Berkudaku Sayang, Atletik Ditendang Oleh: Wem Fauzi
Senin, 13 November 2006
Setiap persiapan menjelang pelaksanaan ajang multi event antar bangsa seperti SEA Games dan Asian Games, masalah penetapan keikutsertaan atlet dan cabang olahraga sering menjadi masalah yang mengggangu konsentrasi dan persiapan kontingen.
Untuk pelatnas Asian Games 2006 Qatar, berbagai kriteria ditetapkan berikut dengan perangkat pendukung untuk memastikan layak tidaknya cabang tersebut diikutsertakan, dengan janji bahwa ini akan berjalan sesuai target dan pencapaian.
KONI Pusat sebagai penanggungjawab pelatnas dan Kantor Menpora membuat tim monitoring yang bertugas memastikan konsistensi program serta dengan keputusan yang telah dibuat oleh masing-masing cabang.
Awalnya semua berjalan sesuai harapan, dari laporan yang masuk bisa dilihat cabang yang memang ikut memperlihatkan perkembangan periode latihan masing-masing cabang.
Namun entah mengapa, selalu ada saja keputusan yang dianggap kontroversial yang mengiringi perjalanan persiapan tim yang berlaga untuk membela nama bangsa tersebut. Dimulai dari cabang sepakbola yang tak berprestasi apa-apa namun bisa berangkat karena biaya sendiri dan alasan lainnya yang sama sekali tidak terkait kepada pengembangan prestasi cabang itu sendiri.
Setelah sepakbola, putusan lain yang dinilai merusak keinginan untuk bertindak konsisten muncul setelah cabang berkuda bergabung dengan pelatnas. Berbagai argumen diutarakan untuk memberi pembenaran diikutsertakannya cabang ini. Alasan utamanya, sudah latihan serius mampu lolos empat besar dan yang terpenting biaya sendiri. Untuk itu, berkuda yang biaya pembelian hewan dan pengirimannya sangat mahal ini mendapat kunjungan khusus dari salah seorang direktur pelatnas saat berlatih di Australia. Bisa dipastikan keputusan untuk memasukkan cabang ini di Asian Games didasarkan pada hasil kunjungan tersebut.
Pada bagian lain, tim monitoring sama sekali tidak tahu bahwa cabang atletik yang pemusatan latihannya berlangsung di Salatiga, Jawa Tengah ikut serta dalam program pelatnas. Meski saat putusan akhir tim tersebut mengaku datang ke pemusatan latihan si atlet.
Akhirnya, berkuda tetap diikutsertakan meski secara prestasi berdasarkan patokan event terdahulu kedua cabang ini sama sekali tidak menjanjikan apa-apa kecuali tampil sebaik-baiknya.
Sementara atletik yang mempersiapkan pelari jarak 10 ribu meter Trianingsih yang masih muda dan mencetak sejumlah prestasi keiukutsertaannya dibatalkan karena dianggap tak bisa menyumbang medali. PB PASI mengatakan kans atlet ini tidak ada sama sekali meski berasal dari yang disebut strategis dan ibu segala olahraga.
Inkonsistensi dan ketidakjelasan dasar pencoretan atlet ini membuat KONI Pusat harus sibuk menjawab berbagai pertanyaan termasuk dari sang atlet. Ironisnya lagi dalam kasus pengiriman cabang berkuda, PB Pordasi mengaku sama sekali tidak tahu menahu dengan keikutsertaan tersebut. Yang terdaftar masuk pelatnas adalah satu perkumpulan klub berkuda asal Bandung dimana pemiliknya adalah salah satu atlet pelatnas cabang ini.
Berbagai pihak terkait seperti lepas tangan dan tak mau bertanggungjawab saat atlet ini mempertanyakan alasan pencoretan dirinya. Tim monitoring, PB PASI, kantor Menpora dan KONI Pusat saling lempar jawaban bahwa ini bukan hanya mereka yang memutuskan.
Sementara pihak Menpora Adhyaksa Dault dengan gagah dan tidak mencerminkan sikap seorang pembina mengatakan, kalau sang atlet tidak puas silahkan layangkan gugatan hukum, karena itu hak setiap warga negara.
Pada akhirnya keputusan tetap ditangan pengurus olahraga nasional dalam hal ini KONI Pusat dan Menpora, sementara masyarakat sebagai stake holder hanya bisa melihat perilaku pembina olahraga tersebut. Mereka lebih suka menimang berkuda sembari menendang atletik.***
|
|