Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Opini 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Gedung Parlemen, Rumah Rakyat
Irna Irmalina Daud
Menanti Ketua KPK
yang Berani
Oleh Marwan Mas
THR dan Ancaman Krisis Ekonomi
Oleh Susidarto
Prosesi Mudik untuk Berlebaran
Oleh Ali Rif'an
Budaya Merampok dan Korupsi
Oleh Wilson Lalengke
Rumah Dinas dan
Hak Kepemilikan?
Oleh Agus Basri
Penduduk Besar Ancaman Serius
Oleh Mulyono D Prawiro
Merindukan Elite Pemimpin Bermoral
Oleh Thomas Koten
Kebun Gizi untuk Anak Bangsa
Oleh Haryono Suyono
Memperkuat Pemberdayaan UMKM
Oleh Ira Musmirah
HENDRI SAPARINI
Kenaikan Gaji PNS Perlebar Kesenjangan
Visi Pembangunan Kelautan Nasional
Oleh Akhmad Solihin
arsip  
Angin pun Berbicara
Jangan Egois!
Meredam Konflik
RI - Malaysia
Uji Emisi, Bajaj
dan Motor 2 Tak
SDM Berkualitas
dan Bermoral
Bantuan untuk Warga
Miskin Sangat Perlu
Penurunan Hasil Panen,
Adakah Solusi?
arsip  
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
arsip  
Sudahkah DPR Merakyat?
Konsisten Kembangkan
Smart Power
Taktis Merealisasikan
Stabilisasi Harga
RI - Malaysia dan
Stabilitas Kawasan
Mudik, Ujian terhadap
Kesiapan Pemerintah
Memerangi Korupsi
dan Militansi KPK
arsip  
 
 
Relakah Kulit Putih AS Pilih Obama?
Oleh Stevanus Subagijo


Kamis, 30 Oktober 2008
Tak dapat dimungkiri, Barack Obama menjadi kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) yang sangat fenomenal hari-hari ini. Bukan hanya karena usianya yang muda dan fresh bagi perubahan pemerintahan AS, melainkan juga karena kemampuan, karisma, dan suka atau tidak, kulitnya yang hitam sebagai yang pertama dalam kandidat Presiden AS.

Lawan terberat AS (baca: kulit putihnya) bukan Saddam Hussein, Osama bin Laden atau negara-negara axis of evil seperti tuduhan Bush semacam Iran, Korea Utara, dan sebagainya. Ternyata lawan terberat politik demokrasi liberal AS yang diusungnya justru datang dari dirinya sendiri, dari teorinya sendiri, dan dari warga negaranya sendiri.

Persamaan hak yang dulu didengung-dengungkan dan menjadi tertawaan dunia karena standar ganda AS terhadap kaum hitam, Indian, imigran kulit berwarna, Israel, Afghanistan, dan Irak kini "diujicobakan dan terbalaskan" oleh sosok warga negaranya sendiri, Barack Obama. Obama menjadi "musuh" AS, paling tidak, karena dengan praktik demokrasi dan persamaan hak yang dijunjung tinggi AS (baca: kulit putihnya), kini dihadapkan pada hadirnya kandidat kulit hi-tam pertama. Dominasi AS sebagai Barat yang identik dengan kulit putih kini dihadapkan pada situasi pelik bahwa nyaris selang-kah lagi AS memiliki presiden berkulit hitam.

Apakah ini berkah atau ancaman? Akankah AS yang identik dengan kulit putih, khususnya White Anglo Saxon Protestant, kini menjadi AS yang lebih hitam, paling tidak lebih berwarna dan plural? Secara teori persamaan sipil, persoalan diskriminasi ras mungkin sudah selesai, tetapi pada praktiknya diskriminasi ras bukan barang haram.

Persamaan hak menjadi presiden sudah dilakukan AS dengan majunya Barack Obama. Tetapi, dalam soal pilihan Presiden AS yang telanjur identik dengan kulit putih sebagai mayoritas, apakah hadirnya Obama akan mengubah preferensi ras ini dengan mengatakan putih atau hitam bukan soal? Jangan-jangan itu hanya ada di teori dan survei.

Obama menang di berbagai survei dan poling, yang menandakan kulit putih AS sudah terbuka dan tidak mempersoalkan kulit hitam Obama untuk menjadi orang paling kuat di AS. Kekhawatiran munculnya "Bradley effect" bisa saja, yakni kandidat kulit hitam di atas kertas survei-poling selalu menang-seperti tokoh Bradley, kandidat Gubernur California-namun ketika pemilihan tetap saja kalah. Jika demikian, tetap saja mayoritas kulit putih pada praktiknya belum rela dipimpin oleh kulit hitam, meski secara teori dan sikapnya tidak ada masalah.

