Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Puisi 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
Puisi Puisi
Eka Fendri Putra
Puisi Puisi
Noor Sam
Puisi-Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Noor Amanah
Puisi-puisi
Noorsam
Puisi Puisi
Faidil Akbar
arsip  
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
arsip  
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
Puisi Puisi Abdul Wachid B.S

Sabtu, 10 Januari 2009

     Rani yang Bertanya

Rani yang masih di kamarnya
Rani yang masih di mimpi kanaknya
Rani yang tak biasa di pagi harinya
Rani yang jalan-jalan di imajinasinya

Rani,
Tatkala bumi bagai dalam ayakan Tuhan
Pohon-pohon belakang rumahmu 
cemas hempaskan tubuhnya
Tak lagi kuasa kuatkan akar-akarnya
Lintang-pukang orang-orang di bawahnya

Bagai dalam ayakan Tuhan
Tembok-tembok mengombak naik-turun
Rani, 
Rumah-rumah seperti roti kering yang kau ledakkan
Di tanganmu. Lintang-pukang kurcaci menghindarinya

Rani yang dalam dekapan ibunya
Rani yang amat sangat ketakutan
Rani yang masih balita itu tengadahkan tangan
Rani yang bertanya
"Tuhan, apakah Engkau sungguh marah hari ini?"

               Jambidan, Yogyakarta, 27 Mei 2006


          Wonokromo

Silaturrahmi ke Wonokromo
Desa santri yang mengaji
Ada rumah kekasih yang tersembunyi
Sejarah masjid yang "Hamengkubuwono"

Ada pertemuan dua sungai
Di sikunya masjid itu hijau kebiruan
Ada makam di baratnya bila kulewati
Selalu kusampaikan salam pertemuan

Aku masih mendengar lantun
Gadis kecil menderaskan al-Qur'an
Entah di pesantren Gus Fuad atau Gus Katip
Kucari-cari suaranya seperti meratap

Lalu tertimpa gelak-girang para bocah
Di sore itu di halaman masjid hijau kebiruan itu
Aku masih mendengar larangan masuk rumah
Dari lelaki tua yang diabaikan itu

Tapi paginya setelah gempa luluhlantakkan
Rumah dan pesantren-pesantren
Orang-orang baru membaca tanda
Aku masih mendengar doanya 

Dalam kalimat adzan
Kepada shalat kepada kebaikan
Aku masih mendengar doanya 
Sekuntum melati di antara debu dan serakan batu bata

Silaturrahmi ke Wonokromo
Kucari-cari rumah kekasih yang tersembunyi
Kucari-cari suaranya semakin sayup menyepi
Ternyata rumah hatiku pun telah poranda

          Wonokromo, Yogyakarta, 4 Juli 2006


          Hujan Begitu Baik

ya. hujan begitu baik mencucikan yogya
dari debu, yang ranggaskan daun jambu
depan rumah kekasihku
dari diriku, yang mandi setiap hari
tapi tak juga sampai wangi surgawi

hujan mengendapkan debu
mengisi pori-pori tanah
lalu tertampung di dalam hati
menjadi harapan dan keyakinan
kekasih menari-nari di dalam pandangan 

hujan menjelma panorama ajaib
dalam mata yang saling mencari dan menunggu
dan mengajakku memutar arloji
ketika ibu mendekapku di jendela
dan aku bertanya
"ibu, di mana bidadari sang kekasih itu?"
jawab ibu, "di saat hujan, ucapkanlah doa
sebab bidadari bertaburan dari langit itu
ditemani malaikat, akan memunguti doa-
doamu, agar lebih cepat sampai
pada perkenan Tuhan"

ya. hujan begitu baik menari-nari di daun jambu
di bawahnya sebuah halte yang
pasca gempa atapnya tinggal separoh
ternyata di halte itulah kekasihku 
mencari dan menunggu dan mau membeku
hujan senantiasa tergoda padanya
hujan tak kuasa menahan rasa, bahkan
hujan telah basah mendekapnya
sampai membirukan bibirnya
ketika aku sampai padanya, hujan terkesima
dan kekasihku pun malu-malu 
dan bertanya
"mengapa engkau begitu lama
sehingga aku melulu menjadi debu di halte ini?"

                              November, 2007

          Segoroyoso

Mengapa dusun ini diberi nama Segoroyoso?
Padahal dilingkari pegunungan kapur selatan
Dan di sebaliknya suara ombak laut selatan
Tapi gedebur menggema ini dari dalam bumi

Di malam menambah bayang-bayang kematian itu
Tiap gedebur menggema ini dari dalam bumi
Kentongan sahut bersahutan menambah pilu
Seluruh rumah dan nisan telah rata dengan debu
Mengapa dusun ini diberi nama Segoroyoso?
Melewatinya seperti berdiri di atas perahu
Bergoyang batin, bergelombang hari-hari kau aku
Angin dan debu semakin selimuti tenda-tenda itu

                    Yogyakarta, 5 Juli 2006


          Puncak Cinta

Rindu memang selalu sakit
Tapi pertemuan cinta akan mengobati

Puncak cinta adalah kerinduan
Karenanya kita bisa maknai
Harap-harap cemas
Pada kekasih yang dicintai

Karena cinta kita mengenali diri
Betapa aku membutuhkanmu
Kuhayati jatuh-bangunnya hatiku
Dalam mencintaimu

Tapi kunikmati saja kesakitanku
Karena merindukanmu
Seperti kurasakan nikmatnya cinta
Yang telah kucecap dari lidah hatimu

               Warungboto, Yogyakarta, 27 Juni 2006 

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i