Selasa, 9 Februari 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Tajuk Rencana 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Menekan dengan Isu
Reshuffle dan Pajak
Kemiskinan Paksa Rakyat
Beralih Memakan Singkong
Hentikan Penempatan
Dana Pemda di Bank
Kalkulasi Dampak
Sistemik CAFTA
Mengendalikan Pinjaman
Luar Negeri Swasta
Haruskah Menghina Presiden?
Ekspor-Impor Turun,
Mutu Pertumbuhan Buruk
Buktikan, Pemerintah
Benar-benar Pro Rakyat
Merindukan Rasa Aman
bagi Bayi dan Anak-anak
Tak Seharusnya Pemerintah
Alergi terhadap Unjuk Rasa
Gaji dan Fasilitas
Berdasar Kinerja
Rapor Merah SBY-Boediono
arsip  
Budi Pekerti
dalam Kurikulum
Menuju Kemakmuran
Rakyat Aceh
Anak Jalanan Rentan
Hadapi Tantangan
Hati-hati Nasabah
Kartu Kredit BCA
Bandar Narkoba
Alih Strategi?
Krisis Bermakna
Kegagalan Pasar?
arsip  
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
arsip  
Menekan dengan Isu
Reshuffle dan Pajak
Kemiskinan Paksa Rakyat
Beralih Memakan Singkong
Hentikan Penempatan
Dana Pemda di Bank
Kalkulasi Dampak
Sistemik CAFTA
Mengendalikan Pinjaman
Luar Negeri Swasta
Haruskah Menghina Presiden?
arsip  
 
 
Mudik dan Transportasi
yang Tak Kunjung Klop


Kamis, 4 September 2008
MUDIK Lebaran sudah menjadi tradisi. Itu merupakan peristiwa yang berulang setiap tahun. Tetapi aneh bin ajaib, dari dulu hingga sekarang-sejak kemampuan ekonomi bangsa belum baik hingga membaik, dan kini agak terganggu lagi karena dampak resesi-masalah mudik tak pernah tuntas. Permasalahan utama selalu seputar transportasi yang tak kunjung klop.

Angkutan kereta api selalu tidak memadai, bus antarkota masih saja ada yang tak laik jalan, kapal penyeberangan yang rusak atau sedang naik dok, jalan raya rusak dan banyak gangguan lainnya, sampai pada masalah pasar tumpah, selalu menjadi penyebab berulang-ulang. Yang dihadapi para pemudik (Lebaran) dari tahun ke tahun selalu itu-itu saja. Sepertinya pemerintah tak bisa belajar dari pengalaman.

Pada beberapa tahun terakhir musim mudik dan balik bahkan diramaikan pemudik yang menggunakan sepeda motor. Jumlahnya bukan satu dua, ratusan, atau ribuan, tapi mencapai jutaan sepeda motor yang juga cukup menyita badan jalan. Ada yang menuding membengkaknya jumlah pemudik dengan sepeda motor sebagai indikasi kegagalan Departemen Perhubungan (Dephub) menyelenggarakan dan menyediakan transportasi mudik yang baik dan terjangkau, dan juga karena kondisi ekonomi masyarakat yang makin sulit. Namun semua itu pernah dibantah pihak pemerintah.

Membeludaknya pengguna sepeda motor untuk mudik Lebaran dikatakan bukan merupakan gambaran bahwa sarana transportasi umum buruk atau tak terjangkau, tetapi karena masyarakat lebih berpikir soal praktisnya saja. Mudik dengan sepeda motor lebih karena para pemudik ingin gerakan mereka di daerah tujuan leluasa, disamping dapat menghemat biaya, karena memiliki kendaraan sendiri.

Tapi, secara umum masalah angkutan mudik Lebaran tetap memunculkan permasalahan yang itu-itu saja. Selain karena berbagai faktor transportasi yang menjadi tanggung jawab Dephub, juga karena tidak siapnya pihak Departemen Pekerjaan Umum (PU) dalam melakukan perbaikan jalan dan jembatan, baik di lintasan Pulau Jawa maupun Sumatera.

Belajar pada pengalaman musim mudik tahun demi tahun lalu, sepertinya rapat koordinasi menyangkut angkutan Lebaran 2008, seperti digelar dan dihadiri beberapa menteri di Jakarta, kemarin, tak cukup hanya bicara soal rencana di atas kertas, tetapi di tingkat pelaksananya masing-masing departemen juga harus makin sering turun ke bawah (ke lapangan) melihat fakta dan perkembangan sesungguhnya.

Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Telekomunikasi dan Informatika M Nuh, serta petinggi Polri, dan pihak terkait lainnya yang hadir dalam rapat koordinasi, kemarin, boleh saja sudah menemukan solusi, tetapi jika apa yang diputuskan tak ditindaklanjuti di lapangan, dipastikan apa yang terjadi dalam musim mudik tahun-tahun sebelumnya akan kembali terulang.

Kecukupan kapasitas angkutan penumpang serta ketersediaan bahan pangan dan angkutan barang untuk menjamin ketersediaan dan keamanan pangan, tidak akan dapat jadi kenyataan bila kondisi jalan raya ternyata tidak seperti diharapkan. Kondisi jalan cukup memiliki pengaruh terhadap berjalannya program mudik Lebaran ini. Masalahnya, pengalaman menunjukkan berbagai perbaikan jalan-baik di Pulau Jawa, lintas Sumatera, dan lainnya-selalu saja tertunda-tunda penyelesaiannya, dan sering baru rampung saat-saat terakhir.

Belum lagi kesiapan dari kendaraan umum (bus) yang tidak seimbang dengan peningkatan penumpang di saat-saat arus puncak mudik. Sudah menjadi kebiasaan, berbagai operator angkutan menerjunkan semua armada mereka saat permintaan memuncak, tanpa lagi memperhitungkan laik tidaknya kendaraan yang ada. Akibatnya, berbagai musibah dan kecelakaan terjadi, dan sudah pasti berdampak terhadap kelancaran arus mudik atau balik.

Sering pula terjadi angkutan sungai dan penyeberangan (ASDP) justru banyak yang naik dok (perbaikan) ketika permintaan penyeberangan memuncak. Sepertinya ada yang tak klop antara pengelola ASDP dengan program Dephub. Belum lagi bila terjadi kecelakaan kereta api, serta masalah pada angkutan udara, akan membuat angkutan Lebaran semakin kacau. Karenanya, agar program mudik tahun ini berjalan lebih baik, semua pihak harus saling melengkapi. Kebiasaan berbagai departemen menyelesaikan segala sesuatunya pada saat-saat akhir sudah saatnya ditinggalkan.***

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i