PELUNCURAN BUKU Amien Rais: Reformasi Gagal Perbaiki Nasib Bangsa
BUKU AMIEN RAIS - Mantan Ketua MPR Amien Rais memberikan buku kepada mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada peluncuran buku Amien Rais yang berjudul Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia. di Jakarta, Selasa (13/5). (Ant/HO)
Rabu, 14 Mei 2008
JAKARTA (Suara Karya): Mantan Ketua MPR Amien Rais menilai, selama 10 tahun reformasi bergulir, baru bidang politik yang tampak ada perubahan. Bidang lain, seperti ekonomi, hukum, dan pendidikan belum sepenuhnya berubah.
Dari tiga bidang tersebut, bidang ekonomi seolah tidak ada kemajuan, justru mengalami kemunduran. "Sumber-sumber migas justru banyak yang diserahkan pengelolaannya kepada pihak asing," ujar Amien Rais pada acara peluncuran bukunya, Selamatkan Indonesia, di Jakarta, Selasa.
Acara itu dihadiri mantan Wakil PM Malaysia Anwar Ibrahim, Wakil Ketua MPR Mooryati Soedibyo, Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.
Di bidang pendidikan, menurut Amien Rais sudah mengarah kepada liberalisasi dan feodalisme sehingga pendidikan menjadi sangat mahal. Untuk bidang hukum, sebenarnya ada perkembangan, tetapi masih terkesan tebang pilih.
Bagi Amien Rais, masalah besar yang senantiasa bergejolak adalah mengapa bangsa Indonesia terus saja miskin, terbelakang, dan tercecer dalam derap kemajuan bangsa-bangsa lain.
"Hal ini akibat nasionalisme bangsa Indonesia yang sempit, yang hanya bergelora pada penampilan luarnya," katanya.
Amien Rais juga meminta agar dirinya tidak terus disalahkan terhadap kegagalan reformasi yang tidak membawa banyak perbaikan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
"Jangan saya terus yang ditanya dan disalahkan. Ke mana yang lain. Apalagi, saya kini sudah tidak lagi aktif dan menarik diri dari politik," katanya.
Amien Rais mengakui dirinya tidak kuat apabila harus menanggung beban tanggung jawab sendirian atas kegagalan reformasi. "Tentu tidak kuat apabila harus menanggung sendiri. Tugas intelektual dan politik saya sudah terpenuhi," katanya.
Dalam bukunya, Amien Rais mengibaratkan bangsa ini sebagai rumah di pinggir jalan raya. Namun, Amien menilai bangsa dan pemerintah Indonesia yang memiliki rumah ini memiliki obsesi aneh. Obsesi itu adalah bagaimana rumah pagar itu selalu terlihat bersih, mengkilat, dan tidak boleh berdebu.
"Sehingga ketika perabotan rumah dicuri di depan mata si pemilik rumah, ia tidak begitu peduli. Bahkan ketika istri dan anak-anaknya dibawa ke luar oleh orang lain, si pemilik rumah tidak mengambil tindakan apa pun. Ia hanya bisa menonton, seolah tidak ada sesuatu yang dirisaukan," tulis mantan ketua umum DPP PAN ini.
Amien Rais menyindir hal ini terkait dengan penguasaan asing terhadap aset-aset nasional Indonesia. Banyak sumber daya alam (SDA) yang dikuasai oleh negara adidaya.
Menurut Amien, saat ini, pada dasarnya kekuatan-kekuatan korporatokrasi di awal abad 21 tidak mudah, bahkan mustahil dengan gampang bisa mengacak-acak kedaulatan ekonomi Indonesia, seandainya elite nasional tidak membungkuk dan tiarap. Masalahnya, saat ini, banyak pemimpin Indonesia yang masih mewarisi mental inlander.
Amien mencontohkan kehadiran Presiden AS George W Bush pada akhir 2006 lalu. Menurut dia, banyak pemimpin bangsa Indonesia yang "ketakutan" dan merasa panas dingin karena Presiden Bush akan mampir ke Indonesia.
Sementara saat memberikan sambutan, Sutiyoso menilai Amien Rais sebagai sosok intelektual yang cerdas dan berani. "Banyak orang yang cerdas tetapi tidak berani dan yang tidak cerdas tapi berani," kata Sutiyoso.
Buku Amien tersebut, katanya, amat lengkap dalam memotret permasalahan bangsa ini secara gamblang serta mengoreksi berbagai kebijakan masa lalu dan masa kini yang merugikan bangsa. "Indonesia menjadi salah satu negara yang paling bermasalah di dunia," katanya.
Berkaitan dengan peringatan 10 tahun reformasi dan seabad kebangkitan nasional, menurut Sutiyoso, buku Amien Rais itu menjadi sangat penting untuk disimak, apalagi bagi calon presiden mendatang.
"Pemimpin harus tahu benar permasalahan bangsa untuk diatasi. Kalau saya dipercaya untuk memimpin bangsa ini, saya pasti merespons isi buku ini. Jangan tanya lagi. Jangan tanya Sutiyoso berani atau tidak, itu sudah lewat," katanya. (Rully)
|
|