Ketika Bulan Tiada Oleh Adji Subela
Minggu, 30 April 2006
Malam ini berbeda dengan sederet malam yang telah berjalan meninggalkan kita. Tak ada bulan menggantung tenang dan bodoh di langit. Gelap dan sepi di hutan-hutan dan di pegunungan. Tak ada jangkerik mengerik-ngerik menjeritkan puisi cinta. Belalang engket pun bisu. Dan, anjing ajag termenung lunglai. Ia gagal melolong malam ini, semangatnya telah leleh, lolos dari tulang dan ototnya. Ini malam yang paling sial buat si perkasa itu. Burung hantu pun jatuh tertidur dalam menungnya, dan si meraga pun terlelap.
Sepatutnya, bulan itu bulat merekah malam ini - malam keempat belas - seperti juga jutaan kali sebelumnya. Sekarang tidak! Maka, ikan-ikan pun bersuka ria menari-nari di dekat permukaan laut. Ikan teri pun bergulat-gulat penuh semangat, menggumpal-menggunung di permukaan laut. Sedangkan blue marlin berlompatan ria, merasa bebas terlepas dari ancaman mata kail pemancing keranjingan.
Kota besar itu tetap hidup sebagaimana mestinya malam-malam sebelumnya. Ribuan bulan lain masih setia menemani dingin udaranya. Ada yang merah, putih, kuning, hijau dan sebagainya. Ada yang mengerlip seolah mengajak berkencan si malam beku. Di dalam ruang-ruang night club, para penderita insomnia tak peduli. Bersloki-sloki wine mengalir deras lewat kerongkongan mereka lalu menggenangi perutnya. Lalu nyanyi-nyanyi sumbang berloncatan dan pekik-pekik erotik membumbuinya penuh gaya dan kepalsuan. Bulan telah hilang malam itu, tetapi mereka tak pernah tahu bedanya. Hanya bintang-bintang kecil sekalian mengambang berkeliling berputar di sekeliling kepalanya manakala isi botol-botol di meja mereka telah kering.
Pun, tak ada berita besar yang disiarkan oleh radio atau tv tentang kehilangan bulan itu. Mereka asyik-masyuk dengan repetisi-repetisi dan duplikasi-duplikasi yang amat sangat seragam, penuh ketiadaan makna, dan kini mereka memerah-merah pundi tanpa arti. Para wartawan koran pun tiada hiraunya. Mereka berkejaran dengan waktu serta pertemuan demi pertemuan. Malam-malam, mereka selalu tenggelam dalam deru mesin cetak web.
Alangkah terkejutnya para peneropong. Mereka pun putarkan kubah observatoriumnya sebesar 360 derajat, dan tak menemukan bulan di atas sana! Separuh global telah mereka selidiki dan benda bulat yang dahulu selalu membosankan itu tiada tampak kini. Dibukanya berlembar-lembar peta dan catatan, tapi mereka tak menemukan jawaban atas pertanyaan: kenapa bulan tiada malam ini? Tanggal 14, dan seharusnya benda itu muncul berkilauan penuh senyum?
* * *
Jauh di sebuah desa yang terpencil di kaki sebuah gunung, pria tua menangis tersedu-sedu. Ia jatuhkan badannya yang renta ke alas tikar balai-balai bambu. Pendar-pendar api unggunnya menyapui tubuhnya.
"Aku telah kehilangan seloka! Raib bersamamu oh, bulan," rintihnya. "Tak ada lagi tembang-tembang rindu pengelus-elus nurani. Ini kejam!"
Hutan terisak, gunung bermenung dan ajag tepekur layu. Uir-uir menyanyi sedih dan panjang penuh vibrasi kesedihan. Semua kebisuan itu nyata telah menjadi simponi hitam.
"Bulan tak pernah lagi mengapung di atas sawah... hilanglah dendang rinduku pada Sri," keluh si kakek kembali. Dipandanginya satu titik di langit sebelah tenggara, tempat mana bulan selalu muncul dari balik Gunung Anjasmara, yang kemudian sinarnya menyapui bentangan sawah yang ada di depan rumahnya, di seberang jalan, hingga ke batas Dukuh Kupang. Bulan-bulan seperti itulah yang selalu menindih sukmanya, dan kemudian membuatnya melafal ayat kidung-kidung penyayat hati.
