Oleh Jasso Winarto
Pengamat Pasar Modal
dari Sigma Research Institute Inc.
" />
 Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Bisnis 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
TRANSAKSI EFEK
Tekanan Jual, Hempaskan IHSG
OTORITAS PERBANKAN
BI Akan Naikkan Batasan GWM Primer
REGULASI KEUANGAN
OJK Perlu Mendapat Kawalan Masyarakat
Kilas Bisnis
Lebaran, Tak Ada Pemadaman Listrik
EDUKASI PERTAMINA
ARUS MUDIK

Lonjakan Konsumsi BBM Telah Diantisipasi
REGULASI
Puskepi Usulkan PP Penghematan Energi
PLTU 10.000 MW
7 Perusahaan Akan Pasok Batu Bara
NILAI TUKAR
Apresiasi Rupiah Capai 4,13 Persen
BANK MANDIRI
Saham Rights Issue Ditawarkan ke Asing
KINERJA EMITEN
Konsorsium WIKA Tangani Pabrik Chemical
Kilas Bisnis
Telkom Bantu Pondok Pesantren
ENERGI
AKR Ikut Distribusikan
BBM Bersubsidi 2011
arsip  
Harga IPO HE Rp 5.000 per Unit
Harga IPO Indofood CBP Rp 4.300-5.500
Kinerja Adaro Turun
Laba Bersih BWPT Turun
Sierad Bangun Commercial Farm
4 Sekuritas Kena Sanksi
arsip  
PASCA LEBARAN
Arus Balik dari Solo Mulai Meningkat
arsip  
 
 
ANALISIS PASAR MODAL
Kinerja Saham Perbankan Melonjak
Oleh Jasso Winarto
Pengamat Pasar Modal
dari Sigma Research Institute Inc.


Selasa, 9 Mei 2006
Meski masalah kredit macet (NPL) masih menjadi momok dunia perbankan, kinerja saham perbankan memasuki kuartal kedua tahun ini mulai bergairah. Sebagian investor asing sudah mengakumulasi kembali saham-saham perbankan, terutama saham bank lapis atas yang memiliki aset besar dan prospektif. Harga saham perbankan pun melonjak. Rata-rata nilai keuntungan yang disumbangkan saham perbankan ini sudah lebih dari 13 persen.

Sejak awal tahun hingga transaksi 5 Mei 2006, tercatat saham Bank Niaga membukukan kenaikan tertinggi sebesar 63,86 persen dari Rp 415 menjadi Rp 680 per saham. Peringkat kedua ditempati saham Bank BRI, naik 42,50 persen dari Rp 3.025 menjadi Rp 4.275 per saham. Berikutnya saham Bank Mandiri naik 33,23 persen dari Rp 1.670 menjadi Rp 2.225 per saham. Saham Bank BII naik 25,81 persen dari Rp 155 menjadi Rp 190 per saham. Gairah transaksi pada saham perbankan terjadi setelah pemerintah berencana merevisi Peraturan Pemerintah (PP) No 14/2005 tentang Penyelesaian Piutang Negara yang akan memisahkan aset bank dari kekayaan negara.

Ini berarti, bank-bank BUMN kelak dapat melakukan hapus buku dan hapus tagih NPL yang sebelumnya hanya dapat dilakukan setelah terlebih dulu mendapatkan persetujuan pemerintah.

Revisi PP No 14/2005 diharapkan dapat diselesaikan Mei 2006 dan selanjutnya diusulkan ke Sekretariat Negara untuk disahkan menjadi undang-undang. Ini diharapkan menumbuhkan kesetaraan antara bank-bank BUMN dengan bank swasta, sehingga mereka lebih leluasa mengucurkan kredit.

Untuk menjembatani soal ini, aturan yang digunakan adalah revisi PP No 14/2005, termasuk peraturan Menteri Keuangan yang menjadi pelaksana PP itu. Kelak, tidak semua aset bank-bank BUMN menjadi kekayaan negara, tapi akan dipisahkan sebesar saham pemerintah di bank tersebut. Ini tentu akan kembali menyehatkan kinerja perbankan nasional yang tidak lagi terbebani oleh tingginya NPL yang bisa mengurangi laba.

