan warna sisik mengilap.

Ikan asin yang menggunakan formalin dan dijual di pasar di pusat kota itu biasanya berasal Tuban, Jawa Timur.

Hal yang sama dialami para pedagang tahu di Bekasi, Jawa Barat. Omzet sejumlah pedagang tahu di pasar tradisional Pasar Baru, Pondokgede, Jatiasih dan Bantargebang, merosot, karena ibu rumah tangga enggan membeli seiring dengan mencuatnya isu penggunaan formalin untuk pengawet tahu.

"Sebelum ada isu formalin untuk bahan pengawet makanan termasuk tahu, pendapatan kotor bisa mencapai sekitar Rp 300.000, tetapi belakangan ini hanya Rp 100.000 per hari, itupun sulit," kata Suyanto (40), penjual tahu di Pasar Pondokgede.

Penjual tahu itu mengaku tidak mengetahui soal formalin, karena membeli dagangan dari orang lain, namun enggan menyebut nama pedagang yang dimaksud. "Bagaimana bisa pulang modal kalau isu penggunaan formalin untuk pengawet tahu terus berlanjut, bisa bangkrut saya ini," katanya.

Mardiah (45), pedagang tahu di Pasar Baru, Bekasi, asal Purwokerto, Jawa Tengah, ketika ditemui mengatakan, sebelum isu formalin merebak di masyarakat, dia mampu menjual dagangannya hingga mendapat pemasukan sekitar Rp 250.000, tetapi sejak pekan lalu hanya berkisar antara Rp 100.000 - Rp 125.000 per hari.

Kendati sudah berupaya meyakinkan kepada calon konsumen bahwa tahu yang dijual tidak menggunakan formalin, namun ibu rumah tangga sulit mempercayai bahkan memegang pun tidak mau.

"Saya sudah berusaha meyakinkan calon pembeli bahwa tahu ini tidak menggunakan bahan pengawet formalin, tapi tetap saja tidak mau dengan alasan takut mengganggu kesehatan," katanya. (Laurensius/Ant)

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i