Malam Pergi
aku telah melewati jalan itu
mencarimu
kemarin kamu
telah mencuri sajakku kan?
daun-daun berjatuhan
rambutku
tak mungkin bertahan
mungkin aku akan kandas
sementara kamu makin
jauh terlepas
tikungan itu terlalu ramai
aku lenyap dalam kerumunan
kau melihatku megap-megap kan?
tapi kamu tinggal
bayang-bayang malam
lebih gelap dari pohon asam
rumah ini sudah sunyi
mengepak kegembiraan
dan kesedihan
sebuah surat sudah kutulis
dan kuletakkan di bawah pintu
aku tak mungkin keluar
dari kerumunan
hujan dan debu
tertulis rapi di sini
maka nona,
ini kakiku, kurus sekali kan?
semua kuserahkan tanpa
kesedihan atau kegembiraan
: kamu tak menginginkannya.
Pondok Pinang Mei 2008.
Pencuri
mencuri selembar
ingatan dari kepalamu
sebagai tiket yang mengantarku pulang
aku capek mendekap kesunyian kamar
lampu-lampu kubekukan
kuletakkan di atas televisi
aku terbang tanpa roh
lalu aku kembali tertidur
meraba-raba degup mimpi yang mengecil
terlipat di halaman buku
aku lelah membaca. mataku perih
seperti melihat kamu
mengulum bibir pacarmu
di pojok stasiun itu
aku menyimpan adegan itu
di ujung sepatuku
jalan lengang ini menyeretku
kusalami kamar-kamar sunyi
aku sedang memerlukan
angin yang lain
yang pernah surut di dalam kamar
dan kini berkobar di jalan-jalan
lalu orang-orang itu berdatangan
memberiku kepalan tangan
lalu aku berlari
dan jam terus menari
Pondok Pinang, Mei 2008
Keberangkatan
orang itu menatapku
seakan hendak mencuri
sesuatu dari mataku
mungkin dia menginginkan kesepianku
yang mengendap jauh
di halaman-halaman buku
aku merapikan jendela,
memeriksa lemari baju
lalu terdiam mengingatmu
saat itu mungkin
aku luruh, larut
oleh hujan yang singgah
di pelataran berlumut
anakku,
tak ada yang kusisakan untukmu
kecuali perasaan ragu
yang kelak menyiksamu
membawamu pergi
pada gugusan malam
dan jalan-jalan remang
aku tak ingin menguasaimu
berangkatlah dari rumah ini
nanti arah yang pasti
akan memasukimu dan orang itu
tak akan menatapmu
sebab dia menyangsikanmu
membiarkanmu lalu
bergegaslah lebih dulu
aku belum memeriksa
lemari baju, rak buku,
merapikan jendela dan menutup
halaman halaman buku
Pondok Pinang, Mei 2008
Seseorang yang Mencintaimu
ia ragu-ragu
mencoretkan sesuatu
di kertas itu
ia mungkin pacarmu
yang suka
menganiaya diri sendiri
dengan lamunan
dengan ucapan-ucapan
yang membuatmu
marah-marah,
lalu menampar pipinya
sampai gusinya berdarah
aku pernah membawakan
ia senja yang merahsekeranjang buah,
dan sepotong hatiku yang patah
aku suka melihatnya mengacuhkanku
dia tetap mengabaikanku
saat aku mencuil pipinya
mencopot kancing bajunya
mencukur bulu-bulu tubuhnya
setelahnya aku pulang
dengan pikiran terguncang
bajuku robek dan sepatuku
mencelat entah ke mana
di loteng aku menduga-duga
pertengkaran kalian
percumbuan yang mengasyikkan
kamu menjambak rambutnya
ia tengadah mengucapkan
sajak tak pernah sudah
selebihnya aku hanya
mendapati diriku menyerah
tak kuasa lagi
mengiriminya sekeranjang buah
maupun senja yang merah
aku menjelapak, mengerang
menghitung kertas-kertas yang pernah kau titipkan
memeluknya sambil menangis.
Pondok Pinang, Mei 2008
* Aris Kurniawan, lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, reportase, esai untuk sejumlah penerbitan. Bukunya yang telah terbit Lagu Cinta untuk Tuhan (Logung Pustaka, 2005).
Ayah sepasang anak ini sehari-hari bekerja sebagai wartawan situs film: www.ruangfilm.com.