Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Cerpen 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
Bibir Biru
Oleh Naning Pranoto
Rahasia Emak
Oleh Noor Amanah
Tetes Air di Kamar Jenazah Pak De
Oleh Sunaryono Basuki Ks
Perempuan Beraroma Melati
Oleh: Kurniawan Junaedhie
Sebuah Mimpi
Oleh: Agus Sunarto
Si Bunian
Oleh: DTA Piliang
arsip  
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
arsip  
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
Dendam Bapak
Cerpen: Bagus S Pramudya


Sabtu, 28 Juni 2008
Kulihat bapak terus mengasah golok itu. Batu asahan pipih berbentuk empat persegi panjang seperti tak berdaya menerima tekanan tangan bapak yang kokoh. Mata golok berkilat-kilat tertimpa sinar matahari pagi yang hangat.

Ya, pagi ini matahari sesungguhnya bersinar hangat. Bias sinarnya menerabas batang-batang pohon di halaman belakang rumah kami. Pohon jambu, sawo kecik, mangga, rambutan dan beberapa batang pohon pisang. Pohon-pohon yang usianya hampir sama dengan usiaku yang hampir dua puluh dua tahun.

Biasanya setiap pagi, apalagi pagi dengan sinar matahari yang hangat seperti pagi ini, kami biasa bercengkerama di halaman belakang rumah kami. Bapak biasa mengawali pagi dengan berkeliling halaman belakang, memeriksa pohon-pohon kami. Bila ada dahan atau ranting yang patah, bapak akan segera memangkasnya.

Berikutnya, dengan wajah sumringah beliau akan menyapu seluruh halaman belakang tersebut. Membersihkan daun-daun yang rontok berserakan, mengumpulkan di sudut halaman dan membakarnya. Pekerjaan itu memakan waktu tak lebih dari dua jam.

Sementara bapak menyapu, aku dan ibu sibuk di dapur mempersiapkan sarapan pagi. Seperti biasa, ibu membuat nasi goreng dan goreng telor mata sapi. Menurut ibu, itu masakan favorit bapak sejak muda dulu. Dan, setiap kali membantu ibu, benakku selalu diliputi pertanyaan, apakah bapak tak pernah bosan dengan sarapan nasi goreng.

"Tak usah bingung, Zeda!" sepertinya ibu tahu apa yang ada di benakku. "Nasi goreng ini menjadi simbol cinta bapakmu kepada ibu. Bayangkan jika bapakmu mulai bosan dengan masakan ibu, bisa jadi bapakmu mulai tergoda dengan wanita lain."

"Apakah cinta lelaki terhadap perempuan hanya sebatas masakan, Bu?" aku menggoda.

"Bisa juga begitu, Zeda. Makanya kamu pun harus pandai-pandai melihat masakan apa yang disukai Muhdor, kekasihmu itu!" ibu memberi peringatan.

Itu percakapan aku dengan ibu seminggu yang lalu. Kebiasaan kami menyiapkan sarapan pagi -sepiring nasi goreng dan telor mata sapi- buat bapak seminggu belakangan ini tak lagi kami lakukan. Setiap pagi aku melihat bapak hanya mengasah golok. Sementara ibu lebih banyak mengurung diri di kamar.

Bapak pun tak mau lagi berkeliling halaman, melihat-lihat pohon buah kami. Banyak dahan dan ranting yang patah karena angin dan hujan semalaman, tapi bapak tak peduli. Daun-daun yang berserakan pun enggan dibersihkan. Akibatnya, halaman belakang rumah kami menjadi centang-perenang, penuh daun-daun yang rontok. Pagi ini bapak lagi-lagi mengasah goloknya. Tajamnya mata golok semakin mengkilat berwarna perak. Aku bergidik melihatnya. Entah darah siapa yang akan merubah warna perak itu menjadi merah. Bapak mengangkat goloknya, didekatkan pada wajahnya. Lalu, ibu jari dan telunjuk tangan kirinya mengusap-usap mata golok yang tajam berkilat, turun-naik seperti mengurut-urut. Bapak bergumam, "Dasar tak tahu diri..!"

Bapak bangkit berdiri. Disepaknya batu asahan hitam yang ada di ujung kakinya. Batu menggelosor, berhenti lima langkah di depan bapak setelah menabrak akar pohon mangga yang mencuat dari dalam tanah. Bapak melangkah garang. Matanya tajam menatap sekeliling halaman. Sinar matahari pagi yang hangat seakan berubah redup, tak sanggup menandingi sorot mata bapak yang memendam amarah.

Aku yang tengah berdiri di ambang pintu dapur beringsut ke dalam. Aku takut kemurkaan bapak akan bertambah bila mengetahui aku melihat kesibukannya pagi ini. Aku bergeser ke arah jendela samping rumah yang sengaja kututup setengahnya, biar aku leluasa melihat tingkah laku bapak.

