Puisi Oleh Jusuf AN
Minggu, 28 Mei 2006
Pentas Mini
I.
Kami arak keranda negeri setengah mati
siang-siang itu, keringat buncah
kacaukan pupur yang mengubur
wajah-wajah gelisah
II.
Aku lantangkan sajak-sajak kesaksian luka negeriku
agar kau mendengar
dan tersadar dari tidur panjang
kosong impian
Siapa larang turun jalan?
III.
Begitulah,.
pentas itu pun usai
langit hujan abu
kematian
sajak yang aku lantangkan
Di Mana Pagi
Sungguh riuh ini hati
bermacam angan minta dikeloni
sejak subuh hingga subuh lagi
aku lari-berlari
Kirimi aku api
biar aku telan cahayanya
kutampung asap
dalam tabung dosa
akan aku minum embunnya
Deraskan kali kalimatku
dan terangi mata hijau ini
agar panen ladang kata
kian ruah bagi negeri
juga diri
Aku lari-berlari
sejak subuh hingga subuh lagi
matahari sebar gulali campur duri
bulan sembunyi
mengantuk jelang pagi
adakah pagi?
Sajakku, Sajakmu
Sekuntum sunyi mekar
pada dua belah matamu yang senja
sebelum kau rampungkan sebuah sajak
tentang stasiun renta di ujung kota
"Gerbong kereta kita masih tergagap
diterowongan gelap,"
katamu. Terjulur pilinan tambang dari dadamu
berusaha menariknya
"Bukankah ia masih melaju?"
maka biarlah!
duduklah santai pada koridor
stasiun pertama menunggunya
akan kurampungkan sajakku untukmu
dan kaurampungkan sajakmu untuknya
Menunggu, ah menunggu
seumur hidup kita menunggu
Lingkaran di Dadaku
Di dadaku
ada banyak jalan melingkar
tak tentu hari aku tapaki
searah jarum waktu, selalu
kudapati serak mimpi
tusuk duri
setan tertawa
Ketika pagi terjaga
kubasuh ketiak hari
kuramu pagi dengan gerusan
matahari
Negeri Setengah Mati
Lihatlah
deret kubur di pulau ujung
air-mata air-mata pengungsi
kering keringat petani
dasi pencuri bernyanyi
Ciumlah
wangi kenanga lukanya
pesing kencing pemabuk harta
darah sisa sara siasia
Dengarlah
gelegar petir riuh angin
guruh lagu burung hantu
letup pistol memburu, diburu
teriak-derap-pyar, pecahan kaca
Negeri ini setengah mati
sementara kau, senang hati menjadi saksi
Waktu: Tak Tik Tuk
Waktu: tak tik tuk
merutuk
tak juga lelap mataku
sisa hujan masih menitik
bunyinya seperti ketika aku
memberi titik kata tik-tik.
Sempurnalah sunyi malam
jam 23 lewan sembilan
Waktu: tak tik tuk tok-tok
Siapa mengetok hati yang terpanggang oleh lengang
Hingga mataku enggan memejam
jam-jam-jam
jiwaku bagai terhujam
Waktu: tak tik-tuk lap
Ada yang lenyap dan kembali datang
sunyi senyap dan batang-batang sepi, bergantian
hatiku kian matang terpangga
Tentang Penulis
Jusuf AN lahir di Wonosobo, 2 Mei 1984. Puisi, cerpen dan esai-esainya dimuat di berbagai media massa. Cerpennya, Sumur tampil sebagai juara I lomba penulisan cerpen BEM-Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kini aktif di Sanggar Jepit dan beberapa komunitas pecinta seni sastra.
|
|