Selasa, 9 Februari 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Liputan Khusus 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
TEROBOSAN PERTAMINA
Menggenjot Kinerja Operasi,
Percepat Transformasi
MENGURANGI KETERGANTUNGAN MINYAK
Memperkuat Ketahanan Energi Nasional
PERTAMINA NON LISTED PUBLIC COMPANY
Demi Keterbukaan dan Melayani Bangsa
Asmirandah
Nanti Juga Berjilbab
Perahu Bagandung
Tradisi Masyarakat Melayu Riau
Menyambut Idul Fitri
Lagu Religi Matta Band
Bukan untuk Komersial
Gita Gutawa
Sedih kalau Gagal Berpuasa
Novia Kolopaking
Budayakan Media Dakwah
KHAS RAMADHAN
Kirab Lampu Ting
Menyambut Lailatul Qadar
ALBUM RELIGI
Kelompok Gigi Lebih Diunggulkan
Jajang C Noor
Sakit, Tetap Puasa
Zaskia Adya Mecca
Menikah di Ujung Ramadhan
arsip  
 
 
JELANG RAPAT KONSULTASI NASIONAL
PARTAI GOLKAR 2007


Jumat, 13 April 2007
KATA MEREKA

Pengamat Politik LIPI
Dr Indria Samego

Posisi Partai Golkar dalam pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla (SBY-JK) sangat dilematis. Sebagai partai pendukung pemerintah, Partai Golkar tidak bisa mengambil poin positif. Padahal, dibanding partai-partai lain, apalagi Partai Demokrat, Partai Golkar jauh lebih berpengalaman dan lebih berkualitas.

Jika pemerintahan ini berhasil, Partai Golkar tidak mendapatkan poin apapun, karena yang paling memungkinkan untuk mengklaim keberhasilan tersebut adalah Presiden SBY sendiri dan Partai Demokrat. Sementara jika terjadi kekeliruan dalam pemerintahan, Partai Golkar akan selalu dikait-kaitkan.

Ke depan, sebaiknya Partai Golkar menjadi pioner dalam setiap pengambilan keputusan dan pengembangan isu-isu politik di tengah masyarakat. Partai Golkar juga harus berani mengambil inisiatif di tengah kebekuan kebijakan dari pemerintah yang mungkin menghadapi kendala tekanan politik. Dengan demikian, rakyat akan bisa lebih terbantu dan merasakan manfaat dari keberadaan Partai Golkar dalam menjalankan fungsi akomodasi aspirasi rakyat. (Kartoyo DS)


Direktur Eksekutif
The Indonesian Institute

Anies Baswedan

Menjelang dua setengah tahun sisa pemerintahan Presiden SBY dan Wapres JK, Partai Golkar seharusnya bisa lebih agresif dalam menentukan arah pemerintahan. Posisi Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla sebagai wapres, seharusnya tidak menjadi penghalang bagi Partai Golkar untuk menunjukkan eksistensinya sebagai partai yang kritis namun objektif dalam menyoroti berbagai kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat.

Elite Partai Golkar jangan cuma bersikap defensif, bertahan, terhadap berbagai kritikan dan kecaman terhadap kebijakan pemerintah. Mereka bisa lebih agresif dan bila perlu berada di depan dalam membela kebijakan pemerintah yang tidak populer tapi diperlukan, namun bisa juga di depan membela rakyat yang tertindas atas kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan. (Kartoyo DS)


Pengamat politik
M Qodari

Partai Golkar tetap bisa populer di mata masyarakat asalkan Ketua Umum DPP Partai Golkar yang juga Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak kalah populer pula dengan Presiden SBY.

Saya menilai personal touch Jusuf Kalla, masih kurang. Golkar juga harus memperkuat kinerja di lapangan, yang ditonjolkan adalah institusi partainya. Dengan demikian, hal itu akan memberikan peluang suara bagi Golkar.

Menurut saya, Partai Golkar memiliki peluang yang besar dalam mendulang suara pada pemilu mendatang. Golkar sudah memiliki jam terbang yang tinggi, sehingga memiliki jaringan yang lebih luas serta memiliki SDM yang andal.

Jusuf Kalla selaku Ketua Umum Partai Golkar juga harus pro-aktif untuk mengunjungi kader-kadernya yang berada di daerah. Sebab, daerah menilai bahwa perhatian elite Partai Golkar terhadap kadernya di daerah masih sangat minim. (Novi)


Artis dan Kader Partai Golkar
Nurul Arifin

Kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla selama ini sudah berjalan kompak dan saling mengisi. Latar belakang Pak Jusuf Kalla dari dunia bisnis sangat membantu. Dalam membuat keputusan, Pak Jusuf Kalla tidak pernah membuang-buang waktu. Sementara Bapak Susilo Bambang Yudhoyono mewakili figur sebagai negarawan yang diperlukan dalam mempersatukan masyarakat.

Karena itu, bagi saya, Pak SBY-JK itu pasangan yang agresif dan cool. Adanya perbedaan latar belakang di keduanya justru membuat mereka saling mengisi kekurangan masing-masing. Sangat disayangkan, kalau ada pihak-pihak yang berusaha untuk memecah-belah mereka.

Partai Golkar sekarang tidak bisa disamakan lagi dengan Golkar di masa lalu. Golkar sudah jauh berbeda, kader-kadernya banyak yang muda-muda, berpendidikan, dan mereka tidak mencari penghasilan dari partai.

Masyarakat mungkin harus diberi pengertian kalau ada pejabat yang melakukan kesalahan dan kebetulan kader Golkar, itu tidak bisa disamakan dengan kesalahan Partai Golkar. Semua tindakan individu jangan langsung ditimpakan pertanggungjawabannya kepada partai. Biarkan mereka sendiri yang mempertanggungjawabkan.

Saya senang menjadi kader Partai Golkar. Bagi saya, partai ini sangat potensial untuk terus menjadi partai besar. Mengapa? Karena beda dengan partai lain, Golkar tidak mengandalkan pada karisma individu. Siapa pun yang terpilih sebagai ketua umum partai, semua kader Partai Golkar mematuhinya.

Tidak seperti yang lain, pemilihan ketua umum partai sering diikuti perpecahan. Saya yakin pada Pemilu 2009, Golkar bisa lebih besar lagi dan rakyat pemilih pun akan lebih banyak yang mendukung dan memilih Golkar. (Dwita)

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i