Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Wisata 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
KESENIAN
Jangan Biarkan Angklung
Menjadi Aset Negara Lain
Zivanna Letisha
Promosikan Potensi
Seni Budaya Indonesia
Trail of Civilization 2009
Candi Borobudur Masih Diakui Unesco
Festival BIF 2009
Gemakan Kembali Keajaiban Borobudur
FESTIVAL FILM BANDUNG
Laskar Pelangi
Boyong 6 Penghargaan Terpuji
KEPARIWISATAAN BANTEN
Pemda Tak Berdaya, Jalan Dibiarkan Rusak Parah
PARIWISATA
Khasiat Sirop Pala Manado Luar Biasa
PARIWISATA
Bandung Ingin Dikenal
sebagai Kota Wisata
Firmansyah Rahim
Kuliner dan Hotel
Lancarkan Pertumbuhan Wisata
TOUR DE SINGKARAK
Bangkitkan Potensi Wisata Sumbar
Sapta Nirwandar
Fokuskan Promosi Wisata Dalam Negeri
Sapta Nirwandar
Legu Gam Diminati Wisman
arsip  
BENCANA ALAM
Banjir dan Longsor
Landa Aceh dan Jambi
Hotel Ibis, Surabaya
Tamu yang Berpuasa Leluasa
Menikmati Tujuh Takjil
GUGATAN BANJIR
Sidang Hadirkan
Pakar Bencana Alam
arsip  
 
 
Hotel Grand Mercure Yogyakarta
Pernah Menjadi Kantor Presiden Soekarno


Kamis, 28 Juni 2007
Anda ingin bernostalgia dengan suasana romantis? Tidak keliru kalau singgah di Hotel Grand Mercure Yogyakarta. Letaknya berada di pusat kota, hanya sekitar 300 meter arah timur Tugu Yogya. Hotel bintang 5 ini bangunannya sarat dengan nuansa kolonial. Mungkin karena daya tarik arsitektur bangunannya ini, maka tak sedikit turis asal Eropa berdatangan ke Hotel Grand Mercure di Jalan Jenderal Sudirman, Yogyakarta, tersebut.

Menurut General Manager Hotel Grand Mercure Yogyakarta, Franck Loison, turis asing yang banyak berkunjung di hotelnya berasal dari Belanda, Perancis, dan Jerman. Meski demikian, diakui, tamu hotel masih lebih banyak wisatawan lokal ketimbang turis asing.

Hotel 2 lantai yang tampak elegan ini menyediakan tempat nyaman di sore hari, dinamai l918 Terrace Lounge. Di sinilah tempat yang sangat ideal untuk bersantai sembari menikmati sajian minuman dan makanan ringan. Alunan musik dan gemericik air kolam pun menambah suasana romantisme.

Franck Loison kelahiran Perancis mengaku, sejak pertama menginjakkan kaki di Kota Yogya ia sudah merasa sangat berkesan. Ia sendiri baru menangani Hotel Grand Mercure awal Maret lalu. Hotel yang ditanganinya, termasuk hotel butik yang sangat elegan dan eksklusif.

"Pelayanan yang kami berikan bagi tamu hotel yang berkunjung di sini sangat personalized service. Itu yang menjadi kelebihan Grand Mercure Yogyakarta dibanding hotel lainnya, sehingga tamu akan merasa berada di rumahnya sendiri. Karena, semua karyawan hotel di sini rutin mendapatkan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas dalam pelayanan tamu," ucap Franck Loison yang didampingi public relation hotelnya, Wiwied A Wibisono, dalam perbincangan dengan Suara Karya.

Meski belum genap 4 bulan tinggal di Yogya, Franck Loison yang sebelumnya sebagai Resident Manager Hotel Sofitel Central Hua-Hin Resorts, Thailand, ini mengaku betah dengan suasana kota pariwisata yang cukup ramai ini. "Sewaktu kerja di Thailand, hotel yang saya tangani di sana letaknya jauh dari kehidupan kota. Kebetulan saya suka dengan keramaian di tengah kota," ucapnya.