Si gagu, teman setia yang selalu menemaninya saat memandang bulan setiap tanggal 14, beringsut-ingsut mendekati balai-balai. Ia mendongakkan kepalanya, dan diputar-putarnya benda yang paling berharga miliknya itu ke kiri dan ke kanan, tapi tak tampak olehnya si bulan itu.
"Aaaauuuuuu.....," ia mengaum penuh rasa sedih dan penyesalan. Satu teriakan saja, dan si kakek cukup mengerti betapa berat jua derita hati sahabatnya itu.
Kakek itu pun lalu berbaring menghadapkan wajahnya ke langit, lantas dibisikkannya sederet doa meminta kepada Tuhan agar bulan itu muncul kembali. Berkali-kali ia berbuat seperti itu, dan doanya ternyata tak makbul.
"Bisu, ini hari kiamat yang telah lama kita nanti. Bersiaplah menunggu peralihan dari wujud kita ke wujud lainnya agar kita masuk ke keabadian," ujarnya sembari bangkit dari pembaringannya.
"Aauu..," jawab di gagu.
"Ini hari perjanjian kita. Bila si cantik itu tak muncul lagi, maka selesailah seloka kita. Usai pula kidung kita, dan kita tutup lembar terakhir perkamen ini," keluh si kakek sambil menutup buku hariannya.
"Aauu...."
"Kontrak batinku telah usai, dan kita menuju ke lembar lain perkamen kita. Perkamen keabadian yang kita tunggu-tunggu. Tapi kamu tahu, Gagu, sahabatku, lembar-lembar bukuku telah mencatat sejarah keabadian cinta manusia, kebusukan pengkhianatan dan getar super-energi dari atas."
"Aauu...."
"Di dalam dada ini ada penuh guratan sejarah kegagalan manusia. Pecundang kecil sepertiku tak pernah bangkit dari rasa sakit, dan menjadikan borok abadi yang bersemayam takzim di dalam jantung dan hatiku."
"Aauu..."
Kini si tua itu bangkit berdiri. Tangannya direntangkannya lebar-lebar seolah hendak mendepa langit malam hitam itu. Bintang-bintang kecil mengerdip-ngerdip sesamanya, seakan mengejek kelemahan hati si kakek itu. Bintang kejora menyapa ria. Ia-lah satu-satunya primadona malam ini. Ia sungging segurat senyum termanisnya selama ini lalu selarik kerdipannya seakan menggegar alam.
"Busuk! Kamu bintang kejora! Kau menari di atas kekosongan malam. Bulan tiada, dan kamu dapatlah bersombong-sombong diri. Tunggulah bila bulan itu muncul kembali! Tunggulah bedebah!"
Bintang kejora tersenyum sinis, penuh kemenangan. Kemenangan pertama baginya, dan berharap tak ada lagi penyesalan diri atas kekalahannya selama ini. Terdengar nyanyian-nyanyian lirih, gemerincing nyaring melenting-lenting. Sebuah paduan suara lirih menyentik-nyentik memantul ke tebing dan lembah.
"Malam indah, kawanku, indah berseri-seri ..riririri... trilililiiii, ting-ting-ting...," terdengar serempak bintang-bintang kecil itu menyanyi. "Tiada bulan selamanya riririri...lililili......ting, ting, ting..... oh indahnya sinar kami, bintik-bintik kecil menebar di angkasa, mari kita menari... di angkasa luas tiada hingga... triririririri...... sriiing... sriiiiing.. sriiiing.... .ting..ting...ting..ting...."
Kakek itu berteriak-teriak: "Biadab kalian..... biadaaaab....." Ia pun lalu terjatuh ke balai-balai, tergeletak lemas tenggelam dalam sedu sedannya.
* * *
Di seberang gunung. Sri termangu-mangu di depan pintu gubuknya. Ia merasa heran, kenapa bulan menyalahi janjinya.
"Aneh, ajaib. Bulan tiada tampak rupanya," keluhnya.
"Kiapa ngana ini. Biar jo. Mo apa ngana," hardik suaminya.
