Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Cerpen 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
Bibir Biru
Oleh Naning Pranoto
Rahasia Emak
Oleh Noor Amanah
Tetes Air di Kamar Jenazah Pak De
Oleh Sunaryono Basuki Ks
Perempuan Beraroma Melati
Oleh: Kurniawan Junaedhie
Sebuah Mimpi
Oleh: Agus Sunarto
Si Bunian
Oleh: DTA Piliang
arsip  
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
arsip  
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
P e m b a l a s a n
Cerpen Gita Nuari


Sabtu, 10 Mei 2008
Perempuan yang dua bulan lalu ditemukan tewas mengenaskan di atas bantaran kali, malam itu dilihat Komeng hidup kembali. Merinding bulu kuduk Komeng. Betapa tidak, dua bulan lalu Komeng bersama rekan-rekannya sesama pengojek yang sering mangkal di ujung jembatan di daerah itu, menemukan perempuan itu telah menjadi mayat di atas bantaran kali dengan luka tusukan di sekujur tubuhnya. Sebelum dibunuh terdapat tanda-tanda perempuan itu diperkosa terlebih dahulu. Siapa pelakunya? Hingga kini polisi belum berhasil menangkapnya.

Antara perempuan yang dilihatnya sudah mati dan yang kini kembali dilihatnya masih hidup, membuat Komeng jadi penasaran. Maka atas dasar itu, ia nekat mengikuti ke mana perempuan itu melangkah. Apa arwah perempuan itu jadi setan gentayangan? Pikir Komeng sambil mendorong motornya yang sejak melihat perempuan itu sengaja ia matikan mesinnya.

Sampai didekat gardu penjagaan yang sudah tak digunakan lagi, perempuan itu berhenti. Komeng mengawasinya nyaris tak berkedip. Lalu perempuan itu masuk ke dalam gardu yang cukup gelap karena tak ada lampu penerang di dalamnya. Pelahan Komeng mendekat. Sebuah pohon besar dijadikan tempat persembunyian dirinya. Mau apa perempuan itu malam-malam ke gardu? Pikir Komeng. Bikin penasaran saja, dengusnya kemudian. Namun ketika Komeng sedang menetralisir perasaan-perasaan aneh yang menerpa pikirannya, tiba-tiba muncul dua pria dalam keadaan mabuk berat, berjalan sempoyongan menuju gardu.

"Ya, ya, ya kau sudah bayari aku," kata lelaki satu sambil berpegangan ke pundak rekannya. "Besok, ya besok, ganti aku yang akan bayari kau!"

"Aku hampir kalah bertarung," keluh lelaki dua. "Si Yanti, ohooy terlalu kuat. Mana tahan aku, eeggg!" lanjut lelaki dua hendak muntah. Komeng masih berada di balik pohon besar untuk mengamati kelakuan orang-orang yang diintipnya.

"Kita istirahat di dalam gardu. Aku caaape..sekali, Jonn," ajak lelaki satu masil sempoyongan.

"Oke, kita istirahat di gardu nostalgia ini. Aku jugaaa tak kuaat berjalan teruss. Dengkulku see seperti mau copot!" sahut lelaki dua. Untuk menuju ke dalam gardu, tangan mereka berpegangan. Bagaimana dengan perempuan itu? Gumam Komeng. Tegang. Mencekam. Apa yang bakal terjadi? Sontak birahi Komeng muncul.

Akan tetapi, selang beberapa menit terdengar suara mengaduh, mengerang lalu berganti rintihan. Dan kemudian rintihan itu berganti sunyi senyap. Komeng ingin segera melihat apa yang terjadi di dalam gardu, tapi rasa takut menahan langkahnya ke sana. Akhirnya Komeng memutuskan untuk mengawasi dari balik pohon, siapa yang lebih dulu keluar dan siapa yang terakhir keluar dari dalam gardu.

Suasana malam kian mencekam. Bulu kuduk Komeng bergidik lagi. Dan ketika Komeng tengah menduga-duga, yang keluar pertama dari dalam gardu ternyata adalah perempuan yang lebih dulu ia ikuti. Mana kedua lelaki tadi? Batin Komeng. Pikiran Komeng menjadi sibuk. Setelah membiarkan perempuan itu pergi, Komeng berlari menuju gardu untuk melihat ada apa gerangan di dalam sana? Karena ruangan gardu cukup gelap, Komeng langsung menyalakan korek api.

"Astagfirullah!" sebut Komeng. Tukang ojek ini nyaris terpental karena rasa kagetnya yang begitu dalam setelah melihat kedua lelaki mabuk itu terkapar berlumuran darah di atas lantai. Dan saat Komeng masuk lebih ke dalam, kedua lelaki itu sudah tewas semua. Pembunuhan! Pekik Komeng dalam hati.

