| |  | | | | Puisi Hatim Sulaiman El-Rifah
Sabtu, 15 Nopember 2008
DALAM SATU PURNAMA
Aku kau bercinta saat ini disini
Bersama rembulan dan kunang-kunang
Kita berbasah dalam satu cahaya
Menikmati dansa gila
Layangkan sukma mengejar pukau lentera
Yang kian memuncit ke ujung cakrawala
Sementara itu tembang malam
Belum sempat rampung
Tatkala inai-inai menari
Dimabuk mantra-mantraku
Aku kau bercinta saat ini disini
Antara tembok-tembok hitam
Berhiaskan kelam dan kesunyian
Meliris lagu cinta tanpa tembang
Dengan irama hambar yang menian
Lewat syair kehidupan penuh kisah
Dalam perjalanan panjang yang mencekam
Aku kau bercinta sat ini entah di mana
Sebab aku kau bersemi di sembarang suasana
Entah sampai kapan kan berbunga
Bila kelopak matahari tak menjanjikan
Akan hangat sebelum cahaya
05-12-07
PERTEMUAN TANPA SEBAB
Di persimpangan jalan hati yang rindu
Menemui kepingan jiwamu
Walau tanpa sapa tak mengapa
Seperti bulan singgah di matamu
Bersitkan cahaya silau memukau
Hati terpatri oleh sebias kilatan
Aku tak berdaya
Aku tak berdaya
Lalu kau menghilang
Dalam sekejap ilusi
Sementara aku tak merasa
Ada kedipan di matamu
08-12-07
PENGAKUAN DI TERAS BIRU
Di balik hatimu ada rahasia mengalir
Airi sepasang bibirku
Seiring pecahnya mendung yang merinai
Membentuk sekalimat bahasa
Jadi jawab dari tanya yang mengkurun
Dalam babat kehidupan
Hujan menderas memecah cakap daun
Antara pot-pot bunga yang saling dekap
Yang memupus dalam segulung cerita sumbang
Sedang khayalku mengakar
Kemuara tinta
Sementara,
Sepasang kelinci membuatku iri
Sebab bermesra dalam mataku
Tanpa malu
Sebentar,
Menyaksikan kegugupanku
Sejenak senyum meriak
Dan berakhir sunyi
10-12-07
MENJELANG PURNAMA
Berpeluk diam
dalam birahi malam
berdekap sunyi
tanpa tepi
hati terusik
kala hasrat berbisik
bersama rembulan
yang lama terduakan
29-11-07
MEMOAR 27
Di balik jendela
Kau cadari wajah ayumu
Yang tampak mesum tak menatapku
Meski aku telah mendekat
Malah kau marah geram
Namun itu bukan pengaruh
Sebab merah matamu itu
Adalah api cemburu yang membara
Dan saat kau robek-robek kertasku
Jemarimu tampak tergelitik penyesalan
Kemudian aku mencoba meminhta sesuatu
Tapi kau diam saja
Aku bilang, aku menyesal
Kaupun semakin bungkam
Saat aku juga mendiam diri
Malah semakin kau rapikan bibirmu
28-11-07
|
| |
|
|