"Lihatlah Pah. Tak ada bulan malam ini."
"Biasa, koak. Bulan mati itu depe nama......"
"Tapi ini tanggal empat belas, Pah. Tak ada adatnya bulan hilang di masa ini."
Tampaknya penasaran pula si suami ini. Ia keluar dan dilihatnya langit tak berbulan, tapi bintang kecil-kecil berkelip riang.
"Eh, betul ngana. Kiapa ini. Aneh toh," desisnya.
Suami Sri berjalan acuh tak acuh ke luar pekarangan lalu berbelok ke kanan.
Tujuannya sudah pasti, yaitu rumah minum di ujung jalan. Di sana teman-temannya telah berkumpul hendak menghiasi malam dengan tawa tak berketentuan, teriak dan seringai yang mendirikan bulu kuduk. Sesekali mereka baku pukul lalu sisa malam itu dilewatinya dalam pandangan yang hitam dan berkunang-kunang, lalu isi perutnya terkuras habis.
Sri menangis. Ini malam perjanjiannya dahulu. Bila malam tiada bulan, meski barang secuil pun, maka tutuplah buku-buku seloka, dan habislah syair-syair puja-puji cinta serba agung.
"Waktunya sudah datang pula. Wahai dingin malam, kirimlah hatiku padanya. Dia yang selalu menungguku dengan buhul setianya itu, tak pernah berurai. Telah kupendam dosa pahit pengkhianatan cinta dalam lubuk busuk hatiku. Ia, si setia hati, berkali-kali melafalkan sumpahnya, bahwa kala bulan tiada, maka di situlah hati sucinya selesai menangis tiap hari. Menangisi kehilangan aku.....," gumam Sri.
Sri berjalan pelan. Renta tubuhnya telah mengikisi kecantikannya. Dia, orang yang telah menggiling hati pria di seberang gunung itu secara tidak semena-mena selama ini. Puluhan tahun. Ia telah terendam dalam dekapan si pemabuk, dan menjauhi pria yang dipasung dalam kesepian cinta abadi, yang hidupnya habis untuk meratapi bulan tiap tanggal 14 tanpa daya, dan hanya ditemani si Gagu, dan terkadang anjing ajag, atau burung celepuk, serta cengkerik maupun uir-uir.
"Ini sudah waktunya tiba perjanjian itu," keluhnya lagi. Ia berjalan terus diiringi desir lagu Sapu Tangan di dalam hatinya, saat sang pria berada di seberang gunung. Janji ketika sapu tangan itu diserahkan - dalam dekapan sinar bulan purnama tanggal 14 - sudah hancur. Lebur sekali. 'Hidup kita tetap menyatu, kendati dihadang jarak dan waktu, sehidup dan semati ....' kata syair itu mengiang, mendengung dalam kepalanya. Sri berjalan tertatih-tatih ke arah timur, ke gunung yang hitam. Ia tak pernah kembali.......... tidak pernah kembali........
Nun jauh di balik gunung, si Gagu menangis meraung-raung. Ia bergulung-gulung di tanah menangisi kehilangan sahabatnya. Dia itu adalah pria tua yang telah bertahun-tahun berkawan dengannya - karena hanya dialah yang mau menerimanya dengan hati putih - tiba-tiba menghilang dari balai-balai. Si Gagu tak tahu ke mana sahabat satu-satunya di dunia itu telah raib. Ia menangis melolong-lolong. Dan lalu dari kejauhan, terdengar kemudian lolongan ajag bersahut-sahutan, mengiris hati. Jangkerik bungkam. Uir-uir diam berjuta basa. Hanya burung celepuk menangis tersedak-sedak.
Malam itu, ketika bulan tiada, dua sejoli tadi telah memenuhi janjinya yang didendangkannya puluhan tahun lalu, yang kemudian dikhianati oleh Sri, dan sekarang sumpah itu telah membuktikan kesaktiannya.
Si Gagu menjatuhkan badannya ke balai-balai bambu. Suaranya terdengar keras gemeretak seolah mewakili keinginan si bisu itu untuk menembus waktu dan ruang agar berkumpul bersama sahabatnya yang telah pergi. ***
|
|