Kulihat bapak berjalan mondar-mandir. Golok diacung-acungkan kian-kemari. Mulut bapak menceracau, tapi aku tak mendengar maknanya dengan jelas. Aku hanya bisa menangkap dua nama yang selalu disebut.. Karna dan Lempang.

Aku terhenyak. Badanku menggigil ketakutan. Ingin beringsut tapi tak bisa. Tubuhku lemas. Lempang.. nama yang cukup akrab di telingaku. Tapi nama itu pula yang menjadi bara di dada bapakku.

Hampir sepuluh tahun bapakku dan Lempang bermusuhan. Bapak menganggap Lempang adalah orang yang membuat hidupnya susah. Kekayaan bapak ludes gara-gara Lempang. Uang bapak hilang gara-gara Lempang. Begitulah yang kudengar.

Sedikit cerita yang kudapat dari ibu.. dulu bapakku dan Lempang adalah dua sahabat karib. Persahabatan yang terjalin sejak mereka muda dan bujang. Bapakku dan Lempang sama-sama orang muda yang ulet dan tahan banting. Mereka berdua tak mau hidup terkungkung di kampung. Dengan sedikit modal, bapakku dan Lempang merantau ke ibukota.

Di ibukota, bapakku dan Lempang bekerja keras, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Setelah uang tabungan dirasa cukup, bapakku dan Lempang memilih pulang kampung. Dan, dari uang tabungan yang mereka kumpulkan tahun demi tahun, bapakku dan Lempang sukses mengembangkan usaha. Bapakku mengembangkan usaha penggergajian kayu, sedangkan Lempang membuka usaha ternak ayam.

Perjalanan nasib pun menjadi lebih mudah. Tak berapa lama bapak pun menikahi ibuku. Setahun mereka menikah lahirlah Karna, kakakku. Lalu, tiga tahun berikutnya lahirlah aku. Lengkaplah kebahagiaan bapakku.

Tak beda dengan bapakku, Lempang pun menemukan jodohnya. Mereka menikah sebulan setelah bapakku menikah. Tapi, beda dengan bapakku yang segera dikaruniai anak, Lempang tidak. Hampir dua tahun Lempang berumah-tangga tapi tak jua mendapat momongan.

Bapak dan ibuku turut prihatin melihat kehidupan rumah tangga Lempang. Hampir tiap hari Lempang murung. Sampai suatu hari Lempang berkunjung ke rumah bapak. Setelah basa-basi menanyakan kabar, Lempang mengutarakan maksudnya. Intinya, Lempang ingin membawa Karna, kakakku. Memang di kampung kami ada kepercayaan jika orang tak segera mempunyai anak, hendaknya memungut anak orang lain sebagai anak pancingan.

Ibuku semula tak mau melepaskan Karna. Tapi, setelah diberi pengertian panjang lebar oleh bapakku, hati ibu pun luluh. Dengan berat hati ibu mengijinkan Karna dibawa oleh Lempang. Lempang sendiri berjanji pada ibuku bahwa ia tak pernah mengangkat Karna sebagai anaknya. Jika nanti istrinya hamil, Karna akan segera dipulangkan ke ibu-bapakku. Ibu pun setuju.

Hanya beberapa bulan Karna dibawa, istri Lempang hamil. Lempang pun suka cita menyambutnya. Rasa sayang Lempang terhadap Karna tambah mendalam. Karna dianggapnya sebagai anak pembawa keberuntungan. Saking sayangnya pada Karna, Lempang lupa dengan janjinya untuk mengembalikan Karna pada ibuku. Namun, bapak dan ibuku tak mempersoalkan. Kata bapak, kebahagiaan Lempang adalah kebahagiaannya juga.

Sembilan bulan setelah kehamilan istrinya, Lempang dikaruniai bayi laki-laki yang sehat. Kelahirannya tak beda jauh dariku. Anak laki-laki itu diberinya nama Muhdor.

Sementara itu, usaha bapakku dan Lempang semakin berkembang. Sampai suatu ketika musibah itu datang. Lempang kedatangan seorang tamu dari ibukota. Sepintas dilihat tamu tersebut seperti seorang pengusaha. Tamu tersebut pintar bercerita dan sungguh-sungguh memikat. Tutur katanya sopan dan terdidik. Sang tamu menawarkan bisnis yang menggiurkan pada lempang. Jual beli batu permata. Lempang tertarik. Tak tanggung-tanggung, semua modal yang dimiliki diberikan pada sang tamu.

Tak cukup puas dengan modalnya sendiri, Lempang merayu bapakku untuk ikut menanamkan uangnya di bisnis tersebut. Entah karena persahabatan atau tergoda dengan keuntungan yang besar, bapak pun setuju. Tak beda dengan Lempang, seluruh modal yang bapak miliki dibawa oleh sang tamu.

Sebulan berlalu, tak ada berita seperti yang dijanjikan. Setahun, dua tahun.. tamu yang datang dari ibukota tersebut seperti menghilang. Sosoknya tak bisa dilacak, lenyap bersama uang modal usaha milik bapakku dan Lempang.

