Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Puisi 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
Puisi Puisi
Eka Fendri Putra
Puisi Puisi
Noor Sam
Puisi-Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Noor Amanah
Puisi-puisi
Noorsam
Puisi Puisi
Faidil Akbar
arsip  
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
arsip  
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
Sajak-Sajak
Aris Kurniawan


Sabtu, 5 Juli 2008

          Malam Pergi

aku telah melewati jalan itu
mencarimu
kemarin kamu 
telah mencuri sajakku kan?
daun-daun berjatuhan
rambutku 
tak mungkin bertahan

mungkin aku akan kandas
sementara kamu makin 
jauh terlepas
tikungan itu terlalu ramai
aku lenyap dalam kerumunan
kau melihatku megap-megap kan?
tapi kamu tinggal 
bayang-bayang malam
lebih gelap dari pohon asam
rumah ini sudah sunyi
mengepak kegembiraan 
dan kesedihan

sebuah surat sudah kutulis
dan kuletakkan di bawah pintu
aku tak mungkin keluar 
dari kerumunan
hujan dan debu 
tertulis rapi di sini
maka nona, 
ini kakiku, kurus sekali kan?
semua kuserahkan tanpa 
kesedihan atau kegembiraan
: kamu tak menginginkannya.

                              Pondok Pinang Mei 2008. 


          Pencuri

mencuri selembar 
ingatan dari kepalamu
sebagai tiket yang mengantarku pulang
aku capek mendekap kesunyian kamar
lampu-lampu kubekukan
kuletakkan di atas televisi
aku terbang tanpa roh

lalu aku kembali tertidur
meraba-raba degup mimpi yang mengecil
terlipat di halaman buku
aku lelah membaca. mataku perih
seperti melihat kamu 
mengulum bibir pacarmu
di pojok stasiun itu

aku menyimpan adegan itu 
di ujung sepatuku
jalan lengang ini menyeretku
kusalami kamar-kamar sunyi
aku sedang memerlukan 
angin yang lain
yang pernah surut di dalam kamar
dan kini berkobar di jalan-jalan
lalu orang-orang itu berdatangan 
memberiku kepalan tangan 
lalu aku berlari 
dan jam terus menari

                              Pondok Pinang, Mei 2008


     Keberangkatan

orang itu menatapku
seakan hendak mencuri 
sesuatu dari mataku
mungkin dia menginginkan kesepianku
yang mengendap jauh 
di halaman-halaman buku
aku merapikan jendela, 
memeriksa lemari baju
lalu terdiam mengingatmu
saat itu mungkin 
aku luruh, larut
oleh hujan yang singgah 
di pelataran berlumut

anakku, 
tak ada yang kusisakan untukmu
kecuali perasaan ragu
yang kelak menyiksamu
membawamu pergi 
pada gugusan malam
dan jalan-jalan remang
aku tak ingin menguasaimu
berangkatlah dari rumah ini
nanti arah yang pasti 
akan memasukimu dan orang itu 
tak akan menatapmu
sebab dia menyangsikanmu
membiarkanmu lalu
bergegaslah lebih dulu
aku belum memeriksa 
lemari baju, rak buku, 
merapikan jendela dan menutup 
halaman halaman buku

                              Pondok Pinang, Mei 2008


     Seseorang yang Mencintaimu

ia ragu-ragu 
mencoretkan sesuatu
di kertas itu
ia mungkin pacarmu 
yang suka
menganiaya diri sendiri 
dengan lamunan
dengan ucapan-ucapan 
yang membuatmu
marah-marah, 
lalu menampar pipinya
sampai gusinya berdarah

aku pernah membawakan 
ia senja yang merahsekeranjang buah, 
dan sepotong hatiku yang patah

aku suka melihatnya mengacuhkanku 
dia tetap mengabaikanku 
saat aku mencuil pipinya
mencopot kancing bajunya
mencukur bulu-bulu tubuhnya
setelahnya aku pulang 
dengan pikiran terguncang
bajuku robek dan sepatuku 
mencelat entah ke mana

di loteng aku menduga-duga 
pertengkaran kalian
percumbuan yang mengasyikkan
kamu menjambak rambutnya
ia tengadah mengucapkan 
sajak tak pernah sudah

selebihnya aku hanya 
mendapati diriku menyerah
tak kuasa lagi 
mengiriminya sekeranjang buah 
maupun senja yang merah
aku menjelapak, mengerang
menghitung kertas-kertas yang pernah kau titipkan
memeluknya sambil menangis.

                              Pondok Pinang, Mei 2008
* Aris Kurniawan, lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, reportase, esai untuk sejumlah penerbitan. Bukunya yang telah terbit Lagu Cinta untuk Tuhan (Logung Pustaka, 2005). Ayah sepasang anak ini sehari-hari bekerja sebagai wartawan situs film: www.ruangfilm.com.

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i