PEMERINTAHAN SBY Wapres: Tari Poco-poco Lebih Baik
Sabtu, 2 Februari 2008
JAKARTA (Suara Karya): Wapres Jusuf Kalla menjawab kritikan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri dengan kiasan pula. Menurut dia, tarian poco-poco lebih baik daripada dansa yang hanya berputar-putar sambil menjajakan gas murah. "Poco-poco itu kan sehat. Gerakannya bersatu. Jadi itu (tari poco-poco) langkah yang paling ritmis," ujar Wapres di Jakarta, kemarin.
Dalam pidato politik pada peringatan HUT ke-35 PDIP di Palembang, Sumsel, Kamis lalu (31/1), Megawati menyatakan bahwa kinerja pemerintah SBY-JK hanya maju-mundur bak tarian poco-poco. Menurut Megawati, keberpihakan pemerintah terhadap rakyat miskin maupun program pemberantasan kemiskinan tidak kuat serta tidak fokus. Pemerintah mudah berjanji dan mudah pula ingkar.
"Saya kira poco-poco jauh lebih baik dari dansa-dansa yang berputar-putar, (tapi) sambil menjual gas yang murah. Mengerti kan maksudnya?" ucap Wapres. Barangkali yang dimaksud Wapres adalah kegagalan Megawati Soekarnoputri melobi pemerintah Republik Rakyat China agar tetap membeli gas alam cair (LNG) dari Indonesia dengan berdansa-dansa.
Maret 2002, Megawati berkunjung ke China dalam jangka menawarkan LNG. Sambutan pemerintah China sendiri sangat hangat, sampai-sampai Megawati diajak berdansa oleh Presiden RRC Jiang Zemin. Namun, menanggapi tawaran Megawati, Pemerintah China ternyata menawar gas LNG dengan harga sangat murah. Bahkan akhirnya RRC membeli LNG dari Australia.
Sementara itu, Juru Bicara Kepresidenan Andi Malarangeng membantah bahwa inspeksi mendadak (sidak) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Karawang, Jabar, kemarin, adalah untuk menjawab kritik Megawati. "Ini bagian kerja pemerintah yang sudah direncanakan. Kan kemarin (Presiden) sudah rapat dengan menteri--juga memanggil para importir. Jadi sekarang (Presiden) turun ke lapangan," ucapnya.
Sekretaris Fraksi Partai Demokrat (FPD) DPR Sutan Bathoegana juga membalas kritik Megawati terhadap pemerintahan SBY-JK dengan menyatakan bahwa kinerja pemerintahan Megawati di masa lalu justru laksana tarian undur-undur. "Masih lumayan poco-poco, ada majunya. Tapi tari undur-undur? Mundur terus!" ucapnya.
Menurut Sutan, sebagai sesama tokoh bangsa, mestinya Megawati tidak main sindir, melainkan justru memberi masukan konstruktif kepada pemerintahan SBY-JK untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. "Tidak usah menyindir-nyindir. Introspeksi sajalah. Kalau dulu (berkinerja) baik, kenapa (Megawati) tidak dipilih lagi dan justru calon lain (SBY) yang jadi presiden," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Fraksi PDIP DPR Tjahjo Kumolo mengatakan, kritik Megawati seharusnya diterima pemerintahan SBY-JK tidak dengan emosi. "Kami sebagai partai oposisi tidak asal kritik, tetapi dengan data. Setidaknya (kritik) ini sebagai evaluasi, apakah kebijakan pemerintahan yang sekarang sudah sesuai realita dan janji-janji saat kampanye dahulu," katanya. (Rully/Kartoyo/Yudhiarma/Ant)
|
|