Siapa perempuan itu? Renung Komeng. Setankah? Tiba-tiba Komeng merasa takut. Tanpa menunggu lama, Komeng berlari mengambil motor terus memacunya menjauhi tempat kejadian perkara. Komeng tak bercerita kepada rekan-rekan seprofesinya apalagi melapor ke polisi, Komeng enggan.

"Apa tidak ada orang lain selain Akang yang melihatnya?" tanya istri Komeng setelah Komeng bercerita mengenai kejadian yang dilihatnya malam itu di gardu.

"Tidak, Ngir. Hanya aku sendiri."
"Hati-hatilah, Kang. Aku takut Akang jadi sasaran setan perempuan itu," ujar Sengir, istri Komeng dengan penuh kekhawatiran.

"Mudah-mudahan tidak, Ngir, Karena Akang tak punya salah terhadap perempuan yang sudah mati itu," kata Komeng sambil menggenggam tangan istrinya.

"Punya salah atau tidak, zaman sekarang sih, sama saja, Kang! Orang mau jahat, ya jahat saja tanpa pandang bulu," tandas Sengir.

"Ngir, banyak berdoa ya, buat keselamatan Akang," Komeng menghamba kepada istrinya.

"Makanya, Akang harus hati-hati," ujar istrinya.
Komeng manggut-manggut.

***

Esoknya, beberapa koran terbitan ibukota memberitakan tentang ditemukannya dua mayat pria di dalam gardu. Dari penyelidikan sementara, polisi menyimpulkan bahwa ada dua kelompok preman berseteru untuk memperebutkan daerah kekuasaan di lokasi ditemukannya dua mayat pria, yang ternyata preman, yang sudah dikenal polisi. Komeng tersenyum membaca koran yang memuat foto kedua mayat itu. Tanpa menyepelekan dugaan polisi tentang kasus pembunuhan tersebut, koran itu diselipkan di sela-sela stang motornya.

Bagi orang yang melintas di jalan itu, gardu itu tetaplah sebuah gardu. Gardu tua yang sudah tak digunakan lagi, berada lima meter di atas bantaran kali. Ya, tak ada arti lain bagi orang lain kecuali di dalam gardu itu pernah ditemukan mayat. Namun di mata Komeng, gardu itu telah menimbulkan misteri dan keanehan. Sehingga mengajak pikirannya berkelana untuk mengetahui siapa perempuan itu, dan mengapa harus gardu itu jadi tempat menunggu orang untuk dibunuhnya. Sedang kasus pembunuhan di mata rekan-rekann kedua preman yang terbunuh itu, menjadikan sebuah tantangan untuk mencari siapa pembunuhnya. Bahkan, kalau bisa, harus dibalas dengan cara yang lebih keji.

"Kita jangan diam saja, ini tantangan buat kita. Kita harus mencari siapa yang membunuh Jon dan Rodok. Kita harus balas!" tukas Jabrik, sesuai dengan rambutnya, seorang preman yang paling disegani oleh rekan-rekannya di daerah kotor itu.

"Tapi jangan asal nuduh, bisa bahaya buat kita. Meski orang yang kita curigai cukup banyak, jangan sampai kita salah ambil," sahut Pedet mengingatkan Jabrik.

Jabrik manggut-manggut.
Satu minggu setelah terbunuhnya dua preman di dalam gardu, suasana di daerah itu kian mencekam. Beberapa kelompok yang bertikai mulai mawas diri. Khawatir ada serangan dari belakang. Akan tetapi, belum lagi pihak pencari bukti menemukan titik terang siapa pembunuh Jon dan Rodok, pagi itu, kelompok Jabrik dikejutkan lagi oleh berita penemuan mayat seorang preman dalam keadaan terapung di sungai oleh seorang anak kecil yang sedang memancing ikan.

"Ada orang matiii. Ada orang matiiii," teriak anak itu sambil berlari meninggalkan alat pancingannya begitu saja di tepi sungai. Orang-orang yang mendengar teriakannya menoleh ke arah suara.

"Ada orang matiii"
"Di mana?" tanya yang dipapasi anak itu.
"Ada orang mati! Ada orang matiii"
"Iya, di mana, bego!" Orang yang dipapasi anak itu sewot. Anak itu terus saja berlari menaiki bantaran kali sambil berteriak di sepanjang jalan menuju rumahnya. Komeng bersama rekan-rekannya yang sedang mangkal di ujung jembatan, juga orang-orang yang mendengar teriakan anak itu, berbondong-bondong turun ke tepi kali untuk melihat mayat yang dimaksud anak itu.

"Itu mayatnya!" teriak Pedet. Orang-orang menoleh ke arah yang ditunjuk Pedet. Benar. Sesosok mayat pria terlihat mengambang bercampur dengan sampah. Jabrik langsung mengambil sebatang bambu untuk menggaet mayat itu ke pinggir. Setelah mayat ditepikan, barulah wajahnya dapat dikenali.

