INDONESIA SENJATA TAJAM TRADISIONAL Pengembangan dan Komersialisasi Menuju Dunia
Rabu, 14 Nopember 2007
Senjata tajam tradisional khas daerah-daerah di Indonesia tidak hanya memliki nilai fungsional, namun juga nilai artistik yang membawa kebanggaan tersendiri bagi pemegangnya. Akan tetapi, keberadaan senjata tradisional khas daerah-daerah itu banyak yang belum dikenal dalam skala nasional, apalagi internasional.
Padahal berbagai senjata tajam tradisional, khas daerah-daerah di Indonesia berpotensi untuk dikembangkan dan dikomersialisasikan. Apalagi upaya pengembangan dan komersialisasi itu juga dinilai penting karena terbukti bisa menyerap tenaga kerja dan menjadi sumber ekonomi masyarakat di daerah-daerah.
Namun agar senjata tradisional itu bisa memiliki kualitas yang baik sehingga bisa diakui dunia, diperlukan kesungguhan, dedikasi, presisi, dan citra artistik tinggi dalam proses pembuatannya. Dalam hal ini, senjata tradisional yang eksklusif nan indah dan cantik, namun tetap berfungsi dan dapat difungsikan, bukanlah sesuatu yang mustahil.
"Senjata tajam tradisional sangat memungkinkan untuk mendunia jika melihat dukungan media massa dan pemerintah dalam kegiatan promosi hingga ke luar negeri. Kujang, rencong, mandau, keris, badik, dan lainnya akan mendunia jika didukung juga oleh cerita dan promosi yang baik. Saat ini keris sudah dipopulerkan dengan kekuatan metafisiknya, begitu juga dengan kujang dan rencong," kata Ir Teddy S Kardin, salah satu pengembang senjata tradisional khas daerah-daerah di Indonesia. Usahanya bernama T Kardin Pisau Indonesia.
Pisau sebagai salah satu alat bantu manusia merupakan alat universal yang umum dipakai di berbagai negara, khususnya dalam kegiatan sehari-hari manusia, selain terdapat di setiap rumah.
Model senjata tajam khas Indonesia sangat beragam, namun banyak belum tergali secara optimal. Sisi positifnya, ini memungkinkan untuk upaya pengembangan, khususnya dengan desain produk yang baru dan layak untuk ditawarkan ke pasar.
Selain itu, sifat senjata tajam tradisional yang juga berkategori benda seni fungsional juga masih diminati berbagai kalangan. Sebut saja kalangan rumah tangga, pemburu, militer, kolektor, pemerhati budaya, cinderamata, dan sebagainya.
"Selain tenaga-tenaga di Indonesia, sulit untuk negara lain meniru proses pembuatan senjata tajam khas Indonesia yang indah tersebut. Apalagi pengembangan dan komersialisasi senjata tajam tradisional terbukti menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang cukup besar serta mendukung perkembangan produk kerajinan lain. Yang pasti pemberdayaan usaha kecil bisa diharapkan dari pengembangan senjata tradisional ini," tutur Teddy Kardin.
Langkah-langkah yang harus diambil untuk pengembangan senjata tradisional tersebut adalah peningkatan mutu dan pengembangan desain.
Upaya peningkatan mutu sudah harus dilakukan sejak pemilihan bahan baku, sehingga ketajaman, kekerasan, dan daya tahannya bisa sesuai standar internasional. Peningkatan mutu juga dilakukan pada bahan baku gagang, sarung, dan kemasan. Pemilihan bahan baku tersebut dilakukan melalui riset dan proses uji coba, sehingga bisa nyaman dipegang dan kuat.
Sementara pengembangan desain senjata tajam tradisional harus mencakup bahan baku bilah pisau, gagang, pembungkus/sarung hingga kemasan.
Hal ini dilakukan agar dapat melestarikan barang-barang dan desain warisan budaya Indonesia sekaligus meningkatkannya menjadi barang yang kompetitif dan komersil.
"Saat ini terdapat ratusan jenis senjata tajam tradisional di Indonesia. Namun baru beberapa jenis yang mencuat dan diakui dunia internasional. Ke depan harus lebih banyak lagi senjata tajam tradisional khas daerah-daerah di Indonesia yang berkarakter dan mendunia," ujar Teddy Kardin.
Sementara itu, beberapa upaya pelestarian dan pengembangan desain yang dapat dilakukan adalah dengan mengumpulkan senjata-senjata tradisional asli dari daerah-daerah yang masih di tangan masyarakat. Ini karena banyak senjata tradisional itu merupakan barang-barang warisan turun-temurun.
Selain itu juga dengan membuat replika senjata tajam tradisional dengan bahan asli yang masih ada. Ini dilakukan dengan riset ke berbagai daerah, museum, dan literatur pustaka.
"Juga diperlukan pengembangan desain baru yang dipadupadankan dengan model tradisional. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan tentang pakem serta aturan pembuatan desain senjata tajam tradisional berdasarkan konsep kekuatan, keamanan, dan keseimbangan. Jadi walaupun desain berciri khas tradisional, namun tetap mengusung fungsional," ujar Teddy Kardin. ***
|
|