Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Puisi 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
Puisi Puisi
Eka Fendri Putra
Puisi Puisi
Noor Sam
Puisi-Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Noor Amanah
Puisi-puisi
Noorsam
Puisi Puisi
Faidil Akbar
arsip  
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
arsip  
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
Puisi
Hatim Sulaiman El-Rifah


Sabtu, 15 Nopember 2008

     DALAM SATU PURNAMA 

Aku kau bercinta saat ini disini 
Bersama rembulan dan kunang-kunang
Kita berbasah dalam satu cahaya
Menikmati dansa gila
Layangkan sukma mengejar pukau lentera
Yang kian memuncit ke ujung cakrawala
Sementara itu tembang malam
Belum sempat rampung
Tatkala inai-inai menari 
Dimabuk mantra-mantraku
Aku kau bercinta saat ini disini
Antara tembok-tembok hitam
Berhiaskan kelam dan kesunyian
Meliris lagu cinta tanpa tembang
Dengan irama hambar yang menian
Lewat syair kehidupan penuh kisah
Dalam perjalanan panjang yang mencekam
Aku kau bercinta sat ini entah di mana
Sebab aku kau bersemi di sembarang suasana
Entah sampai kapan kan berbunga
Bila kelopak matahari tak menjanjikan
Akan hangat sebelum cahaya

                                        05-12-07


     PERTEMUAN TANPA SEBAB

Di persimpangan jalan hati yang rindu
Menemui kepingan jiwamu
Walau tanpa sapa tak mengapa
Seperti bulan singgah di matamu
Bersitkan cahaya silau memukau
Hati terpatri oleh sebias kilatan
Aku tak berdaya
Aku tak berdaya
Lalu kau menghilang
Dalam sekejap ilusi
Sementara aku tak merasa
Ada kedipan di matamu

                                        08-12-07
 

     PENGAKUAN DI TERAS BIRU

Di balik hatimu ada rahasia mengalir
Airi sepasang bibirku
Seiring pecahnya mendung yang merinai
Membentuk sekalimat bahasa
Jadi jawab dari tanya yang mengkurun
Dalam babat kehidupan
Hujan menderas memecah cakap daun
Antara pot-pot bunga yang saling dekap
Yang memupus dalam segulung cerita sumbang
Sedang khayalku mengakar
Kemuara tinta
Sementara,
Sepasang kelinci membuatku iri
Sebab bermesra dalam mataku
Tanpa malu
Sebentar,
Menyaksikan kegugupanku
Sejenak senyum meriak
Dan berakhir sunyi

                                        10-12-07


     MENJELANG PURNAMA

Berpeluk diam
dalam birahi malam
berdekap sunyi 
tanpa tepi
hati terusik
kala hasrat berbisik
bersama rembulan 
yang lama terduakan

                                        29-11-07


     MEMOAR 27

Di balik jendela
Kau cadari wajah ayumu
Yang tampak mesum tak menatapku
Meski aku telah mendekat
Malah kau marah geram
Namun itu bukan pengaruh
Sebab merah matamu itu
Adalah api cemburu yang membara
Dan saat kau robek-robek kertasku
Jemarimu tampak tergelitik penyesalan
Kemudian aku mencoba meminhta sesuatu
Tapi kau diam saja
Aku bilang, aku menyesal
Kaupun semakin bungkam
Saat aku juga mendiam diri
Malah semakin kau rapikan bibirmu

                                        28-11-07

 

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i