Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Cerpen 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
Bibir Biru
Oleh Naning Pranoto
Rahasia Emak
Oleh Noor Amanah
Tetes Air di Kamar Jenazah Pak De
Oleh Sunaryono Basuki Ks
Perempuan Beraroma Melati
Oleh: Kurniawan Junaedhie
Sebuah Mimpi
Oleh: Agus Sunarto
Si Bunian
Oleh: DTA Piliang
arsip  
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
arsip  
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
Potomac
Cerpen Sori Siregar


Sabtu, 14 Februari 2009
Dari seberang jalan Parlaungan menunjuk ke sebuah jendela. Putrinya Fari mengikuti arah jari telunjuk ayahnya. "Dulu meja bapak di depan jendela itu. Di sanalah bapak mengetik setiap hari dengan mesin ketik tua yang masih baik kondisiya. Jendela di depan bapak senantiasa terbuka. Karena itu, kalau jari-jari bapak telah lelah mengetik naskah acara yang akan disiarkan, bapak menyandar dan menatap keluar jendela. Nah, yang pertama kelihatan tentu saja itu", kata Parlaungan sambil mengubah arah jari telunjuknya.

"Air and space museum", Fari menyebut nama gedung yang dimaksudkan bapaknya. Museum luar angkasa yang senantiasa padat pengunjung.

"Betul. Bapak juga sering makan di kantin museum itu. Bapak pernah pula makan siang bersama teman-teman sekantor di Mall sana", Parlaungan mengalihkan arah telunjuknya lagi. "Bapak dan teman-teman sekantor sering membawa makanan dari rumah. Di bawah pohon rindang di sana itulah kami makan siang bersama sambil mengobrol sebelum kembali ke kantor".

Fari mengangguk. Ketika ayahnya bekerja di gedung itu, makan siang di museum ruang angkasa dan di Mall itu, ia masih berusia dua tahun. Mereka berkunjung kembali ke kota itu atas sponsor sebuah industri rumah tangga.

"Kakak dan abangmu pernah bapak bawa ke Lincoln Memorial dan ke depan Gedung Putih serta Gedung Capitol dan kami berfoto di sana".
"Yang fotonya terpajang di ruang keluarga kita 'kan?"

"Ya, betul. Kakak dan abangmu sering bapak bawa ke mana-mana mengitari kota. Kau masih terlalu kecil untuk dibawa berjalan-jalan. Karena itu kau tetap di apartemen bersama ibumu".

Keesokan harinya mereka menumpang taksi menuju Suitland, yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari bekas kantor Parlaungan. Di depan sebuah deretan toko taksi berhenti dan mereka turun. Paurlaungan menarik tangan Fari menuju sebuah apartemen yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari tempat mereka turun dari taksi.

"Ini apartemen kita dulu", katanya kepada Fari sambil menunjuk ke sebuah aparteman di lantar dasar. Lima tahun kita tinggal di sini, sampai kau belajar di sekolah dasar William Beanes. Bapak yakin tahun-tahun terakhir itu masih lekat dalam ingatanmu".

Fari mengangguk. Ketika mereka meninggalkan apartemen itu dan kembali ke tanah air, Fari telah berusia tujuh tahun. Lumayan banyak yang melekat dalam ingatannya tentang apartemen itu, juga tentang sekolahnya. Baginya, masa lampau itu masih tetap indah untuk dihadirkan kembali pada saat-saat tertentu.

* * *

"Apakah pelantikan Obama sebagai presiden begitu penting, sampai-sampai sponsor memberangkatkan kita untuk menyaksikan peristiwa itu. Apa untung yang diperoleh sponsor dengan mengirimkan kita ke kota ini?", terdengat suara Fari. "Jauh sebelum hari pelantikan kita telah tiba di sini, sehingga bapak dapat membawaku jalan-jalan ke berbagai tempat termasuk apartemen kita dulu", Fari berkata kepada ayahnya.

