Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Bisnis 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
TRANSAKSI EFEK
Tekanan Jual, Hempaskan IHSG
OTORITAS PERBANKAN
BI Akan Naikkan Batasan GWM Primer
REGULASI KEUANGAN
OJK Perlu Mendapat Kawalan Masyarakat
Kilas Bisnis
Lebaran, Tak Ada Pemadaman Listrik
EDUKASI PERTAMINA
ARUS MUDIK

Lonjakan Konsumsi BBM Telah Diantisipasi
REGULASI
Puskepi Usulkan PP Penghematan Energi
PLTU 10.000 MW
7 Perusahaan Akan Pasok Batu Bara
NILAI TUKAR
Apresiasi Rupiah Capai 4,13 Persen
BANK MANDIRI
Saham Rights Issue Ditawarkan ke Asing
KINERJA EMITEN
Konsorsium WIKA Tangani Pabrik Chemical
Kilas Bisnis
Telkom Bantu Pondok Pesantren
ENERGI
AKR Ikut Distribusikan
BBM Bersubsidi 2011
arsip  
Harga IPO HE Rp 5.000 per Unit
Harga IPO Indofood CBP Rp 4.300-5.500
Kinerja Adaro Turun
Laba Bersih BWPT Turun
Sierad Bangun Commercial Farm
4 Sekuritas Kena Sanksi
arsip  
PASCA LEBARAN
Arus Balik dari Solo Mulai Meningkat
arsip  
 
 
BAHAN BAKAR NABATI
Industri Biofuel Terancam Bangkrut


Selasa, 22 Januari 2008
JAKARTA (Suara Karya): Sebanyak 17 industri biofuel yang tergabung dalam Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) berhenti berproduksi.

"Mereka merasa tidak efisien untuk tetap beroperasi, sehingga dari 22 industri biofuel hanya tinggal lima yang beroperasi," demikian pernyataan Ketua Umum Aprobi, Purnardi Djojosudirdjo, di Jakarta, Senin (21/1).

Sementara itu, lanjutnya, untuk pangsa pasar ekspor tidak semudah apa yang dikatakan. Apalagi standarisasi produk di luar negeri sangat ketat serta diperparah dengan biaya ekspor yang tinggi. "Kaum environmentalis menentang hal tersebut karena dianggap melakukan deforestasi," ujarnya.

Dia mengatakan, tidak dapat dipastikan berapa penurunan produksi biofuel pada 2008. Karena jika pemerintah mau mengeluarkan kebijakan agar kalangan industri menggunakan bahan bakar nabati sebesar 1 persen, maka dipastikan produsen biofuel di Indonesia akan tetap beroperasi. "Jadi jika anda punya mobil, 10 liter diisi bensin dan satu persen saja diisi alkohol, kita itu sudah terima kasih," katanya.

Sedangkan menurut Presiden Direktur PT Sumi Asih, Alexius Darmadi mengatakan, pemerintah hingga saat ini belum menentukan biofuel akan dibawahi departemen mana. Sedangkan di negara lain, tanpa disubsidi pun, industri biofuel sudah dapat hidup. "Jangan sampai nanti kasus industri biofuel berakhir seperti kasus kedelai saat ini. Harus ada kerjasama yang baik antar departemen," katanya.

Seperti diketahui, kapasitas terpasang industri biofuel di Tanah Air sekitar 1,5 juta ton per tahun. Di tahun 2007 sudah berproduksi 500.000 ton, namun di tahun 2008 belum dapat diketahui berapa total produksinya. "Kalau bisa, sama dengan produksi 2007," kata Alexius.

Sementara itu, Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian, Benny Wahyudi mengatakan, saat ini harga bahan baku biofuel meningkat. Maka kalau hanya berharap pada minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), hal itu akan sulit. "Kalau dulu harga CPO masih Rp 400 hingga Rp 500 per liter, sekarang bahan bakunya sudah hampir Rp 1.000 per liter. Jadi untuk saat ini agak sedikit kendala, tapi bukan berarti berhenti karena masih dalam proses menentukan," ujar dia.

Namun demikian, pemerintah akan mendorong agar biofuel akan tetap dikembangkan. Saat ini Departemen Perindustrian telah mengembangkan 48 unit pengolahan skala kecil di beberapa daerah untuk biodiesel tanaman jarak. (Indra)

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i