BENCANA ALAM Banjir, Pantura Macet Puluhan Kilometer
Sabtu, 16 Februari 2008
JAKARTA (Suara Karya): Sesuai ramalan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), hujan deras disertai angin kencang Jumat kemarin melanda berbagai wilayah di Jawa, termasuk Kota Jakarta. Genangan air di berbagai ruas jalan menimbulkan kemacetan parah hingga puluhan kilometer. Curah hujan tinggi juga menimbulkan longsor yang mengakibatkan dua korban tewas di Kudus.
Kemacetan terparah arus lalu lintas terjadi di jalur pantura Jateng. Hujan lebat di Kota Pati dan sekitarnya pada Kamis malam hingga Jumat menjadi penyebab meluapnya Sungai Simo dan Gembleb. Itu mengakibatkan jalur pantura Pati-Rembang terendam banjir. Kemacetan lalu lintas mencapai sekitar 30 kilometer.
Rabu lalu (13/2), jalur pantura Jateng itu juga sempat mengalami kemacetan sepanjang lima kilometer setelah terendam banjir. Saat ini ketinggian genangan air di jalur pantura itu berkisar antara 20 hingga 50 sentimeter. Untuk menekan genangan air di jalur tersebut, sejumlah warga membuat lubang saluran air dengan membongkar beton pembatas jalan.
Sementara itu, kondisi jalan berlubang di sepanjang pantura membuat kendaraan merayap. Itu pula yang menjadi penyebab kemacetan semakin panjang.
Lalu lintas dari arah Pati menuju Rembang macet total. Sejumlah sopir yang terjebak kemacetan itu harus rela menunggu selama berjam-jam. Untuk menghilangkan kejenuhan menunggu giliran jalan, mereka memanfaatkan air genangan banjir untuk mencuci kendaraan.
Masih di Jateng, kekhawatiran sejumlah pihak akan terjadinya longsor di kawasan pegunungan di Kabupaten Kudus benar-benar terjadi. Longsor terjadi di Desa Soco, Kecamatan Dawe, Kudus, Kamis malam, sekitar pukul 23.30 WIB. Peristiwa tersebut mengakibatkan dua rumah roboh dan rata dengan tanah, sedangkan tiga rumah lain mengalami rusak sedang.
Sementara itu, air masih menggenangi sebagian besar wilayah Karawang dan Bekasi di Jabar, serta Pandeglang di Banten. Di Karawang, banjir memaksa sejumlah banyak warga Dusun Kartalaya dan Kalijaya, Desa Kertasari, Kecamatan Batujaya, tinggal di tenda pengungsian. Wilayah itu sudah sejak sepekan terakhir tergenang banjir dengan ketinggian air satu hingga 1,5 meter.
Tenda-tenda pengungsian didirikan atas inisiatif warga dengan menggunakan terpal, karung bekas, dan plastik-plastik bekas. Tenda dibangun di jalan raya yang tidak terkena banjir, berjarak sekitar 100 meter dari ruas jalan yang tergenang.
Kebanyakan korban banjir di Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, berharap tambahan bantuan dari pemerintah. Sejauh ini, kata mereka, tiap warga baru menerima bantuan berupa empat bungkus mi instan, 1,5 liter beras, serta pengobatan gratis.
Bupati Karawang Dadang S Muchtar mengatakan, pihaknya sudah mendistribusikan bantuan kepada masing-masing kecamatan yang dilanda banjir. Bantuan itu berupa 15 ton beras, 619 dus mi instan, 1.417 kaleng sarden, 682 tube kecap, 730 tube sambal, 36 botol minyak goreng, satu karton susu, tujuh paket sandang, dan tujuh paket peralatan dapur. Untuk total bantuan keuangan yang telah diberikan Pemkab Karawang ialah hingga kini mencapai Rp 52.520.000. Sedangkan, stok persediaan bantuan yang kini dimiliki Pemkab Karawang ialah 95 ton beras, 493 dus mi instan, 500 tube kecap, 200 kaleng susu, 559 paket peralatan dapur, 800 buku tulis, 100 bungkus biskuit, dan 36 botol minyak sayur.
Sementara itu, berdasarkan data Satkorlak Pemkab Karawang, hingga kini banjir di Karawang sudah melanda 19 kecamatan, sejak dua pekan terakhir. Ke-19 kecamatan tersebut ialah Kecamatan Rengasdengklok, Tirtajaya, Pedes, Cibuaya, Cilebar, Rawamerta, Cilamaya Wetan, Cilamaya Kulon, Tempuran, Jayakerta, Kotabaru, Batujaya, Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, Pangkalan, Kutawaluya, Pakisjaya, Tirtamulya, dan Purwasari.
Di bagian lain, luapan air Sungai Ciliman, Cilemer, dan Sanggoma membuat banjir di Pandeglang meluas ke empat kecamatan. Banjir yang disebabkan turunnya hujan deras selama lima hari terus-menerus menyebabkan sejumlah desa tergenang hingga ketinggian satu meter.
Di Bekasi, banjir kian meluas ke enam kecamatan. Sedikitnya 4.000 rumah terendam air dengan ketinggian sekitar satu meter. Selain merendam ribuan rumah, banjir juga menggenangi ratusan hektare sawah. Padahal, baru satu pekan silam ratusan hektare sawah itu hijau dengan padi yang baru ditanam. Para petani pun terancam gagal panen. Banjir di Kabupaten Bekasi diakibatkan guyuran hujan tiada henti hingga menyebabkan Kali Ciherang dan Kali Piket meluap.
Sementara itu, Bali juga diguyur hujan deras, mengakibatkan ruas-ruas jalan di seputar Kota Denpasar berubah menjadi "sungai".
Rendahnya kesadaran masyarakat di Denpasar, terutama kebiasaan membuang sampah ke sungai dan saluran air di kota itu, maka begitu hujan deras datang saluran pun menjadi tersumbat, akibatnya banjir pun tak terelakkan.
Banjir melanda sejumlah daerah yang selama ini setiap musim hujan tiba rawan. Antara lain di sekitar Perumahan Perumnas Monang Maning Denpasar, sebagian di wilayah Kuta dan Sesetan, Denpasar Selatan, juga ruas-ruas jalan di Legian. Dampaknya, daerah yang biasanya selalu dipadati wisatawan, tapi akibat banjir menjadi kurang diminati.
Di Jakarta sendiri, secara umum hujan deras mengakibatkan kemacetan menjadi bertambah parah di sejumlah jalan protokol. Banjir mengakibatkan rusaknya enam halte TransJakarta (busway). Semuanya terjadi di wilayah Jakarta Barat dengan kerusakan kebanyakan di bagian atap halte. (Antara/Budi Seno)
|
|