Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Puisi 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
Puisi Puisi
Eka Fendri Putra
Puisi Puisi
Noor Sam
Puisi-Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Noor Amanah
Puisi-puisi
Noorsam
Puisi Puisi
Faidil Akbar
arsip  
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
arsip  
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
Puisi
Oleh Jusuf AN


Minggu, 28 Mei 2006

          Pentas Mini

I.
Kami arak keranda negeri setengah mati
siang-siang itu, keringat buncah
kacaukan pupur yang mengubur
wajah-wajah gelisah

II.
Aku lantangkan sajak-sajak kesaksian luka negeriku
agar kau mendengar
dan tersadar dari tidur panjang 
kosong impian

Siapa larang turun jalan?

III.
Begitulah,.
pentas itu pun usai
langit hujan abu 
kematian
sajak yang aku lantangkan


          Di Mana Pagi

Sungguh riuh ini hati
bermacam angan minta dikeloni
sejak subuh hingga subuh lagi 
aku lari-berlari

Kirimi aku api
biar aku telan cahayanya
kutampung asap 
dalam tabung dosa
akan aku minum embunnya

Deraskan kali kalimatku 
dan terangi mata hijau ini
agar panen ladang kata
kian ruah bagi negeri
juga diri

Aku lari-berlari
sejak subuh hingga subuh lagi
matahari sebar gulali campur duri
bulan sembunyi
mengantuk jelang pagi

adakah pagi?


          Sajakku, Sajakmu

Sekuntum sunyi mekar
pada dua belah matamu yang senja
sebelum kau rampungkan sebuah sajak
tentang stasiun renta di ujung kota

"Gerbong kereta kita masih tergagap 
diterowongan gelap,"
katamu. Terjulur pilinan tambang dari dadamu
berusaha menariknya

"Bukankah ia masih melaju?" 
maka biarlah!
duduklah santai pada koridor 
stasiun pertama menunggunya
akan kurampungkan sajakku untukmu 
dan kaurampungkan sajakmu untuknya

Menunggu, ah menunggu
seumur hidup kita menunggu


          Lingkaran di Dadaku

Di dadaku
ada banyak jalan melingkar
tak tentu hari aku tapaki
searah jarum waktu, selalu
kudapati serak mimpi 
tusuk duri

setan tertawa

Ketika pagi terjaga
kubasuh ketiak hari
kuramu pagi dengan gerusan
matahari


          Negeri Setengah Mati

Lihatlah
deret kubur di pulau ujung
air-mata air-mata pengungsi
kering keringat petani
dasi pencuri bernyanyi

Ciumlah
wangi kenanga lukanya
pesing kencing pemabuk harta
darah sisa sara siasia
Dengarlah
gelegar petir riuh angin
guruh lagu burung hantu
letup pistol memburu, diburu
teriak-derap-pyar, pecahan kaca

Negeri ini setengah mati
sementara kau, senang hati menjadi saksi


          Waktu: Tak Tik Tuk

Waktu: tak tik tuk 
merutuk
tak juga lelap mataku 
sisa hujan masih menitik
bunyinya seperti ketika aku
memberi titik kata tik-tik.
Sempurnalah sunyi malam
jam 23 lewan sembilan

Waktu: tak tik tuk tok-tok
Siapa mengetok hati yang terpanggang oleh lengang
Hingga mataku enggan memejam
jam-jam-jam
jiwaku bagai terhujam

Waktu: tak tik-tuk lap
Ada yang lenyap dan kembali datang
sunyi senyap dan batang-batang sepi, bergantian
hatiku kian matang terpangga
Tentang Penulis
Jusuf AN
lahir di Wonosobo, 2 Mei 1984. Puisi, cerpen dan esai-esainya dimuat di berbagai media massa. Cerpennya, Sumur tampil sebagai juara I lomba penulisan cerpen BEM-Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kini aktif di Sanggar Jepit dan beberapa komunitas pecinta seni sastra.

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i