Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Budaya 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Oka Rusmini Makin Menjadi
Oleh Sunaryono Basuki Ks
Evi Idawati,
Kembali Rilis Buku Baru,
Mencintaimu
Sitor Situmorang,
Penyair dengan Masa Kerja Terpanjang
Oleh Faidil Akbar
PEMATUNG
Nyoman Nuarta, Dapat
Dukungan dari Cucu
Oleh Noor Amanah
BUDAYA
Obama Naik Becak,
Pemenang Biennalle IAA 2010
Kolecer & Hari Raya Hantu
Budaya Lokal dalam Sastra
di Mata Cerpenis
Oleh Eka Fendri Putra
Mengapa Komik Jepang Bisa Mendunia?
Oleh Faidil Akbar
Diah Hadaning
Di Usia 70 Tahun,
Luncurkan Antologi 700 Puisi
Taman Budaya Bali,
Sebuah Percontohan
Oleh Eka Fendri Putra
Putu Wijaya, Sejak Remaja
Sudah Menggemari Sastra
Oleh Faidil Akbar
Nilai Budaya dalam
Bahasa Gambar Garin Nugroho
Oleh Eka Fendri Putra
Nasib Perempuan
yang Terpinggirkan
Oleh Sunaryono Basuki Ks
arsip  
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
arsip  
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
Rumah Tangga Maya (29-08-2008)
Oleh Ericka


Sabtu, 3 Mei 2008
Lebat hujan mewakili derai air mata.. aku sedang sakit hati, dunia. Sakit hati yang menyita waktu berperang dengan jiwa. Ketidakadilan adalah makanan terbusuk yang terpaksa harus jadi ransumku kemarin. Tapi ternyata, ketidakadilan itu aku rindukan hari ini. Aku sangat merindukan itu.

Tuhan, waktu memang tak bisa berputar. Kalaupun bisa, aku tak begitu sanggup memutarnya.?? Siapa suamiku? Entah siapa suamiku. Aku tak pernah bersamanya tapi aku selalu tau apa yang ia mau. Aku tak pernah bisa menyentuhnya tapi aku akan selalu bisa merasakan ia menyentuhku. Aku ingin menatap matanya lagi, Tuhan.. sesering ia menatap mataku.

Andai aku selalu tahu akan kurasakan apa bila ku melakukan sesuatu. Aku tak ingin memaksa semua jadi nyata.. karena ternyata, rasa yang ku dapat sama seperti akhir dunia. Suami macam apa kau, cinta? Ya.. Baru kali ini aku berkata cinta untuknya. Baru kali ini aku menitikkan air mata untuknya. Ternyata kau begitu berharga saat kali ini terjadi..?? Perkenalan kita sangat tak pernah kuduga. Bahkan sangat tak pernah kuharapkan.

Perkembangan dunia diwakili dengan perkembanganku. Yang ingin tahu apa saja.. tanpa ingin tahu siapakah suamiku. Jika kau tanya bahwa " pernahkah kau bahagia ? ". Aku akan menjawab ya ya ya.. dengan percaya dan tak akan ada yg perlu aku ubah. Aku pernah bahagia dengan sesuatu yang ia bangun dariku. Aku pernah bahagia dengan ia yang begitu berbeda. Aku pernah bahagia dengan perasaan ia akan meninggalkanku.

Suamiku akan meninggalkanku. Aku tak gila sungguh. Aku waras benar benar waras.??Kini aku merindukannya. Merindukannya tanpa mencari. Merindukannya tanpa berusaha membujuknya kembali. Aku merindukannya.. merindukan suamiku berkata ia merindukanku. Kemana perginya suamiku, Tuhan? Kemana perginya suamiku? Sudahkah tak ada rasa? Apa yang aku perbuat? Apa yang aku lakukan, suamiku? Jawab! Jawab!

Aku benci dengan kebisuanmu yang berlangsung untuk selalu! Aku tak suka dengan tatapan bola matamu yang tak melihat ke arahku! Aku benci dengan langkah yang kau ambil sambil melangkahiku. Aku istrimu! Lupakah kau akan itu? Tuhan.. kesabaranku tak sehebat itu. Kebiasaan acuhku tak bisa menang dengan keacuhan suami busukku.

Haruskah aku hapuskan namanya dari nisan hatiku? Haruskah kubawa buku nikah kita dan ku bakar dihadapan bola matanya? Agar matanya terbakar pula.. terbakar dan mengatakan sesuatu untukku.?? Mulai saat ini aku akan penuhi maumu. Pergi semaunya dan kembali semaunya. Aku rela, suamiku. Aku rela sakit hatiku untuk bahagiamu. Aku rela air mataku untuk tenang jiwamu.

Aku akan pergi dengan sendirinya.. melawan egoku dengan sempurna. Tuhan akan tahu mauku. Tuhan tahu aku lebih bahagia bersamaNya. Ya.. kau benar. Penyakit kanker hati yang aku ceritakan itu bukan sekedar dongeng sebelum tidur. Itu adalah kenyataan yang terjadi pada istri bodohmu, suamiku.

Kau bisa tenang tanpa ragaku. Aku akan pergi dengan tenang pula.. dengan kain kafan yang menyelimutiku. Dengan bunga bunga berjatuhan yang membuat pemakamanku terasa sempurna. Sempurna dengan ketidaktahuanmu. Jika aku boleh mengajukan permintaan terakhir padamu, datang lah melayatku.. kumohon datang. Dan tolong berikan nama yang cocok diatas nisanku.. aku sengaja mengosongkannya. Agar kau bisa menulis apa saja sesuai dengan kemauanmu***

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i