Tempat Bung Karno Berkantor
Bangunan utama Hotel Grand Mercure Yogyakarta ini awalnya merupakan rumah milik seorang pengusaha asal Semarang yang dibangun pada l918. Pada l930, tempat ini pernah disewakan kepada seorang Belanda dan dijadikan hotel yang dinamai Splendid. Saat Jepang datang menguasai Indonesia pada tahun l942, hotel ini pun jatuh ke tangan Jepang dan diubah namanya menjadi Hotel Yamato. Pada tahun l945 Jepang menyerah, dan ibu kota Indonesia dipindahkan di Yogyakarta. Sejak itu kawasan hotel ini difungsikan sebagai rumah konsul China. Pada l951, bangunan ini kembali disewakan, kali ini kepada Direktur Pariwisata dan dinamai Hotel Merdeka.

Presiden pertama RI Ir Soekarno pernah pula berkantor di hotel ini. Nama Hotel Merdeka hanya bertahan sampai l987, karena kemudian dikembalikan ke pemilik aslinya, cucu Liem Djoen Hwat, yang bernama Sulaeman. Sulaeman merenovasi bangunan ini dan memfungsikan kembali sebagai hotel pada tahun l993 dengan nama Hotel Phoenix Heritage. Hotel Phoenix selanjutnya diambil alih oleh Accor Group pada 2003, dan dilakukan beberapa renovasi dengan penambahan jumlah kamar dan fasilitas hotel. Pada l4 Mei 2004, Hotel Grand Mercure Yogyakarta mulai beroperasi.

Hotel Grand Mercure Yogyakarta memang tampak mengesankan. Dalam hal pengamanan, tak perlu diragukan. Sebab, baru melangkah masuk kawasan ini sudah langsung disambut petugas sekuriti. Tujuannya tentu memberikan jaminan rasa aman bagi wisatawan yang bermalam di sini.

Kini hotel ini memiliki l44 kamar dan l0 suite room, semua kamar punya balkon, dilengkapi fasilitas modern seperti satelit televisi, IDD telepon, WiFi connection, tea/coffee making fasility, dan lainnya.

Hotel ini juga menyuguhkan hidangan eksklusif Asian Fusion di Paprika Restaurant yang berkonsep open kitchen. Pelayanan room service 24 jam akan Anda jumpai di sini. Di Vino Wine Bar juga disajikan hiburan malam dan berbagai minuman. Di bar ini akan terdengar dentingan piano yang lembut, menjadikan tempat ini cocok untuk melepas penat bagi pengunjung.

Pagi hari tamu hotel sudah disuguhi alunan irama gamelan mengiringi acara sarapan. Hotel ini menyuguhkan 60 persen menu makanan tradisional, 40 persen menu asing. "Tiap Jumat malam kami menjual makan malam secara prasmanan," ucap Franck Loison.

Pada Juli nanti selama 3 hari, hotel ini menjual program festival makanan ala Timur Tengah. Festival serupa ala makanan negara lain akan diadakan rutin tiap 3 bulan sekali.

Untuk menjaga kebugaran tubuh, hotel ini juga menyediakan fasilitas kolam renang, fitness center dan pelayanan spa treatment di My Spa. Untuk menambah kelengkapan layanan, hotel tersebut menyediakan 9 meeting room yang dapat menampung 6-600 peserta konvensi, dilengkapi peralatan modern, termasuk WiFi connection.

Tingkat hunian Hotel Grand Mercure Yogyakarta mencapai 65 persen di saat libur panjang nasional. Sedangkan di hari-hari besar, seperti Natal dan Tahun Baru, Valentine Day atau musim libur sekolah sebentar lagi, kamar hotel ini dipastikan penuh. Untuk hari-hari biasa, tamu ramai berdatangan pada akhir pekan. Sehingga pada hari Jumat dan Sabtu, hotel ini dipastikan tak pernah sepi dari pengunjung.

Hingga akhir September 2007, Hotel Grand Mercure Yogyakarta menjual tarif promosi. Tamu yang berniat menginap cukup membayar Rp 500 ribu/kamar/malam (di luar makan). Kalau tak yakin, tunjukkan koran Suara Karya yang memuat profil hotel ini. (B Sugiharto)

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i