Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Puisi 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
Puisi Puisi
Eka Fendri Putra
Puisi Puisi
Noor Sam
Puisi-Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Noor Amanah
Puisi-puisi
Noorsam
Puisi Puisi
Faidil Akbar
arsip  
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
arsip  
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
Sajak-Sajak
Restoe Prawironegoro Ibrahim


Sabtu, 28 Juni 2008

          SERDADU

seorang serdadu kehilangan kaki
datang dari Cimahi
namun tidak kehilangan hati
untuk diamuk badai sepi

angin salju tajam menikam
terhuyung ia berjalan di pengkolan
dengan kaki palsu
ia melangkah maju

semua ini adalah cermin kesepian
yang tertuang dalam bentuk persahabatan
di negeri asing
ia terbaring

                              Jakarta, Desember 2007


     TANPA TAPAK DAN JEJAK

Katakanlah padaku
Kalau hanya desau anginmu
Bicara sonder kata
Jam makin sarat memutar jarummu
Engkau pun tahu
Kehampaan sungguh pun mencari maknanya
Di luar dirimu, di luar diriku
Kemudian ulurkan tanganmu
Goreskan pada dinding masa lalu
Mari
Bergegas lewat
Tanpa tapak
Tanpa jejak

                         Jakarta, Desember 2007


     SEBUAH SYAIR NYANYIAN

Sehabis rencana
Selebihnya tiada
Kan lalu
Kan lalu

Kuasakan tanganmu
Meraih dalam waktu
Di hari kerjamu
Menunggu remangnya hari
Menunggu remangnya hari
Menunggu. DanMenunggu

Detik telah lewat
Dan tinggal menyentuh ragu
Kemarin yang tulis
Dalam mangu
Sebuah nyanyi
Sebuah nyanyi
Dengan mula syairnya
Semua yang kulihat
Semua kelabu

                         Jakarta, Desember 2007


          LANGKAHKU

kemarau membakar segala hidup
retak sawah-sawah, kering padang lalang
gersang menyengat darat
air pun surut

debu-debu tanah merah
semakin lekat mewarnai jalan ini
kehidupan yang tersaruk-saruk
yang mana jalan?

dan angin semakin kencang
meniupkan sengatan panas
nafasku tersengal
ini hidung penuh debu

bukan harum bunga atau sejuk udara
mengantarkan langkahku ke tepi sana
: retak tanah terang menganga
aku pun haus!

                         Jakarta, Desember 2007


     NYANYIAN MALAM

lama kita meraba-raba
gigir telaga
kadang kita tengok fatamorgana
di celah-celah
segala buih
kian bertepi
basah di tubuh kita

Nah,
jangan kau lempar renyap angsa-angsa
agar bulu-bulunya tak berserak
duka!

                         Jakarta, Desember 2007 

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i