Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Cerpen 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
Bibir Biru
Oleh Naning Pranoto
Rahasia Emak
Oleh Noor Amanah
Tetes Air di Kamar Jenazah Pak De
Oleh Sunaryono Basuki Ks
Perempuan Beraroma Melati
Oleh: Kurniawan Junaedhie
Sebuah Mimpi
Oleh: Agus Sunarto
Si Bunian
Oleh: DTA Piliang
arsip  
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
arsip  
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
Irigasi Bojong Loa
Cerpen: Beni Setia


Sabtu, 5 Juli 2008
SETELAH tiga bulan menghilang, si "Robohnya Surau Kami" akhirnya muncul di rumah. Mematung depan pintu terbuka, menunggu salah seorang dari kami menandai dan menemuinya - menanyainya. "Saya mencari Ahmad Bajuri, wartawan dan pengarang," katanya, seperti tiga tahun lalu ia memulai kunjungan perkenalannya, dengan tas kresek di tangan dan gitar di punggung.

Aku tertawa. Mengajaknya masuk, menawarinya rokok, dan menyulut sebatang sambil menunggu dua gelas kopi dibuat di dapur. Ia agak mabuk. Ia anak belakang yang biasa bergerombol di pos Kamling dekat jembatan irigasi yang ada di kiri gang yang memuara ke jalan utama. Ada pohon ketapang besar di sana, ada tepi jembatan beton yang teraling matahari sore di sana, dan tak ada kelompok becak dan warung di situ sehingga anak-anak biasa bergerombol sejak petang sampai tengah malam. Bergitar. Bernyanyi. Minum. Mabuk.

Mungkin memeras recehan dari yang lewat meski tak pernah dilakukan padaku. Mungkin karena aku wartawan. Mungkin karena aku kadang memberi mereka rokok. Dan berkali-kali mengajari tehnik yang benar dalam menekan senar gitar dengan tekanan jari dan hempasan atau garukan jari dari tangan lain agar dicapai nada sesuai kunci yang tepat. Dan sekali aku mengongkosi mereka ikut Lomba Musik Jalanan, dan dapat juara harapan 2 - lantas sebagian dari mereka jadi pengamen di bis kota dan restoran kaki lima.

Si "Robohnya Surau Kami" salah satunya. Yang sekarang berkunjung sambil membawa satu kresek kaset-kaset lagu rock, yang diletakkannya secara amat hati-hati, dan gitar yang disandarkan di kursi samping seakan-akan itu orang. Mengeluarkan rokok dan menyulut sebatang. Menikmatinya, seakan perang usai dan dunia mulai memasuki kedamaian baru. Ritualistik sekali. Khas.

* * *

NAMANYA Komarudin, dan anakku yang memberinya gelar si "Robohnya Surau Kami" - cerpen AA Navis. Sebuah rekaan yang berbicara tentang Tuhan yang marah pada orang Indonesia, yang ditakdirkan hidup di negara subur, yang tak dimanfaatkan untuk mensejahterakan bangsa, sibuk gontok-gontokan antar sesama, tak berdaya saat kekayaan alamnya dikeruk pihak asing, dan melulu beribadat agar masuk Sorga. Tapi mereka tak dimasukkan ke Sorga karena melakukan dosa sosial, alpa pada kewajiban kekhalifahan manusia yang ditakdirkan ada di satu tempat untuk memakmurkan tempat itu.

Dan Komar - entah dari mana, mungkin dari pelajaran bahasa dan sastra Indonesia sebagai lulusan SMA - menangkap seluruh adegan itu sebagai sebuah realitas hari pengadilan. "Kalau kita mati, dan ditanya Tuhan," katanya, sambil berdiri dalam setengah mabuk, "kita diam saja. Biarkanlah Tuhan yang buat deskripsi dan kita cuma mengangguk saja. Jangan sok suci, jangan PD macam para kiai dan orang masjid, yang bikin Tuhan marah karena klaim-klaim yang berlebih - sehingga digusur ke neraka. Kita diam saja. Kita pasrah saja. Kita ini seniman. Tak pernah usil. Tak ingin menyakiti orang lain. Selalu berdoa sebelum berkarya. Dan kalau lelah susah tidur minum sedikit agar tak usil dan jail pada orang lain."
"Dan kita tetap masuk neraka?"
"Tak lama. Pasrah saja - daripada sok benar dan protes pada Tuhan?"

Aku tertawa. Komar tersenyum. Menyeruput kopi yang dituang pada pisin alas mangkuk kopi. Menyulut rokok. Memusatkan perhatian. Dan meloncat pada pokok persoalan lain. Fokus meski penuh loncatan. Dan minta tanggapan tentang anggapan Islam yang tidak membolehkan gambar wajah dan patung sosok. Aku bilang, itu hanya alasan agar orang tak terlalu mengistimewakannya, memuja mujanya sebagai kesempurnaan sehingga melupakan Sang Maha Pencipta. Ia manggut-manggut, dan menuntut tanggapan pribadi. Aku bilang, aku suka gambar wajah dan patung sosok.
"Habis indah sih."
Komar tertawa. Tawa yang lepas dari lubuk hati paling dalam.

