GEJOLAK PASAR Harga Minyak Meroket Dekati 124 Dolar AS
Jumat, 9 Mei 2008
JAKARTA (Suara Karya): Harga minyak mentah di pasar internasional terus meroket. Kamis (8/5) kemarin, harga minyak kembali menyentuh rekor tertinggi baru, mendekati 124 dolar AS per barel.
Informasi tentang cadangan minyak mentah AS lebih besar dari yang diperkirakan tak mampu meredam kenaikan harga. Perusahaan investasi Goldman Sachs memprediksi harga minyak mentah bisa menembus 200 dolar AS per barel dalam 6 hingga 12 bulan ke depan, akibat ketatnya pasokan minyak di tengah tingginya permintaan.
Rekor 123,87 dolar AS per barel dicapai melalui kontrak berjangka minyak utama New York jenis light sweet untuk pengiriman Juni, sedikit melampaui perdagangan harian pada Rabu yang berada di kisaran 123,80 dolar per barel di bursa New York Mercantile Exchange (Nymex).
Kontrak itu akhirnya diperdagangkan enam sen lebih rendah pada posisi 123,47 dolar per barel di Asia dari penutupan 123,53 dolar di New York. Minyak mentah Laut utara, Brent, untuk pengiriman Juni, tujuh sen lebih rendah pada angka 122,25 dolar per barel. Harga minyak terus mengalami lonjakan setiap hari pada pekan ini dan naik setidaknya tujuh dolar.
Analis energi Goldman Sachs Argun Murti mengatakan, permintaan minyak yang terus meningkat akan mendorong harga melewati 200 dolar AS per barel dalam enam bulan selanjutnya. Dengan gejolak harga yang begitu cepat, Murti mengoreksi prediksinya tiga tahun lalu ketika harga minyak masih di level 55 dolar AS per barel. Ketika itu Murti memprediksi pergerakan harga minyak hanya sampai ke 100 dolar AS per barel.
Permintaan minyak meningkat akibat besarnya kebutuhan China yang mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi, disusul India yang juga terus melakukan ekspansi ekonomi. Permintaan kedua negara itu harus bersaing dengan permintaan dari AS, Uni Eropa, dan Jepang yang juga butuh minyak dalam jumlah besar.
Tingginya permintaan itu tidak diimbangi oleh produksi minyak yang justru mengalami masalah di beberapa negara produsen. Produksi di Nigeria terus terganggu karena serangan kaum militan antipemerintahan. Ekspor minyak Irak juga terganggu karena perseteruan kaum Kurdi dengan Turki. Sementara itu, pasar juga mulai berhitung naiknya permintaan minyak di AS memasuki musim panas ini.
Mantan analis Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Abdul Muin, mengatakan, Indonesia diuntungkan dengan menjadi anggota OPEC. "Keuntungan utama menjadi anggota OPEC adalah Indonesia mendapat jaminan pasokan minyak mentah. Sebagian besar impor minyak mentah Indonesia berasal dari negara anggota OPEC," katanya.
Indonesia, lanjutnya, bisa lebih mudah dan sering mendapat harga lebih rendah jika impor minyak mentah dari anggota OPEC. Karenanya, Muin yang menjabat analis OPEC antara 1994-2002 ini minta pemerintah melihat secara menyeluruh sebelum memutuskan keluar dari keanggotaan OPEC.
Muin yang kini menjabat Wakil Kepala Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) menambahkan, besarnya iuran OPEC senilai dua juta euro atau sekitar Rp 28 miliar per tahun relatif kecil dibanding keuntungan yang didapat.
Keuntungan lain, Indonesia bisa lebih mudah melakukan kesepakatan bisnis migas dengan anggota OPEC. (Abdul Choir)
|
|