Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Wisata 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
KESENIAN
Jangan Biarkan Angklung
Menjadi Aset Negara Lain
Zivanna Letisha
Promosikan Potensi
Seni Budaya Indonesia
Trail of Civilization 2009
Candi Borobudur Masih Diakui Unesco
Festival BIF 2009
Gemakan Kembali Keajaiban Borobudur
FESTIVAL FILM BANDUNG
Laskar Pelangi
Boyong 6 Penghargaan Terpuji
KEPARIWISATAAN BANTEN
Pemda Tak Berdaya, Jalan Dibiarkan Rusak Parah
PARIWISATA
Khasiat Sirop Pala Manado Luar Biasa
PARIWISATA
Bandung Ingin Dikenal
sebagai Kota Wisata
Firmansyah Rahim
Kuliner dan Hotel
Lancarkan Pertumbuhan Wisata
TOUR DE SINGKARAK
Bangkitkan Potensi Wisata Sumbar
Sapta Nirwandar
Fokuskan Promosi Wisata Dalam Negeri
Sapta Nirwandar
Legu Gam Diminati Wisman
arsip  
BENCANA ALAM
Banjir dan Longsor
Landa Aceh dan Jambi
Hotel Ibis, Surabaya
Tamu yang Berpuasa Leluasa
Menikmati Tujuh Takjil
GUGATAN BANJIR
Sidang Hadirkan
Pakar Bencana Alam
arsip  
 
 
RUU Kepariwisataan
Badan Promosi Wisata
Jangan Dikelola Birokrasi


Rabu, 18 Juli 2007
Potensi kepariwisataan Indonesia yang sangat beragam dan menarik bila dikelola secara profesional bisa menjadi andalan penghasil devisa negara.

"Oleh karena itu dibutuhkan Badan Pengelola Pariwisata Nasional (BPPN) dengan menempatkan orang-orang yang ahli sebagai pengelolanya. Kami juga menolak jika penanganan BPPN itu nantinya diserahkan kepada pihak birokrasi. Serahkan pengelolaan BPPN kepada swasta," ujar Iqbal Alan Abdullah, Ketua Indonesia Congress & Convention Association (INCCA), ketika berbincang dengan sejumlah wartawan di Jakarta, kemarin.

Pernyataan Iqbal itu disampaikan dalam rangka memberi masukan kepada DPR yang saat ini sedang menggodok Rancangan Undang Undang Kepariwisataan menjadi Undang Undang Kepariwisataan yang baru.

"Pernyataan saya ini juga merupakan kesepakatan beberapa pihak swasta yang selama ini berkecimpung sebagai pengelola industri kepariwisataan," ujar Iqbal. Dikatakan, pihak DPR yang menghendaki dalam pengelolaan potensi kepariwisataan Indonesia kedepan perlu Badan Promosi Pariwisata Nasional (sesuai draf pasal 44 bab IX) adalah ide yang cemerlang. "Tapi kami menolak jika Badan Promosi Pariwisata itu dilelola birokrasi. Kenapa menolak? Karena kami ingin birokrasi cukup mengelola Depbudpar sementara pengelolaan Badan Promosi Pariwisata oleh swasta penuh. Itu, semata-mata agar pihak swasta yang memiliki banyak tenaga ahli kepariwisataan termasuk dalam bidang promosi, kedepan bisa jadi mitra kerja Depbudpar," ujar Iqbal.

Menurut Iqbal, dalam mengelola potensi kepariwisataan melalui BPPN ke depan, DPR juga harus mengakomodasi suara-suara dewan pakar, akademisi dan pers. Suara mereka, kata Iqbal, harus diperhatikan, mengingat pandangan mereka selalu bening dan cemerlang untuk memajukan dan memasarkan potensi wisata Indonesia ke mancanegara. "Kami juga mengusulkan adanya penambahan tenaga pengelola BPPN. Jika DPR menentukan tenaga tersebut hanya 7 orang, maka kami dari swasta minta tenaga tersebut ditambah menjadi 11 orang, terdiri dari tenaga pengusaha 5 orang, pekerja 3 orang, dan dewan pakar 3 orang," lanjut Iqbal.

Sedangkan mengenai mekanisme pemilihan tenaga pengelola BPPN, Iqbal yang juga menjadi Pengurus Dewan Pariwisata Indonesia (Depari) serta Ketua Himpunan Golf Pariwisata Indonesia (HGPI) mengusulkan agar DPR tidak sembarang memilih, tetapi harus melibatkan asosiasi kepariwisataan. Melalui rapat pleno yang dilakukan asosiasi nantinya dapat diharapkan hasil yang terbaik, kemudian diserahkan kepada DPR dan Presiden.

Dalam penggodokan RUU Kepariwisataan itu, DPR juga mengamanatkan terbentuknya standarisasi dan sertivikasi. Menurut Iqbal Alan Abdullah, pihak swasta sudah mengusulkan agar DPR tidak menentukan secara sepihak sebelum melibatkan asosiasi kepariwisataan. Kenapa? Karena, kata pengusaha pribumi yang dekat dengan kalangan pers ini, pihak pengusaha swasya pengelola ragam industri kepariwisataan paling memahami kondisi, peta kekuatan serta SDM yang diperlukan untuk memajukan kepariwisataan Indonesia ke depan. "Mudah-mudahan usulan kami mendapat perhatian DPR," ujar Iqbal lagi. (Ami Herman)

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i