Perburuan investor terhadap saham perbankan juga sebagai antisipasi terhadap rencana otoritas moneter menurunkan bunga rujukan (BI Rate). Sinyal penurunan suku bunga ini akan mendorong dunia perbankan menurunkan suku bunga kredit. Bunga kredit murah kelak ditanggapi positif oleh dunia usaha yang akan kembali meminjam uang dari perbankan. Bagaimanapun, kucuran kredit perbankan secara langsung akan membangkitkan kembali sektor rill yang selama ini cenderung stagnan atau jalan di tempat. Perlu diingat bahwa di saat suku bunga tinggi, perbankan nasional berlomba-lomba menaruh dana ada instrumen Sertifkat Bank Indonesia (SBI), Surat Utang Negara (SUN), dan obligasi yang dinilai akan memberi yield (imbal hasil keuntungan) tinggi. Tanpa risiko kredit macet, bank sudah bisa menikmati keuntungan dari bunga yang diperolehnya. Di sini terlihat bank yang seharusnya sebagai intermediasi bagi dunia usaha tidak berfungsi optimal. Jika kondisi ini dibiarkan, fundamental ekonomi nasional jadi rapuh. Sebab perbaikan indikator ekonomi belum didukung oleh faktor fundamental ekonomi nasional yang kuat.

Apalagi kita tahu bahwa peningkatan rasio kredit bermasalah di sektor perbankan bukan disebabkan oleh pemberlakukan Paket Januari 2006 (PBI No 7/2/PBI/2005). Berdasarkan hasil penelitian pascapenerapan PBI, terbukti kenaikan tingkat NPL lebih disebabkan oleh kondisi kalangan debitur.

Hasil penelitian itu menyebutkan, faktor penyebab tingginya NPL adalah menurunnya kemampuan keuangan debitur (40 persen), keterlambatan pembayaran (15 persen), masalah pembayaran lain (17,5 persen), serta buruknya prospek usaha debitur (7,5 persen). Adapun penurunan kualitas karena penerapan kebijakan BI hanya memberikan kontribusi 9 persen terhadap peningkatan NPL.

Data BI menyebutkan, NPL gross dunia perbankan meningkat dari 5,8 persen pada tahun 2004 menjadi 8,3 persen pada tahun 2005. Hal yang sama terjadi pada NPL neto yang semula sebesar 1,7 persen meningkat menjadi 4,8 persen. Penyebab memburuknya kredit perbankan ini disebabkan oleh kualitas kredit korporasi, program restrukturisasi kredit yang belum benar-benar berhasil, serta belum baiknya iklim usaha dan investasi.

Sebelumnya pelaku pasar merasa pesimis melihat perkembangan kinerja keuangan perbankan setelah BI memberlakukan peraturan PBI No 7/ 2/PBI/2005 yang berakibat jatuhnya kinerja keuangan Bank Mandiri. Per 31 Desember 2005, bank yang memliki total aset Rp 254 triliun itu, rasio NPL-nya melonjak dari satu persen menjadi 16 persen. Kondisi tersebut membuat laba Bank Mandiri melorot dari Rp 5,26 trilliun menjadi Rp 603,37 miliar.

Dengan adanya kebijakan pemerintah itu diharapkan Bank Mandiri Tbk meraih laba bersih sekitar Rp 2,077 triliun tahun ini atau tumbuh lebih dari dua kali lipat dibanding tahun 2005. Pendapatan bunga bersih Bank Mandiri tahun ini diprediksi mencapai Rp 8,794 triliun dibanding tahun 2005 sebesar Rp 8,754 triliun.

Namun demikian, total pendapatan operasional diperkirakan turun menjadi tinggal Rp 11,070 triliun pada 2006 dibanding tahun sebelumnya Rp 11,533 triliun. Dengan demikian, katanya, laba operasional Bank Mandiri tahun ini bisa mencapai Rp 2,928 triliun dibanding tahun sebelumnya Rp 1,188 triliun. Selain itu, total asset BMRI diperkirakan mencapai Rp 277 triliun tahun ini.

Begitu pula dengan Bank BNI. NPL yang melonjak dari 1,0 persen menjadi 8,0 persen membuat laba bersih Bank BNI tergerus dari Rp 3,09 triliun menjadi Rp 2,296 triliun.

* * *

Dilihat dari kinerja tahun 2005, rata-rata pencapaian kinerja perbankan memang mengalami penurunan karena tingkat suku bunga yang lebih tinggi dari periode lalu. Namun bila dilihat dari kuartalan tahun 2006, kinerja sektor perbankan mulai mengalami kenaikan. Saya memperkirakan kinerja semester kedua tahun ini akan semakin meningkat dengan ekspektasi penurunan suku bunga.

Tingginya ekspektasi investor menandakan bahwa kinerja perbankan tahun ini bisa membaik kalau otoritas moneter mampu menjaga kondisi kestabilan pasar dan menerapkan peraturan yang bisa mengurangi NPL perbankan nasional.

Saat ini para bankir terus mendesak BI Rate segera diturunkan sehingga dapat meningkatkan ekspansi kredit. Pertumbuhan perbankan triwulan pertama 2006 terlihat membaik. Semua bank diperkirakan menunjukkan kinerja yang sangat bagus pada pertengahan 2006 seiring membaiknya ekonomi nasional.***

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i