Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Breaking News 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Iklan Banner SKO,
Ema: 02132747789,
Sofyan: 08161660896
BHD: Ada Kelalaian Anggota Terkait Kasus Buol
Waspadai Gangguan Distribusi Akibat Cuaca
BI Rate Dipertahankan 6,5 Persen
Tak Ada Untuk Sektor Riil, Dana Asing Masuk Didominasi Hot Money
Permintaan Tiket Pesawat Jelang Lebaran Melonjak
Ditangkap, Penjual Miras Lewat Internet
Stasiun Gambir Masih Lengang Pemudik
Konversi Elpiji Hemat Subsidi RP 21,38 Triliun
Golkar Akan Batalkan Interpelasi
Pemotongan Subsidi Tidak Otomatis Kenaikan TDL
Tujuh Polisi Diduga Pemeras Jalani Sidang Disiplin
arsip  
 
 
Korban Tewas Badai Sidr 10.000 Orang

Senin, 19 November 2007
DHAKA (Suara Karya): Bulan Sabit Merah Bangladesh mengatakan korban tewas tewas akibat badai topan Sidr yang menerjang Bangladesh selatan, Kamis lalu bisa mencapai 10.000 orang.

"Jumlah korban hingga Minggu sudah mencapai 3.000 yang dikonfirmasi tewas," kata M. Abdur Rab, Kepala Perhimpunan Bulan Sabit Merah Bangladesh, organisasi kemanusiaan terbesar di negeri tersebut. "(Jumlah) itu mungkin melebihi 5.000, tapi akan tetap berada di bawah angka 10.000," katanya.

Sementara itu, kantor penanganan bencana pemerintah menyatakan, hingga Minggu malam, telah menerima konfirmasi bahwa lebih dari 2.300 orang tewas dan 1.000 orang lagi sejauh ini telah dilaporkan hilang.

"Jumlah korban jiwa telah mencapai 2.307 sejauh ini, dan 1.000 orang hilang, dikhawatirkan tewas," kata pejabat penanggulangan bencana Shekhar Chandra Das.

Jutaan orang telah kehilangan tempat tinggal, kelaparan dan belum memperoleh bantuan medis, karena sulitnya medan akibat banyak pohon tumbang di jalan.

Para pejabat telah menegaskan mereka menduga banyak korban lagi akan ditemukan di daerah terpencil, yang belum dijangkau oleh pekerja bantuan dan personel militer.

Topan Sidr, topan terburuk yang pernah menerjang negara miskin di dataran rendah tersebut selama bertahun-tahun, menghantam pantai selatan Bangladesh, Kamis malam, dan mengakibatkan gelombang besar, angin sangat keras dan hujan lebat.

Tiga hari setelah topan Sidr memporak-porandakan Bangladesh, petugas pertolongan masih berjuang mencapai desa-desa yang rata dengan tanah dan kerumunan warga yang dilanda trauma.

Para korban yang selamat di pantai terpencil di bagian selatan negeri itu, memperingatkan mereka akan segera tewas jika bantuan tak tiba. Abdul Zabbar, guru berusia 50 tahun, mengatakan keadaan di daerah tersebut --salah satu tempat paling miskin di Bumi-- tak terperikan.

"Tak ada makanan dan air minum. Mayat masih mengambang di sungai dan sawah," katanya. Ditambahkannya, panen padi --atau empat bulan makanan-- telah hanyut disapu air.

Beberapa pejabat mengatakan kondisi kemanusiaan di kabupaten pantai seperti Barguna, 200 kilometer sebelah selatan ibukota negeri itu, Dhaka, sungguh menyedihkan. "Saya tak pernah menyaksikan bencana semacam itu dalam 20 tahun hidup saya sebagai administrator pemerintah," kata Harisprasad Pal, pejabat kabupaten.

Pemimpin Skuadron Farhad Hossain Mahmud dari ruang kendali Angkatan Darat mengatakan jumlah korban jiwa terakhir yang dikonfirmasi sebanyak 3.113. Upaya bantuan terhambat oleh pepohonan yang tumbang dan menutup jalan.

"Di daerah terpencil operasi bantuan berjalan lamban, mereka harus memotong pohon di sepanjang jalan," kata Douglas Casson Coutts dari Program Pangan Dunia (WFP). (Antara/AFP/Adi)


Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i