MAKASSAR Ibu Hamil Mati Kelaparan, Warga Tuding Wali Kota Tak Peduli
Senin, 3 Maret 2008
Kasus kematian ibu hamil, Dg Basse (35), dan anaknya, Bahir (5), yang diduga karena kelaparan, mendapat reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat di Kota Makassar. Warga menuding Wali Kota dan aparatnya tidak peduli dengan warga miskin di kota itu.
"Pemkot Makassar terlalu sibuk mengurusi pilkada (pemilihan kepala daerah--Red) sehingga melupakan tugas utamanya memperhatikan warga mereka yang kelaparan," ujar Alwi, warga yang menelepon ke redaksi Suara Celebes FM.
Sementara itu, Minggu (2/3) siang, Dg Basse dan Bahir, dimakamkan di tanah garapan, bukan di tempat pemakaman umum (TPU). Apa boleh buat, tak ada biaya untuk memakamkan mereka. "Saya kuburkan di kebun karena saya tidak punya biaya," ujar suami Basse, Bahri (37), di RS Haji, Jalan Daeng Ngepe, Makassar, kemarin.
Bahri mengatakan itu adalah tanah yang digarap bapaknya di kampung, yakni di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Istri dan anaknya itu dikuburkan tak jauh dari warung yang ada dekat kebun dengan dibantu tetangganya.
"Dikubur dekat warung yang ada di kebun, karena saya biasa duduk-duduk di warung itu. Saya kuburkan di situ supaya sering saya lihat," kata Bahri, yang baru datang dari proses pemakaman istri dan anaknya di Bantaeng. Jenazah ibu dan anak itu dikuburkan dalam satu liang yang ditandai dengan nisan kayu sederhana.
Lelaki yang berprofesi sebagai tukang becak itu datang ke RS untuk menunggui anaknya, Aco (4), yang diinfus di RS Haji, Jalan Daeng Ngepe, Makassar, Sulawesi Selatan. Aco (4) dirawat karena kelaparan. Sesaat setelah melihat Aco yang masih diinfus, dia pun memasrahkan perawatan anaknya itu kepada Lina, orang yang rumahnya ditumpangi keluarga Bahri selama lima bulan. "Saya serahkan kamu yang rawat anak saya. Saya sudah tidak mampu lagi," kata Bahri.
Lelaki berkemeja kuning kumal itu pun keluar kamar dan mencari tempat yang sepi. Dia pun duduk di sudut salah satu selasar RS Haji yang sepi untuk merenung. Setelah satu jam, Bahri yang didekati wartawan pun berkeluh kesah.
"Kasihan istri dan anak saya meninggal. Saya tidak mau minum (mabuk--Red) lagi," kata Bahri menyesali. Penghasilannya yang didapat dari mengayuh becak pun tak mencukupi. "Kadang dalam satu hari hanya dapat Rp 10 ribu. Yang saya pakai hanya beli rokok saja, terus sisanya saya kasih istri," katanya sambil mengisap rokok kretek dalam-dalam. Bahri juga mengakui memang hanya mampu memberi makan nasi. Namun tetap diusahakan ada tambahan lauknya. Selebihnya Bahri mengaku tidak terlalu tahu makanan yang sehari-hari dikonsumi anak dan istrinya.
Bantah Mati Kelaparan
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr Naisyah T Azikin, mengatakan bahwa kematian Dg Basse (35), ibu yang sedang hamil, dan anaknya, Bahir (5), disebabkan kelaparan. "Kami sudah turun ke lapangan melakukan pengamatan dan pemeriksaan, dan menemukan bahwa kedua warga itu meninggal karena dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) akibat terserang penyakit diare," katanya kepada Antara di Makassar, Sabtu (1/3).
Menurut keterangan yang dihimpun tim Dinkes, satu hari sebelum meninggal, Dg Basse yang sedang hamil tujuh bulan dan putra keduanya itu diserang diare. Bahkan, menurut para tetangganya, kata Naisyah, Dg Basse sempat pergi ke klinik kesehatan, namun tidak diketahui persis ke klinik mana dia mencari pertolongan.
Meski demikian, pihaknya masih mendalami penyebab utama kematian warga dari keluarga miskin tersebut dan akan memberikan bantuan perawatan secara maksimal dan gratis kepada salah seorang anak korban yang saat ini juga sedang dirawat di Rumah Sakit Haji karena diare.
Harian Fajar Makassar pada edisi Sabtu melaporkan bahwa Dg Basse dan anaknya, Bahir, meninggal di rumah mereka pada Jumat siang pukul 13.00 Wita karena kelaparan setelah tiga hari tidak menelan nasi sebutir pun.
"Tiga hari kami tidak makan," kata Salma, putri sulung korban, seperti dikutip harian tersebut. Salma mengaku sudah dua hari sebelum ibunya meninggal menderita sakit dan muntah-muntah. Keluarga Basri, kata Naisyah, adalah keluarga tidak mampu dan memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sehingga bila berobat ke puskesmas mereka akan mendapatkan pelayanan gratis. (Ant/Yon Parjiyono) |
|