Sajak-Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim
Sabtu, 28 Juni 2008
SERDADU
seorang serdadu kehilangan kaki
datang dari Cimahi
namun tidak kehilangan hati
untuk diamuk badai sepi
angin salju tajam menikam
terhuyung ia berjalan di pengkolan
dengan kaki palsu
ia melangkah maju
semua ini adalah cermin kesepian
yang tertuang dalam bentuk persahabatan
di negeri asing
ia terbaring
Jakarta, Desember 2007
TANPA TAPAK DAN JEJAK
Katakanlah padaku
Kalau hanya desau anginmu
Bicara sonder kata
Jam makin sarat memutar jarummu
Engkau pun tahu
Kehampaan sungguh pun mencari maknanya
Di luar dirimu, di luar diriku
Kemudian ulurkan tanganmu
Goreskan pada dinding masa lalu
Mari
Bergegas lewat
Tanpa tapak
Tanpa jejak
Jakarta, Desember 2007
SEBUAH SYAIR NYANYIAN
Sehabis rencana
Selebihnya tiada
Kan lalu
Kan lalu
Kuasakan tanganmu
Meraih dalam waktu
Di hari kerjamu
Menunggu remangnya hari
Menunggu remangnya hari
Menunggu. DanMenunggu
Detik telah lewat
Dan tinggal menyentuh ragu
Kemarin yang tulis
Dalam mangu
Sebuah nyanyi
Sebuah nyanyi
Dengan mula syairnya
Semua yang kulihat
Semua kelabu
Jakarta, Desember 2007
LANGKAHKU
kemarau membakar segala hidup
retak sawah-sawah, kering padang lalang
gersang menyengat darat
air pun surut
debu-debu tanah merah
semakin lekat mewarnai jalan ini
kehidupan yang tersaruk-saruk
yang mana jalan?
dan angin semakin kencang
meniupkan sengatan panas
nafasku tersengal
ini hidung penuh debu
bukan harum bunga atau sejuk udara
mengantarkan langkahku ke tepi sana
: retak tanah terang menganga
aku pun haus!
Jakarta, Desember 2007
NYANYIAN MALAM
lama kita meraba-raba
gigir telaga
kadang kita tengok fatamorgana
di celah-celah
segala buih
kian bertepi
basah di tubuh kita
Nah,
jangan kau lempar renyap angsa-angsa
agar bulu-bulunya tak berserak
duka!
Jakarta, Desember 2007 |
|