Selasa, 9 Februari 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Ekonomi 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
APBNP 2010
DPR Tolak Permintaan
Realokasi Anggaran KKP
Kilas Ekonomi
DPRD Sumut Minta
Jembatan Timbang Ditutup
KINERJA KABINET
Program 100 Hari
Kementerian Perindustrian Tuntas
KEUANGAN
Utang LN Naik 19,66 Miliar Dolar AS
IMPLEMENTASI CAFTA
Pemerintah Harus
Tingkatkan Lembaga Pengawasan
OTOMOTIF
Kawasaki Ramaikan Pasar Motor Bebek
BATU BARA
Produsen Siap Tingkatkan
Pasokan untuk Dalam Negeri
Kilas Ekonomi
Penertiban Aset Negara 93 Persen
KESEJAHTERAAN PEKERJA
K-SPSI Sediakan
Layanan Kesehatan Gratis
KONVERSI ENERGI
Jateng/DIY Bebas Minyak Tanah Subsidi
IMPLEMENTASI CAFTA
Cegah Kebangkrutan,
UMKM Butuh Stimulus Fiskal
Kilas Ekonomi
Produk China Masih Bisa Dikenakan BM
arsip  
AKSI KORPORASI
CSR, Jadi Perhatian Emiten
arsip  
 
 
ANALISIS EKONOMI
Perekonomian Melemah


Rabu, 26 April 2006
Minat investor demikian tinggi terhadap pasar modal, sehingga indeks BEJ pun menembus level 1400. Peningkatan ini lebih didorong oleh sentimen ketimbang fundamental ekonomi nasional, baik mikro maupun makro. Sejauh ini sebenarnya kinerja perusahaan publik (emiten) pada umumnya tidak begitu baik sebagaimana diperlihatkan oleh beberapa perusahaan yang telah mengumumkan laporan keuangan triwulan pertama 2006.

Umumnya kinerja perusahaan mengalami penurunan dibanding triwulan pertama 2005. Bahkan perusahaan yang bergerak di bidang sumber daya alam, seperti pertambangan, mengalami penurunan kinerja. Kinerja perbankan juga umumnya mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Hanya sedikit bank yang mengalami perbaikan kinerja.

Besarnya aliran dana dari luar negeri ke pasar modal juga terjadi pada pembelian Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Utang Negara (SUN). Dengan perbedaan suku bunga yang masih cukup tinggi dibanding di AS, kedua produk keuangan itu masih menarik bagi investor asing jangka pendek. Arus masuk dana jangka pendek ke pasar modal, SBI, dan SUN memperkuat nilai rupiah menembus di bawah 9.000 per dolar AS.

Maraknya pasar modal dan pasar utang tanpa dukungan fundamental ITU menjadi fenomena yang perlu dicermati. Tidak saja fundamental mikro perusahaan yang sebenarnya tidak terlalu baik, fundamental ekonomi makro - sebagaimana ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi - juga menunjukkan penurunan. Bahkan banyak analis dan lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan I hanya berkisar pada tingkatan 4,5%. Apalagi upaya pemerintah menstimulasi perekonomian dengan pengeluaran pemerintah mengalami hambatan berupa rendahnya pencairan dana di tingkat daerah.

Fenomena ini di satu sisi menggembirakan karena memperbaiki stabilitas ekonomi, terutama dalam penguatan nilai rupiah yang membantu menurunkan inflasi. Namun di lain pihak timbul kekhawatiran mengenai keberlanjutannya. Modal jangka pendek itu setiap saat bisa datang dan pergi, serta berpengaruh besar terhadap perekonomian.

Tampaknya perekonomian Indonesia baru menarik bagi investor jangka pendek dan investor strategis yang membeli saham perusahaan nasional. Namun minat menanamkan modal langsung, untuk proyek baru (green fields) masih relatif rendah. Padahal investasi langsung ini yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan kesempatan kerja.

Sejauh ini harapan pelaku usaha adalah pada paruh kedua tahun 2006 perekonomian mengalami perbaikan signifikan seiring terkendalinya inflasi dan menurunnya suku bunga. Namun Bank Indonesia (BI) sendiri tampaknya masih harus mempertimbangkan kelakuan investor jangka pendek dan perkembangan eksternal, terutama suku bunga bank sentral AS, sebelum menurunkan suku bunga. Penurunan suku bunga terlalu cepat dikhawatirkan mendorong aliran keluar modal jangka pendek karena menurunnya perbedaan suku bunga. Namun penurunan suku bunga yang lambat berarti menunda pemulihan ekonomi, karena pengaruhnya terhadap kegiatan riil ekonomi membutuhkan waktu yang cukup.

BI tidak akan menurunkan suku bunga dengan cepat, tetapi kemungkinan akan secara bertahap bulan-per bulan mulai Juni atau Juli. Kalaupun BI menurunkan 0,25% setiap bulan - katakan mulai Juli - maka SBI Oktober, pada saat inflasi diperkirakan turun drastis, masih cukup tinggi (11,75%). Berarti penurunan suku bunga bank juga hanya akan berkisar 1%.

Penurunan itu kurang begitu signifikan untuk mendorong perekonomian. Apalagi jika dipertimbangkan perlunya waktu agar pengaruhnya nyata (lag). Jika demikian, bukan saja perkiraan pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 6,2%, bahkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,5% yang diperkirakan banyak analis kemungkinan juga tidak tercapai. Karena itu, beberapa analis dan lembaga internasional mulai menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional ini menjadi 5% atau bahkan lebih rendah.

Pandangan optimistis adalah bahwa pertumbuhan tinggi hanya tertunda dari pertengahan 2006 menjadi tahun 2007. Namun pandangan yang realistis memperlihatkan bahwa perkembangan di sektor keuangan, terutama pasar modal dan utang, tidak banyak terkait dengan perkembangan ekonomi riil. Pelaku ekonomi yang terlibat pun relatif kecil. Sebagian besar pelaku ekonomi di sektor riil semakin tertinggal dengan beratnya beban kenaikan biaya produksi dan menurunnya daya beli masyarakat.

Pengalaman pada masa pemerintahan Presiden Megawati menunjukkan kemiripan dengan perkembangan saat ini. Ketika itu pasar modal juga marak, stabilitas makro terjaga. Namun pertumbuhan ekonomi rendah dan pengangguran cenderung meningkat. Pada waktu itu pemerintah tidak berhasil menciptakan iklim yang kondusif untuk mendorong investasi langsung, sekalipun investasi portfolio meningkat tajam - terutama pembelian aset yang dijual pemerintah. Tampaknya keadaan itu berpengaruh cukup besar terhadap kegagalan Megawati mempertahankan kedudukannya sebagai presiden.

Masyarakat luas tidak merasakan langsung maraknya perkembangan pasar modal dan pasar utang, karena tidak menciptakan kegiatan ekonomi secara meluas. Penjualan SUN oleh pemerintah semestinya menjadi salah satu sumber pembiayaan untuk mendorong proyek-proyek pembangunan. Namun selama kemampuan menyerap dana dan mempergunakannya secara efektif tidak mengalami peningkatan berarti, maka yang terjadi adalah kemubaziran.

Harapan yang diletakkan pada kebijakan pemerintah tidak saja dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi, sebagaimana berulang kali dinyatakan berbagai pihak, namun juga dalam menstimulasi perekonomian. Paling tidak untuk membuat daya beli masyarakat tidak jatuh. Jika tidak, maka penilaian masyarakat akan serupa terhadap penilaian mereka terhadap pemerintahan yang lalu.***

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i