Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Puisi 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
Puisi Puisi
Eka Fendri Putra
Puisi Puisi
Noor Sam
Puisi-Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Noor Amanah
Puisi-puisi
Noorsam
Puisi Puisi
Faidil Akbar
arsip  
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
arsip  
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
Puisi
Teguh Trianton


Sabtu, 29 Nopember 2008

          Katamu
          -tentang cinta-

katamu, cinta selalu seujud pisau
semakin diasah kian menunjam
dan memilukan
semakin dihunus
kian mematikan
lalu
kenapa kau hendak membunuhiku
sehingga tak henti mengeja ketajaman
pisau di ujung  rinduku

                              Purbalingga, April 2008


               Katamu
          -tetang pertanyaan-

katamu, tak semua pertanyaan
harus dijawab dengan tumpukan kata
tatkala diam justru lebih menjelaskan
lalu kenapa kau masih juga bertanya 
saat tuhan diam dengan takdir kita

                              Purbalingga, April 2008


     Karena Kau Penyair
     bagi: Bhre

karena kau penyair
seperti sajakmu, aku tak ingin 
bertemu mimpi yang beku
sehingga saat gerimis kluwung
tubuhku terbelah
karena kau penyair
seperti pintamu,
lewat kidung lancung
kukatakan hitam itu indah
pun bulatan pada matamu
yang urung kurenangi
dan yang putih
tak selalu kabut, bukan?

                         Solo - Purbalingga, Mei 2008

     Pledoi Sufi

tuhan, benarkah sholatku 
lebih baik dari tidurku?
jika dalam terjaga
aku tak dapat melihatmu 
sedang, pada tidurku 
tak seorang pun tahu 
aku mendekapmu

                              Purbalingga, Mei 2008


          Pledoi Penyair

malam menunjamkan kedewasaannya
begitu ramun, serupa harpa dawai siter 
memetik sendiri kemerduaannya
membentuk notasinotasi
mengirim sakramen paling sunyi
menyihir sajakku jadi doa 
yang paling doa yang paling puisi
Purbalingga, Mei 2008


Pledoi Puisi

bukan, bukan kecupan 
yang selalu tertinggal di dada usai bercinta 
lantaran kau kian berjelaga setelah merah padam
bukan, bukan luka
yang selalu nyeri di leher sejarah
lantaran kau tak pernah merasa terluka
meski sejarah mengandung serapah
bukan, bukan ciuman yang tersisa di tubuhmu
tapi puisi kehabisan kata

                              Purbalingga, Mei 2008


     Kutengadahkan Luka

pada keheningan jantung pagi
di dadamu kutengadahkan luka
bersimpuh menyesali percintaan 
yang semalam berahir padam

                              Purbalingga, 2004-2008


     Aku Menyebutmu Cinta

sejak aku mencium tubuh
dan ngungun melepasmu
lalu aku menyebutmu cinta

                              Purbalingga, 2005-2008


     Aku Menyebutnya Menunggu

lalu aku menyebutnya menunggu, 
sebab rendezvous kita hanya tercipta 
dari remah-remah waktu yang piatu

                              Purwokerto, 2005-2008
 

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i