"Wah, ini si Mirsan! Heh, Mirsan mati dibunuh. Tuh, lihat, bekas tusukan di perutnya!" teriak anak buah Jabrik yang lainnya. Beberapa rekannya mengangkat mayat Mirsan ke atas. Bau bangkai mulai menyengat. Orang-orang menutup hidung. Jabrik terpukul. Wajahnya memerah. Darahnya mendidih.

"Habis sudah teman kita!" rutuk Jabrik. Sedang Pedet menahan geram. Hati mereka terpukul.

***

Siapa yang membunuh Mirsan? Komeng kembali merenung-renung di rumahnya. Apa perempuan itu lagi? Mata Komeng menerawang. Pada dasarnya, Komeng tak keberatan para preman itu mampus satu per satu. Malah Komeng merasa aman jika preman-preman yang suka memeras dirinya, juga rekan-rekannya di tempat mangkal itu, habis digaruk petugas atau tewas dibunuh seterunya seperti yang baru-baru ini terjadi. Dalam satu minggu sudah tiga nyawa preman melayang. Namun yang jadi pikiran Komeng sekarang, apakah perempuan itu juga yang membunuh Mirsan? Jika benar, ada apa dengan kedua rekan Mirsan? Komeng tambah bingung.

"Kira-kira dosa apa yang mereka perbuat sehingga satu demi satu kelompok Jabrik dibunuh, Kang?" Sengir menyibak kebingungan suaminya. Komeng menghela napas. Tak habis pikir dia, dan seakan sulit menemukan jawaban yang pasti.

***

Malam sunyi. Bulan termakan mendung sepotong. Komeng tetap mengojek, menawarkan jasa kepada orang-orang yang pulang larut malam di daerah itu. Malam sunyi. Bulan terus digerogoti mendung. Yang masih bisa ditangkap telinga, tinggal suara radio dari beberapa warung remang-remang atau warung siluman di sepanjang bantaran kali yang buka mulai pukul 22.00 dan tutup menjelang matahari terbit. Juga cekikikan para wanita penghibur kelas teri saat menggoda lelaki hidung belang yang kerap mampir ke warung itu.

Dari dalam salah satu warung siluman itu, Jabrik keluar sambil membawa botol minuman. Komeng sudah tak heran melihat Jabrik mabuk seperti itu. Kepala preman itu berjalan gontai menuju arah gardu. Komeng akan tak peduli ke mana perginya si Jabrik kalau saja matanya tak melihat sesosok makhluk secara bebarengan keluar dari balik pohon lalu diam-diam mengikuti langkah Jabrik dari arah belakang. Dan Komeng sangat terkejut melihat yang mengikuti Jabrik dari belakang ternyata perempuan misterius itu. Tiba-tiba hati Komeng tergerak untuk menguntit langkah mereka.

Perempuan itu laksana seekor kijang jantan bergerak lincah kesana-kemari untuk menghindari mata orang yang diikutinya. Mungkinkah perempuan itu juga yang membunuh Mirsan? Komeng membatin. Di tempat yang gelap tiba-tiba Jabrik kena dibokong oleh perempuan itu.

"Sekarang tinggal kau yang harus mampus, hey, bajingan!" tukas perempuan itu seraya menghantamkan sebuah batu besar ke kepala Jabrik dengan sekuat tenaga. Jabrik yang lepas kontrol, terhuyung-huyung tak tentu arah. Botol minuman yang dipegangnya terlepas. Komeng terkesima melihat kejadian itu dari di tempat ia berdiri. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya. Perempuan itu begitu ganas menyerang Jabrik yang lemah karena mabuk berat. Jabrik merintih. Tangannya memegangi kepalanya yang berdarah dihantam batu.

"Dua bulan lalu, aku bersama saudara kembarku, kalian todong, kalian peras! Sampai-sampai saudara kembarku kalian perkosa sebelum kalian bunuh di gardu itu, lalu mayatnya kalian buang begitu saja di bantaran kali. Aku yang lolos dari kebrutalan kalian, sekarang menuntut balas! Nih, rasakan!" Jeb! Jeb! Sebilah pisau menghunjam ke perut Jabrik berkali-kali. Mata Jabrik mendelik. Tubuhnya kelojotan, kemudian diam tak berkutik.

Komeng menggigil di balik pohon. Mulutnya gagap. Gemetar. Sungguh sangat jelas Komeng melihat Jabrik dibantai begitu rupa hingga meregang nyawa oleh perempuan yang ternyata kembaran dari perempuan yang tewas terbunuh di atas bantaran kali dua bulan lalu.***

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i