| |  | | | | RAPAT KONSULTASI NASIONAL PARTAI GOLKAR 2007
Sabtu, 14 April 2007
APA KATA MEREKA Pengamat Politik UI
Arbi Sanit
Masih ada waktu dua setengah tahun bagi Partai Golkar untuk bersiap-siap menghadapi Pemilu 2009. Karena itu, partai berlambang beringin ini jangan terus terlena dengan euforia wacana yang marak disampaikan. Elite Partai Golkar, terutama yang duduk di pemerintahan, tak perlu banyak slogan, banyak bicara atau banyak wacana. Yang penting sekarang, kerja, kerja, dan kerja.
Slogan dan wacana itu tidak ada artinya bagi rakyat. Yang dibutuhkan rakyat adalah tindakan nyata. Bila ingin mempertahankan kemenangan, Partai Golkar harus menghapuskan semua kegiatan seremonial dan formal yang tidak bermanfaat dan hanya menghambur-hamburkan uang.
Pertemuan konsolidasi itu penting terutama dalam menyatukan persepsi di antara para pengurus di tingkat pusat maupun daerah. Tapi itu tidak ada artinya kalau tidak diikuti dengan aksi nyata seperti dengan memperbanyak turun ke lapangan. Elite Partai Golkar harus memperbanyak mendengar, menampung, membantu, dan mengatasi problematika rakyat jelata yang kini sedang ditimpa kesusahan.
Menurut saya, Partai Golkar tidak perlu terjebak pada pilihan reposisi apakah tetap sebagai partai pendukung pemerintah atau tidak. Itu bukan persoalan utama. Yang penting adalah membuat kinerja pemerintah menjadi baik sehingga citra partai juga tidak tergerogoti.
Maksimalisasi karya nyata dan perbaikan kinerja adalah kata kunci untuk memperbaiki performance Partai Golkar. (Yudhiarma)
Mahasiswa Terbaik Karsinal Angkatan II Partai Golkar 2007
Lieke Puspasari
Sebagai partai besar dan berpengalaman yang pernah mengalami masa-masa dikritik oleh masyarakat di era reformasi, sudah saatnya Partai Golkar harus membuktikan dekat dengan rakyat. Bukan saja para pemimpinnya, program-programnya juga harus bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Jargon "bertindak cepat untuk rakyat" sudah harus menjadi simbol perjuangan bagi Partai Golkar ke depan. Saat ini publik sedikitnya sudah bisa melupakan masa lalu Partai Golkar. Ini ditandai dengan masih dipercayainya Partai Golkar sebagai saluran aspirasi publik yang dapat diandalkan, di mana Fraksi Partai Golkar sebagai kepanjangan tangan dari partai memiliki jumlah anggota legislatif yang paling banyak di DPR.
Meski demikian, saya berharap Partai Golkar lebih memberikan kesempatan kepada kader-kader muda dalam pentas politik Indonesia. Ini tidak lain demi kemajuan regenerasi di Partai Golkar yang sangat terkenal solid di antara partai-partai politik yang ada di Indonesia.
Bagi kalangan mahasiswa, saya yakin Partai Golkar pasti menjadi alternatif untuk dipilih. Kelebihannya sebagai partai modern, terbuka dan paling terorganisasikan, tentunya menjadi magnet yang kuat untuk dipilih dalam pemilu mendatang. (M Kardeni)
Artis dan Kader Partai Golkar
Renny Djayusman
Partai Golkar harus mampu menunjukkan kekuatannya sebagai partai terkuat pendukung pemerintah. Itu artinya, Partai Golkar harus selektif menempatkan orang-orang berkualitas di pemerintahan.
"Jangan sampai terjadi, mentang-mentang partai terkuat yang mendukung pemerintah, tetapi SDM yang ditempatkan membantu Presiden dan Wakil Presiden malah bukan orang-orang berkualitas, tetapi orang-orang yang ditempatkan berdasarkan kedekatan dengan pimpinan Partai Golkar. Jadi, Golkar harus benar-benar selektif memilih kadernya yang ditugasi untuk menjalankan roda pemerintahan. Golkar punya banyak stok untuk itu.
Saat ini ada beberapa anggota kabinet yang kualitas kerjanya pantas dipertanyakan. Kepeduliannya kepada rakyat banyak juga yang rendah. Tetapi, tanpa perlu menyebut nama, anggota kabinet itu bukan kader Golkar. Kalau kader Golkar, alhamdulillah bagus semua. Kalau ada salah-salah kerjanya, itu kan biasa dalam pekerjaan, tidak selalu harus menghasilkan yang terbaik.
Partai Golkar juga harus lebih meningkatkan kepeduliannya kepada rakyat banyak yang terkena musibah seperti di lokasi lumpur panas Lapindo, korban gempa Yogyakarta, korban tsunami Aceh. Saya sudah lihat sendiri korban bencana di daerah itu telantar. Di Aceh misalnya, banyak korban yang dijanjikan rumah ternyata belum mendapatkan rumah dan masih tinggal di tenda pengungsian. Kader Golkar harus menuntaskan semua masalah itu. (Ami Herman) |
| |
|
|