Yang diperlukan masyarakat AS adalah jujur dalam persoalan ras. Negara plural AS dengan berbagai ras memang wajar jika mengusung antidiskriminasi rasial. Hal ini baik dan patut diacungi jempol meski AS secara historinya lebih didominasi imigran kulit putih dan mendesak minoritas Indian. Histori inilah yang membuat AS identik dengan negeri kulit putih imigran Eropa.

Jika kulit putih AS bilang tidak ada masalah dengan kulit hitam, itu berarti sejalan dengan teori persamaan hak-hak dan pada praktiknya Obama bisa terpilih. Tetapi, jika kulit putih AS kelak pada 4 November tidak memilih Obama semata karena ia hitam, muncul dua problem di sini.

Pertama, ini bertentangan dengan persamaan hak di AS yang dijunjung kulit putih yang ternyata hanya ada di teori dan ucapan saja. Kedua, jika pada kenyataannya saat memilih presiden, kulit putih AS tetap mempertimbangkan ras sebagai faktor penting, dan akhirnya memilih McCain karena semata ia putih, maka kulit putih AS berusaha lebih jujur bahwa soal diskriminasi ras itu wajar atau lumrah.

Salah AS sendiri yang telanjur mengagung-agungkan demokrasi, dalam arti menekan perbedaan ras sebagai aib, seolah semua ras itu sama saja. Padahal, realitanya belum tentu. Perbedaan ras harus diakui sebagai rahmat dan karena ia berbeda, maka bukan harus disamakan.

Pemilih kulit hitam memilih Obama dan pemilih kulit putih memilih McCain, mengapa tidak? Apalagi, baik Obama maupun McCain adalah kandidat yang mumpuni, meski dalam debat dimenangkan Obama. Semua tahu, Demokrat dan Republik dan siapa pun presidennya tidak berjalan sendiri dengan kebijakan yang dipaparkan saat debat, tapi mereka mempunyai tim pemerintahan yang andal.

Dengan demikian, jika kulit putih AS tetap memilih McCain pada detik pencoblosan hanya karena ia putih dan Obama ditolak karena ia hitam, tidak ada yang salah dengan itu semua. Tidak bisa dibilang bahwa ini diskriminasi rasial karena memang ada "perbedaan bawaan" sejauh rasnya memang berbeda. Justru selama ini kulit putih AS tidak jujur demi kemajuan demokrasi. Mestinya ia bilang, sebaiknya yang memimpin AS kulit putih saja hanya karena ia ras mayoritas. Selama masih ada kulit putih yang mampu memimpin AS, mengapa harus kulit hitam?

Di sini soal membeda-bedakan ras bukanlah dosa. Kecenderungan untuk memercayai yang sama rasnya, agamanya, dan su-kunya sebetulnya bawaan dasar karena perbedaan itu. Pertanyaan yang sama juga diajukan kepada dunia dan Indonesia yang pro Obama. Persoalannya, apakah pro Oba-ma-nya dunia dan Indonesia hanya karena Obama berkulit hitam atau sebatas ke-bencian kepada kulit putih AS, khususnya dipersonifikasikan dengan Bush yang membuat perang, terorisme, dan krisis global? Jika kita jujur mengatakan bahwa Obama dipilih karena faktor benci kepada Bush, Partai Republik, dan McCain, maka pemihakan kepada Obama bukan seperti yang diharapkan kalangan hitam AS, di mana ia dipilih karena mampu dan tidak dilihat kulitnya yang hitam.

Relakah Uni Eropa yang mendukung Obama kelak pada pemilunya dipimpin oleh imigran dari Timur Tengah, Afrika atau Asia? Relakah Indonesia yang mayoritas Jawa kelak dipimpin oleh orang Papua, Minahasa atau Tionghoa yang non-Jawa dan minoritas?

Mestinya, jika kita bisa mendukung Obama demi persamaan hak dan antidiskriminasi di AS, pemilu tahun depan bisa bersikap egaliter mempersilakan semua putra bangsa dari ras, suku, dan agama apa pun bisa menjadi kandidat pemimpin nasional.

Kalaupun dalam bilik pencoblosan kita tetap memilih berdasarkan kesamaan ras, suku, dan agama asalkan kandidat itu mampu, tidak menjadi soal karena memang sudah dari sananya begitu. Yang terpenting, perbedaan itu tidak menjadi negatif dan destruktif karena memang kita berbeda. Itulah kekayaan yang patut disyukuri, tapi juga kelemahan yang harus ditangani.***

Penulis adalah peneliti pada Center for
National Urgency Studies, Jakarta

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i