Bapak pun sadar, mereka tertipu. Dan, semua gara-gara Lempang. Persahabatan bapakku dan Lempang pun hancur. Perseteruan abadi langsung berkobar. Bapakku tak mau lagi mengenal Lempang.

* * *

Krasshhh!!! Aku tersentak. Terdengar suara dahan pohon patah berderak. Berulang dua-tiga kali, kemudian buummm.. berdentam jatuh ke tanah. Dengan gemetar aku mengintip ke halaman belakang. Kulihat bapak yang murka mengamuk, menebasi dahan-dahan pohon rambutan. Mata golok berkelebatan mengikuti ayunan tangan bapak.

"Lempang.. sepuluh tahun aku simpan dendam ini. Hampir beku oleh waktu.. tapi kini anakmu Muhdor.. kembali mengobarkan! Lempang,, kata-kata tak lagi ingin kuucapkan tapi mata golokku ini yang akan berbicara..!!" teriak bapakku garang.

Krasshh..!!! Bapak kembali mengayunkan goloknya. Dahan pohon sawo kecik patah. Tiga burung sriti yang hinggap di dahan atasnya serabutan terbang melarikan diri. Sekali lagi bapak mengangkat goloknya. Tiba-tiba aku melihat sekelebatan bayangan perempuan lari dari dapur menuju halaman belakang.

Ibu jatuh berlutut menubruk kaki bapak. "Sadar.. Pak.. sadar..!! Yang sabar..!!!" Ibu menghiba-hiba di hadapan bapak.

Bapak tak segera menjawab. Wajahnya kulihat merah padam menahan amarah. Bapak menghela nafas.

"Sepuluh tahun aku menahan sabar, Ida, tapi sekarang tidak bisa lagi. Anakmu, Zeda dan Muhdor, anak si Lempang telah membangunkan dendam yang lama kutidurkan. Tak sudi aku berbesan dengan si Lempang. Manusia yang membuat kita miskin!" tegas bapakku.

"Kita tidak miskin, Pak. Kehilangan harta tak membuat kita miskin. Nyatanya kita masih bisa hidup hingga hari ini. Dan, soal si Zeda dan Muhdor itu urusan mereka anak-anak muda. Kita tak bisa menghalangi. Jika mereka saling mencinta kita tinggal merestui," ibu berkata lembut, mencoba menurunkan amarah bapak.
"Tidak bisa..!" teriak bapak.

Bapak mendengus. Mendorong ibu dan berjalan cepat sambil menghunus goloknya. Aku tahu kemana tujuan bapak. Tanpa menunggu lebih lama, aku segera melesat mendahului bapak. Aku bergegas ke rumah Muhdor.

Sampai di depan rumah Muhdor, aku teriak-teriak memanggil Muhdor. Belum sampai lima menit, Muhdor, laki-laki yang hampir dua tahun ini aku pacari, muncul di ambang pintu. Segera kuseret tangannya dan kubawa ke halaman samping rumahnya. Dengan singkat kuceritakan apa yang terjadi di rumahku tadi dan apa yang kucemaskan bakal terjadi di rumah Muhdor.

Mendengar ceritaku Muhdor berusaha tenang, namun raut wajahnya terlihat juga kecemasan. Muhdor menyarankan agar aku pulang. Tapi, aku tak mau. Aku lebih takut berada di rumah. Lebih baik aku berdiri di samping Muhdor, bersama-sama menghadapi kemarahan bapakku.

Detik demi detik terasa berat. Kami menunggu. Tak berapa lama muncul sosok laki-laki gagah itu. Langkahnya tegap. Wajahnya mengelam, kaku diliputi dendam. Tangan kanannya menghunus golok, yang satu sisinya berkilau menyilaukan. Di belakang laki-laki itu terseok-seok seorang perempuan separuh baya, mengikuti bapakku. Perempuan itu ibuku. Aku menggigil di sisi Muhdor.
"Lempang..!!" teriak bapakku. "Jangan jadi laki-laki pengecut! Keluarlah!"

Bapakku menunggu. Tak berapa lama muncullah Lempang. Air mukanya sangat tenang. Lempang berjalan perlahan. mendekati bapak. Tiga langkah di depan bapak, Lempang berhenti.

"Kalau nyawaku ini sanggup membayar semua hutang dendammu padaku.. ambillah. Aku takkan melawan," tutur Lempang halus. Mendengar ucapan Lempang bapak terpaku. Dendam yang membuncah tak menemukan lawan. Bapakku diam mematung. Sekian menit kutunggu tak terjadi apa-apa. Tiba-tiba.. bapak memutar tubuh dan berjalan pulang. Amarah di hatinya meredup lantaran kepasrahan Lempang. Aku pun tengadah, melihat langit yang siang ini tampak indah, setidaknya bagi diriku dan Muhdor. ***


Cibinong, Maret 2008


Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i