Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Hukum 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
MAFIA HUKUM
Susno Kembali Seret Nama Makbul
KASUS MIRANDA GOELTOM
KPK Diminta Bekerja secara Murni
Kilas Hukum
Kejari Jember Tangani 26 Kasus Korupsi
DUGAAN KORUPSI
Kejaksaan Agung Didesak
Hentikan Kasus Sisminbakum
PENEGAKAN HUKUM
Dua Terdakwa Kasus
Blok Ramba Tak Ditahan
TERORISME
2 Mantan Anggota Polri
Diancam Hukuman Mati
DUGAAN SUAP
26 Tersangka Kasus
Miranda Goeltom Belum Ditahan
KASUS MIRANDA GULTOM
KPK Harus Temukan Sumber Penyuapan
MAFIA PAJAK
Alif Kuncoro Dituntut
2 Tahun 6 Bulan
Kilas Hukum
Kejari Cikarang Periksa Kasus Buku
PEMASYARAKATAN
Ribuan Napi di Jateng
Peroleh Remisi Idul Fitri
KORUPSI SISMINBAKUM
Rekening Rp 15,3 Miliar Milik SRD Disita
arsip  
Kilas Hukum
Bupati Bandung Barat Dipanggil Paksa
Industri Baja
Jepang Berencana
Balas Tindakan AS
arsip  
 
 
KEBEBASAN
Ketua MA: Esensi Demokrasi
Hargai Orang Lain


Rabu, 9 Juli 2008
JAKARTA (Suara Karya): Ketua Mahkaman Agung Bagir Manan di Bengkulu, Selasa, menjelaskan, esensi demokrasi ialah bagaimana bisa menghargai hak asasi orang lain.

"Esensi dari demokrasi itu bukan kebebasan menyatakan pendapat seperti yang selama ini didengung-dengungkan, tapi bagaimana kita bisa menghargai pendapat orang lain," katanya saat melantik pengurus Karang Taruna dan Garuda Taruna Provinsi Bengkulu.

Berbagai kalangan kini mengartikan demokrasi hanyalah merupakan kebebasan dalam menyatakan pendapat, yang seolah-oleh tanpa batas, dan tanpa memikirkan kebebasan pihak lain.

"Padahal, setiap orang mempunyak hak asasi yang juga harus dihargai," katanya.

Menurut Bagir, kalau hanya menginginkan kebebasan berpendapat itu mudah. Yang sulit justru bagaimana bisa menghargai orang lain serta dapat mendengarkan pendapat orang lain.

"Menghargai aspirasi dan mendengar pendapat orang lain itu merupakan kewajiban, tapi justru saat ini ada kesan hal itu bukan sebagai suatu kewajiban," kata pakar hukum tata negara itu.

Agar bisa menghargai hak asasi orang lain dan mendengar pendapat pihak lain maka dibutuhkan adanya keterbukaan dari semua komponen bangsa.

Di hadapan ratusan pemuda pengurus Karang Taruna dan Garuda Taruna Provinsi Bengkulu, Bagir juga menekankan, agar tidak ada anggapan mengkotak-kotakan satu golongan dengan golongan lainnya.

"Tidak ada kotak-kotakan seperti itu, yang ada hanyalah perbedaan untuk mencapai hal yang lebih baik," ujarnya.

"Kita sering mendengar ungkapan wong kito galo (orang kita semua-Red). Ungkapan itu menunjukan bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan atau golongan-golongan, semuanya sama dan merupakan satu kesatuan," ujar Bagir.

Dalam tatanan demokrasi juga jangan pernah ada lawan tapi yang ada hanya persamaan kepentingan dan persamaan tujuan, meski ada perbedaan-perbedaan pendapat. (Rully/Ant)

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i