Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Puisi 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
Puisi Puisi
Eka Fendri Putra
Puisi Puisi
Noor Sam
Puisi-Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Noor Amanah
Puisi-puisi
Noorsam
Puisi Puisi
Faidil Akbar
arsip  
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
arsip  
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
Sajak Gita Nuari

Sabtu, 31 Januari 2009

          RISAU

inilah yang kutakutkan, batu-batu 
berluncuran dari pikiranku, 
menindih istana jiwa yang baru kubangun
di sudut yang jauh kau tertawa. memainkan mata
ke segala arah
tapi tak tahu dimana aku berada
inilah yang kutakutkan
batu-batu itu bukan lagi runcing
tapi berduri dan mengandung
panas api membakar kesepianku
di jalan berdebu
(aku ingin jadi demonstran saja
untuk hatiku sendiri) lalu membakar
bendera-bedera kasih
yang kini berkibar dipuncak kerinduanku
inilah yang kutakutkan, batu atau apa
tak bisa mencegahku
untuk membunuh siapa 
setelah kekalahan ini.

                                        Jakarta, 2009


                    SUARA

suara sungai suara angin suara kertas suara daun
terdengar di atas ranjang. direkam bulan
suara hirup suara tiup suara datang suara pergi
terdengar dari dalam kereta. diserap matahari
yang demo yang tamu yang cium yang selingkuh
tumpah di jalan. ditonton anak-anak balita
yang memberi yang diberi yang membelot yang sejalan
berkumpul di warung. menjual jiwa
saling tuding saling tikam saling rajam saling pejam
dicatat dalam kota. cahaya lampu memotretnya
dari arah kuburan. pasrah didenda sabar ditampar
aroma mayat diarak bulan ke ujung-ujung malam
pasar dibakar cinta diadopsi. lidah sungsang
dipaksa bicara. rakyat kehilangan hak dibilang mati
polisi bernyanyi dibilang banci. bumi gonjang-ganjing
sepi menangis ramai dicekal. tangan-tangan menadah air
mana diri mana hati mana budi pekerti. aku di sini
engkau di situ. minta susu air laut yang diberi. ah,
tuhan dibaris awal ditinggal-tinggal. tuhan dibaris
akhir disebut-sebut. kita berlari. terus berlari!

                                        Jakarta, 2009 

          LELAKI

lelaki bersarung angin
berdiri di tungkai waktu
dari pori-porinya keluar
nanah api. amisnya
mengasinkan seisi danau

kini, lelaki itu ada dihadapanku
mencopot tangannya
mencopot kakinya
mencopot kelaminnya
lalu mencongkel matanya

namun ketika ia hendak
mencopot kepalanya, tiba-tiba
pikirannya berubah, "mestinya 
otakku yang harus dicuci. 
bukan merubah bentuk," katanya

lalu ia berjalan hanya membawa 
kepalanya yang tak berfungsi itu
namun sungguh dia merasa senang, 
tuhan telah membuka tangannya
di pintu waktu.

                                        Jakarta, 2009


     AKU DATANG PADAMU

aku datang padamu
seperti ketika bayi baru lahir
tapi aku tak malu padamu
karena hanya engkau
yang bisa melihatku
inilah diriku, segumpal
daging dari zaman manusia
yang kehilangan rasa dan jiwa
wahai sang waktu
terimalah kebugilanku
jernihkan kembali mataku
agar aku dapat memilih
pakaian mana yang harus
kupakai dan sepatu mana
yang mesti kukenakan
di dunia aku terlalu buta
semua yang engkau sodorkan
kurebut tanpa seleksi lagi
kuambil begitu saja dengan
dasar aji mumpung. tapi setelah 
semua melekat di tubuhku 
ternyata malah menyesatkan 
dan mengotori pikiranku
lepaskanlah semua atribut
yang menempel di diriku
dan ijinkan aku mengulang
kehidupan ini dari bayi lagi.

                                        Jakarta, 2009


          MATI SEPERTI PUISI

aku tak pernah sampai ke hulu untuk mencari
ruang isterah bagi kepenatan yang datang merejang
gelombang yang kuanggap pemandu sampanku
ternyata telah menyudutkan aku ke arah entah

ibu, rentangan cakrawala adalah kasih sayangmu
tapi mungkin kelak aku hanya tinggal sebagai
kepompong kering di dalam tabung waktu. percuma
aku berteriak jika badai lebih kuat
dari pekikanku sendiri

tak ada sesaji lagi bagi kepenatanku ini kali
tapi doamu begitu pasti memberi jalan lapang
ke arah yang teduh meski pada akhirnya
semua bendera harus aku cabut dari atas
ubun-ubunku. sehingga aku tak merasa bersalah
jika aku ingin mati seperti puisi
yang tak pernah dipahami oleh siapapun.

                                        Jakarta, 2009

 

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i