KEBEBASAN Ketua MA: Esensi Demokrasi Hargai Orang Lain
Rabu, 9 Juli 2008
JAKARTA (Suara Karya): Ketua Mahkaman Agung Bagir Manan di Bengkulu, Selasa, menjelaskan, esensi demokrasi ialah bagaimana bisa menghargai hak asasi orang lain.
"Esensi dari demokrasi itu bukan kebebasan menyatakan pendapat seperti yang selama ini didengung-dengungkan, tapi bagaimana kita bisa menghargai pendapat orang lain," katanya saat melantik pengurus Karang Taruna dan Garuda Taruna Provinsi Bengkulu.
Berbagai kalangan kini mengartikan demokrasi hanyalah merupakan kebebasan dalam menyatakan pendapat, yang seolah-oleh tanpa batas, dan tanpa memikirkan kebebasan pihak lain.
"Padahal, setiap orang mempunyak hak asasi yang juga harus dihargai," katanya.
Menurut Bagir, kalau hanya menginginkan kebebasan berpendapat itu mudah. Yang sulit justru bagaimana bisa menghargai orang lain serta dapat mendengarkan pendapat orang lain.
"Menghargai aspirasi dan mendengar pendapat orang lain itu merupakan kewajiban, tapi justru saat ini ada kesan hal itu bukan sebagai suatu kewajiban," kata pakar hukum tata negara itu.
Agar bisa menghargai hak asasi orang lain dan mendengar pendapat pihak lain maka dibutuhkan adanya keterbukaan dari semua komponen bangsa.
Di hadapan ratusan pemuda pengurus Karang Taruna dan Garuda Taruna Provinsi Bengkulu, Bagir juga menekankan, agar tidak ada anggapan mengkotak-kotakan satu golongan dengan golongan lainnya.
"Tidak ada kotak-kotakan seperti itu, yang ada hanyalah perbedaan untuk mencapai hal yang lebih baik," ujarnya.
"Kita sering mendengar ungkapan wong kito galo (orang kita semua-Red). Ungkapan itu menunjukan bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan atau golongan-golongan, semuanya sama dan merupakan satu kesatuan," ujar Bagir.
Dalam tatanan demokrasi juga jangan pernah ada lawan tapi yang ada hanya persamaan kepentingan dan persamaan tujuan, meski ada perbedaan-perbedaan pendapat. (Rully/Ant)
|
|