Puisi Puisi Widi Astuti
Sabtu, 3 Januari 2009
ULANG TAHUN
ulang tahun adalah matinya sekian sel
di kulit tubuhmu
bertambahnya sekian lembar uban di kepalamu
lalu keriput menyelimutimu
setebal dosa dan laknat di nadimu
ulangtahun adalah hilangnya sekian sel
di sepasang mata dan telingamu
di kedua lubang hidungmu
di decap lidahmu
di hembusan nafasmu
di gerak persendianmu
dan di detak jantungmu
detak jantungmu tinggal sekejap kerdip mata
sesayup pendengaran
dan setawar decap lidahmu
apa yang bisa kausombongkan di depanKu
jika kain kafan membungkus jasadmu
tanah telah menguburmu?
ulang tahun adalah matinya sekian sel
di setiap bagian hidupmu
05/07/2008
SERATUS JUTA ANGKA
lebih seratus juta angka, ruh dan jiwaku
kau pungut dari hidupku
seratus juta kata kautebar, luluhkan nuraniku
ambillah.
kerna cinta yang berulang kumakamkan
terus menggeliat setiap kubenamkan
relakan segala yang ada
ya, ambillah.
agar tak sakit sakaratul-mautmu
meski tak hirau pada risauku
dan berpaling dari arimata sedihku
lebih seratus juta angka, ruh dan jiwaku
kusatukan dengan seratus juta kata
di sepanjang pematang lukaku
06/10/2008
S K E T S A
sandal jepit, celana biru lusuh,
kaus kuning kusut, rambut gondrong,
kulit legam, tubuh kurus,
dan gemerincing uang logam di kamarmu
melintas slalu dalam sketsa kangenku
enggan menepi
meski berkali kuusir pergi
tatap teduh, belai lembut, kecup hangat,
peluk erat, dan cinta yang pekat
menyusup slalu dalam sketsa kangenku
enggan pergi
meski berkali kusuruh menepi
gelak tawa, tangis sedih, suka duka,
engah nafas di langkah terjalmu,
dan perjamuan dengan batas waktu
hadir slalu dalam sketsa kangen dan sedihku
terus di sinimeski berkali kusentak pergi
tapi kangen dan sedihku
slalu berhenti pada sketsa
yang kusimpan rapi di bilik sunyi
kerna telah kubentang tirai
tak boleh wujudkan sketsaku
15/10/2008
J A N J I
seluruh janji itu kuhimpun
kupajang di dinding kamarku
dengan bingkai kayu jati kualitas satu
tiap malam kueja dan kuhitung
dengan getar jari dan gigil hati
ada erik jengkerik, dengung nyamuk,
dan cecap cicak, mengetuk jendela dan berseru :
"Berhentilah menangis dan menanti
jangan lagi kauhitung janji,dengan getar hati!"
seluruh janji itu tetap kuhimpun
kupajang di dinding kamarkutiap malam kueja dan kuhitung
dengan getar jari dan gigil hati
22/10/2008
|
|