Agria Swara IPB Bogor Sukses Manggung di Istana Ratu Elisabeth Hongaria
Jumat, 27 April 2007
Sukses "manggung" di mancanegara kembali di raih Agria Swara IPB Bogor, baru-baru ini. Setelah 14 April lalu menggembirakan banyak pecinta acapela di Budapest, pekan lalu kelompok musik paduan suara - yang semua personelnya para mahasiswa IPB - itu berhasil lagi menggemparkan penonton di Istana Seni Musik Budapest dengan menampilkan lagu-lagu rakyat dan ciptaan komponis-komponis dunia.
Sukses tersebut diukur dari melimpahnya jumlah penonton, termasuk di antaranya sejumlah petinggi di KBRI Hongaria. "Ini untuk pertama kali diraih kelompok musi paduan suara dari Indonesia berhasil mengguncang Istana Ratu Elisabeth Elisabeth di Godollo, sebuah kota ternama, 30 menit perjalanan mobil dari Budapest," komentar Ingan Malem, Sekretaris KBRI Hongaria di Budapest kepada Suara Karya semalam.
"Sambutan gemuruh hadirin yang selalu mengikuti setiap nomor lagu yang ditampilkan mahasiswa-mahasiswi IPB Bogor itu nampak bagaikan akan memecahkan kaca-kaca istana yang megah itu," sambung Ingan Malem.
Penampilan Agria Swara di Godollo merupakan kerjasama KBRI Budapest dengan walikota Godollo, Dr. Gyorgy Gemesi yang sangat popular di mata masyarakatnya karena kepeduliannya yang sngat besar terhadap kegiatan seni dan budaya.
Dr. Gyorgy Gemesi yang telah menjadi walikota sejak tahun 1990 adalah orang yang bekerja keras merehabilitasi Istana Elisabeth peninggalan Imperium Austria-Hongaria hingga dapat difungsikan sebagai museum dan pusat budaya bertaraf internasional.
Di istana itu, yang merupakan hadiah perkawinan Kaisar Frans Joseph dengan Ratu Elisabeth, Agria Swara menampilkan 9 lagu tradisional Indonesia dengan kostum daerah dan gerak tari. Setiap lagu yang ditampilkan senantiasa disambut riuh oleh penonton termasuk walikota Gemesi, serta hampir 200 orang pecinta lagu dan seni Godollo. Dengan rasa tercengang, walikota Gemesi berkata bahwa penampilan spektakuler Agria Swara merupakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Karena itu Dr. Gemesi meminta lagi kerjasama Duta Besar RI Mangasi Sihombing untuk membawa lagi grup seni Indonesia ke Istana Godollo.
Keputusan pihak Godollo menampilkan Agria Swara di ruang utama Istana Elisabeth memang ikut memberi semangat dan percaya diri bagi Paduan Suara Agria Swara. Di istana ini sebenarnya terdapat sebuah teater khusus yang ratusan tahun silam dipakai untuk menghibur Kaisar Frans Joseph dan Ratu Elisabeth serta tamu-tamunya. Walikota Godollo telah memberikan yang terbaik untuk Paduan Suara Indonesia.
Memasuki istana Godollo, Paduan Suara Agria Swara memang tidak punya beban psikologis lagi bahkan dengan percaya diri yang kuat mengingat keberhasilannya menggondol 2 sertifikat emas dan 1 trophy ditambah1 predikat bagi konduktor Arvin Zeinullah sebagai outstanding artistic achievement.
Untuk tahun ini sebanyak 47 paduan suara dari 20 negara mengikuti kompetisi Paduan Suara Budapest. Untuk kategori Mixed Choirs, Agria Swara meraih peringkat ke-1 dan menyisihkan 6 grup lainnya. Lagu yang ditampilkan adalah A'un giro Sol karya Claudio Monteverdi, Justorum Animae karya Charles V. Stanford, dan Gloria karya Hyo Won Woo. Dalam kategori F/Folklore, tanggal 14 April 2007, Agria Swara meraih peringkat ke-2 dan memperoleh 1 buah sertifikat emas sebagai hasil penampilan 3 buah lagu, yaitu Tanduk Majang-Madura gubahan Soli Tigawahio, Soleram - Riau oleh Ivan Yohan dan karya Budi Susanto berjudul Gio Bintang- Madura.
Untuk acara puncak Grand Prix yang merupakan final bagi para juara kategori pada tanggal 14 April 2007, Agria Swara membawakan 2 nomor, masing-masing Sicchio vorei Marie gubahan Claudio Monteverdi, dan Janger, sebuah aransemen oleh Bambang Jusana dan Avip Priatna. Janger yang dibawakan Agria Swara telah menghentakkan gedung pertunjukan kelas dunia Budapest dengan tepukan dan teriakan riuh yang panjang.
Suara dari Agria benar-benar telah ikut menghidupkan kembali Istana Elisabeth yang masih akan terus dipugar karena sebagian gedung di kompleks ini masih terlantar karena mengalami kerusakan besar baik pada waktu pendudukan Nazi maupun pasukan Soviet pada era Perang Dingin. Sekalipun istana ini merupakan hadiah perkawinan Kaisar Frans Joseph dan Ratu Elisabeth yang dua-duanya adalah bangsawan Habsburg, namun orang Hongaria menyebutnya istana Elisabeth karena mereka mencintai dia dan sebagai ratu mencintai bangsa Hongaria.
Selama tinggal di istana, Ratu selalu berbicara dalam bahasa Hongaria dan menulis catatan hariannya dalam bahasa tersebut. Konon sang Ratu ikut berperan sehingga Frans Joseph yang telah duduk sebagai Kaisar Austria-Hongaria akhirnya pada tahun 1867 dimahkotai menjadi raja Hongaria yang berarti imperium Austria-Hongaria mengenal 2 entitas yang berkedudukan sama dalam satu imperium.
Yang membuat penampilan Agria Swara lebih indah di Istana Elisabeth, menurut Ingen Malem, adalah penampilannya bersama dengan Paduan Suara Godollo dalam membawakan lagu rakyat Hongaria yang berjudul Esti Dal, karya Zoltan Kodaly. Agria Swara hanya membutuhkan waktu 30 menit mempelajari lagu ini sehingga mereka dapat menguasainya seperti orang Hongaria sendiri. Ini pulalah yang membuat hadirin sangat terpukau. (Ami Herman)
|
|