* * *

EMPAT tahun lalu ia punya pacar dan mereka tampaknya sepakat jadian sampai ada yang mengadukan kebiasaannya mabuk - selain masih menganggur. Percintaan itu putus. Ia terpuruk. Tenggelam dalam minum, total bergitar dan berteriak lantang menembangkan segala lagu populer sejak petang sampai dini hari. Latihan vokal yang hebat, pikirku - karenanya aku mampir dan memberikan advis tehnis sambil lalu. Tapi Komar sangat bersungguh-sungguh. Over serius malah.

Ia ikut lomba, dan serius ngamen. Kemudian pamit, karena diajak cukong yang mau bikin band baru - Getret, namanya - dan tertarik pada lengkingan vokalnya. Aku mendorongnya. Aku bilang agar ia makin serius melatih ketepatan grip dan seterusnya. Aku minta agar tiap nada yang dipilihnya pasti sekaligus agar bisa disalin dalam notasi angka - belum not balok - secara pasti. "Itu modal agar kamu bisa ngarang lagu. Bikin melodi yang akan gampang dibuatkan liriknya oleh siapa saja," kataku. Komar menatap. Tidak percaya diri. Dan aku mendorongnya untuk berani.

Dan sekarang ia muncul di rumah, dengan tas kresek berisi koleksi kaset, dan gitar tersampir di punggung - aku ingat gaya Bon Jovi - dan bilang ingin bertemu. Aku mengajaknya duduk, dan merokok sambil menunggu kopi dari dapur. Ia tampak berkonsentrasi. Mengumpulkan keberanian buat siap memulai sederetan kata yang akan mengungkapkan tujuannya mampir. Aku menatap. "Ada apa?" kataku, membuka kran keberanian berterus terang. Komar tersentak. Menata gitar dan memainkan beberapa kunci yang tepat dengan berurutan.

"Aku mengarang lagu, Bang."
"Yang itu?"

"Ada beberapa. Tolong diberi kata-kata," katanya, tersipu. Aku Mengacungkan jempol. Mengambil kertas dan pulpen. Minta agar ia memainkan varian chord itu sekali lagi. Mencoba membuat transkripsi tertulis tanpa lirik, lalu bersama-sama membuat lirik. Sampai tengah hari kami bisa membuat tiga buah lagu - anakku ikut nimbrung dan bernyanyi, diikuti oleh beberapa teman Komar yang biasa nongkrong di jembatan. "Ini hari besar Blok Irigasi," kataku, "siapa tahu lagu ini sukses." Mereka berteriak. Orang-orang tua datang. Mendukung. Tertawa. Dan dengan tulus mendoakan Komar - mata Komar berkaca-kaca.

* * *

TUJUH bulan kemudian album Getret ke luar. Salah satu lagu ciptaan Komar, "Blok Irigasi, Bojong Loa", meledak. Lagu itu bercerita tentang anak-anak muda yang selalu nongkrong di jembatan, dekat pos Kamling bawah teduh pohon ketapang, yang bernyanyi dan mabuk dari petang sampai dini hari, tapi tak pernah berkelahi dan mengganggu orang lain. Yang videoklipnya dibuat di jembatan itu dengan memanfaatkan anak-anak. Aku tersenyum. Komar bangga.

Malamnya dan diam-diam ia bertanya tentang apa yang harus dilakukannya.

Aku tersenyum. Meminta agar ia selalu berlatih karena itu modalnya, dan modal itu harus dipelihara dengan tubuh yang sehat. Aku minta agar ia tak terlalu banyak minum, cukup istirahat, cukup makan, dan berolahraga. Masa depan ma-sih panjang dan itu harus dikunci dengan tetap sehat dan kreatif. Komar tersipu. "Apa Wartini akan kembali padaku? Orang tuanya akan mengembalikannya?" katanya. Aku menelan ludah. Mengajaknya duduk di pojok.

"Mungkin akan kembali. Tapi apa kembali karena cinta atau karena kamu sudah jadi selebriti?" kataku. Komar tersenyum. Tapi aku minta agar ia mencari tahu isi hati Wartini, dengan menulis lagu tentang cintanya pada Wartini. Lagu yang meledak - ada lima versi lagu di lima album - tapi tak pernah mengembalikan Wartini. Ya! Karenanya aku membujuk agar bersabar, karena siapa tahu Tuhan akan mengganti Wartini dengan perempuan yang memang jodohnya. Komar tersenyum. Cuma tersenyum ketika aku menyuruh menginvestasikan penghasilannya secara hati-hati, karena (siapa tahu) itu harta yang disediakan Tuhan bagi anak-anaknya.

Dan sampai usia 33 tahun Komar masih saja mabuk dari petang, lalu lantang bernyanyi sampai dini hari - di mana pun, kapan pun. ***

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i