PENJAJA SEKS PRIA Mereka yang Diburu Wanita Berduit
Sabtu, 13 Januari 2007
Dunia gigolo makin menjadi industri meyakinkan. Mereka ada yang freelance, atau yang diatur oleh seorang koordinator atau sindikat. Ini tak lepas adanya permintaan.
Cara mereka berpromosi pun juga semakin berani. Mulai dari iklan di koran sampai melakukan peragaan busana.
Profesi ini rupanya dianggap sebagai karier, buktinya ada yang menjadi pemain sinetron dan model.
Petang itu masih menyisakan panas siang. Linda (bukan nama sebenarnya), melangkah menapaki lapangan parkir menuju pintu mal plaza di Jakarta. Setelah melewati pemeriksaan satpam yang superketat, ia langsung disambut oleh udara sejuk dari pendingin yang mengusir gerah udara sore itu. Setapak demi setapak, Linda membawa langkahnya menuju sebuah kafe berbau nama Inggris klasik yang berada di lantai dasar plaza tersebut.
Saat itu, Linda sudah janjian kencan dengan empat sahabatnya di kafe yang memang bernuansa Inggris itu. Tangannya kemudian melambai pada tiga wanita yang duduk di tempat agak belakang, menjauh dari keramaian tamu yang lain.
Reina dan Dani (keduanya juga bukan nama sebenarnya) adalah dua sahabatnya sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Sedangkan sahabat satunya lagi, Agustina (bukan nama sebenarnya), dikenalnya kala masih kuliah di fakultas ekonomi sebuah universitas swasta di Depok. Namun bisa langsung cocok dengan dua sahabatnya yang lain.
Kesibukan sebagai wanita pekerja (mereka maunya disebut seperti itu), membuat frekuensi pertemuan agak berkurang. Linda dan rekan-rekannya membuat jadwal paling tidak sebulan sekali bertemu, untuk sekadar curhat atau bergosip tentang berbagai hal. Keceriaan seperti ini membuat mereka lebih bergairah dan bisa kembali ke suami dan anak-anaknya dengan kondisijauh lebih segar.
Tak jarang mereka melirik, pria-pria yang menjadi tamu dalam kafe itu. Lalu memberi komentar yang menjurus ke perbincangan hedonisme, dikemas dalam guyonan. Apalagi bila mereka melirik pria-pria muda di bawah usia mereka, ulah keempat wanita matang ini makin menjadi-jadi.
Terkadang mereka mampu membuat pria-pria muda itu menjadi malu karena dipelototi oleh mereka. Keempat wanita ini memiliki kelebihan-kelebihan ragawi yang hingga kini masih ada yang terlihat.
Linda berusia 39 tahun, wajahnya oval, dengan alis tebal. Reina, meski usianya sudah kepala 4, namun rambutnya yang tebal dan terkenal sejak gadis, masih bertahan. Meski ada beberapa helai rambut yang dibiarkan memutih, tapi itu membuat pesona dirinya. Dani, 39 tahun, memiliki hidung bangir yang menggemaskan. Dan Agustina, memiliki bentuk tubuh yang langsing seperti ia masih muda.
Bahkan sekarang, apabila ia dilihat dari belakang, pemilik bodi seksi ini, bisa disangka berusia 25 tahunan. Pesona ragawi yang masih tersisa itulah agaknya yang membuat birahi mereka terawat, sebagaimana ia merawat kelebihan bodi mereka.
Sebenarnya keempat wanita ini masih memiliki suami. Namun keempatnya memiliki hubungan yang tak mesra lagi dengan suami masing-masing, dengan berbagai alasan.
"Coba lihat cowok yang pakai kemeja biru, lengan pendek!" kata Linda pada tiga sahabatnya.
"Yang mana?" kata ketiganya sambil mencari-cari.
"Itu yang duduk di baris kedua dari pintu masuk."
"Ehm...boleh juga," celetuk Reina.
"Badannya bagus, mukanya lumayan, kumisnya agak dibiarkan tumbuh liar. Bokongnya bulat!" kata Agustina sambil cekikikan.
"Sayang kulitnya agak gelap, ya?" sambar Dani.
"Cokelat maksud lu! Itu mah memang sukaannya Linda. Dia paling suka cowok yang kulitnya kayak begitu, terus badannya padat berisi," imbuh Reina.
"Elu aja yang nggak tahu. Cowok model kayak begitu legit!" kata Linda.
"Sok tau lu! Elu kan tahunya cuman laki lu doang!" sergah Dani.
"Gue kan pernah ken...," Linda tak jadi meneruskan perkataannya.
"Nah...elu selingkuh ya?" kejar Agus.
"Bukan, bukan selingkuh. Gue pernah kencan sama cowok bayaran," kata Linda keceplosan.
"Maksud lu gigolo?" tanya Reina.
"Ya!," kata Linda pelan, hampir tak terdengar.
"Nggak usah malu, gue juga pernah..." kata Agustina lirih.
"Gila lu berdua ye!"
"Kalau gue mungkin beda sama Linda. Gue pakai jasa pijat pria yang banyak diiklankan di koran atau di internet. Tadinya sih gue cuman mau pijat, tapi jadi keterusan...ha..ha..ha.." kata Agustina dengan wajah merah.
Pengalaman Agustina itu merupakan bukti bahwa keberadaan panti pijat pria semakin banyak. Eksistensinya kokoh, namun keberadaannya hanya terendus selintas saja. Seakan kehadiran panti pijat pria dan tentu saja gigolo pria lebih tertutupi dengan sepak terjang pemijat wanita yang banyak bertebaran.
Jika urusannya sudah menyinggung pemenuhan kebutuhan biologis, seks kian dianggap permisif oleh sebagian orang. Bahkan pelakunya, baik yang menjajakan maupun pelanggan, berasal dari usia menengah alias lebih dari 40-an tahun.
Menurut John (nama samaran), seorang gigolo yang telah malang melintang lebih dari 3 tahun di dunia kelam ini, para wanita pemburu syahwat pria-pria muda ini umumnya berusia paruh baya, mulai dari 35 tahun hingga 45 tahun.
"Kebanyakan sudah tante-tante, tapi duitnya berlebihan. Dan kami melayani tidak terbatas dengan usia pelanggan," kata John. Soal harga, John mengungkapkan sangat tergantung dari latar belakang profesi sang gigolo.
"Kalau mereka dari pemain sinetron, harganya relatif murah. Untuk shorttime tiga jam berkisar antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta," katanya. (berbagai sumber/Adi)
|
|