Parlaungan tidak mengharapkan pertanyaan itu. Ia justru ingin Fari bertanya tentang kehidupan masa lampau mereka di negara itu. Bagaimana ketika Fari yang duduk di stroller kesulitan bernapas jika angin bertiup keras. Mengapa ia mengotot tidak mau masuk ke Epcot Center karena tidak bersedia meninggalkan stroller-nya. Setebal apa pakaian yang dikenakannya ketika musim dingin tiba, apa benar ia mencium poster Michael Jackson yang dipajang di pintu masuk sebuah toko atau mengapa Parlungan dan istrinya lalai di sebuah pusat perbelanjaan sehingga ia sempat pergi seorang diri ke ruang permainan anak-anak, lalu mengapa kedua orang tuanya tidak mencarinya ke sana tetapi lebih memilih melapor ke petugas keamanan pusat perbelanjaan agar semua pintu keluar di sana ditutup. Seharusnya Fari mengajukan berbagai pertanyaan lain yang ada kaitannya dengan masa lalu itu.

Ternyata, Fari tidak bertanya tentang masa lalu itu, tetapi tentang masa kini yang lebih perlu dipertanyakan..Setelah menatap Fari yang benar-benar ingin tahu, Parlaungan merasa perlu mmberi penjelasan yang akan memuaskan anak gadis itu.

"Pemilik industri rumah tangga ini, Om Mattauch, adalah teman sekelas bapak ketika di SMP dulu. Sewaktu bapak bekerja di badan siaran pemerintah negara ini, ia mengambil gelar doktor di sebuah universitas di negara bagian Alabama. Ketika mengambil gelar itulah ia merasakan adanya diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam di negara bagian itu. Orang kulit hitam dianggap warga negara kelas dua. Ia sensitif sekali dalam melihat dan merasakan hal seperti itu. Sewaktu di sana itulah ia mengetahui mengapa orang-orang kulit hitam lebih suka disebut black daripada negro atau nigger, karena kedua sebutan terakhir ini kental dengan ejekan dan penghinaan".
Parlaungan menatap putrinya yang tampak sangat serius mendengar keterangannya.

"Sejak saat itulah ia menumpahkan seluruh simpatinya kepada orang kulit hitam. Simpati ini semakin menggunung ketika seorang kulit hitam menolongnya pada saat ia dikeroyok dua orang kulit putih yang sedang mabuk karena kedua pemabuk itu ingin merampas uangnya. Orang kulit hitam itu pulalah yang mengantarkannya pulang. Setelah kejadian itu ia baru mendengar dari rekan-rekannya di kampus bahwa orang-orang kulit berwarna yang di sini disebut 'colored' juga mendapat perlakuan diskriminatif, tanpa memandang apakah ia warga negara atau bukan".
"Hanya karena itu Om Mattauch bersimpati kepada mereka?"

"Benar. Tetapi, ia tidak berhenti hanya hingga simpati. Ia ingin berbuat lebih jauh. Om Mattauch berjanji kepada dirinya akan memberikan apa saja yang dapat diberikannya untuk mengangkat harkat orang kulit berwarna dan kulit hitam ini, karena ia sendiri orang kulit berwarna. Tapi,bagaimana mengangkat harkat itu? Ia tidak mampu menjawabnya. Karena itu, untuk sementara, setiap ada peluang untuk memperlihatkan simpati, Om Mattauch akan memberikannya. Itu salah satu alasannya mengapa ia memberangkatkan bapak dan kau untuk menyaksikan pelantikan presiden kulit hitam pertama di negara ini, di samping ia ingin bapak dapat bertemu kembali dengan teman-teman lama ketika bekerja di sini. Namun, alasan utama tetap saja simpati tak terhingga kepada orang kulit hitam dan berwarna. Itu pula sebabnya mengapa bukan hanya bapak dan kau yang diterbangkannya ke negeri ini, tetapi juga beberapa orang lain termasuk relasi bisnisnya". Fari menatap ayahnya masih tetap dengan wajah serius. Mungkin Fari masih ingin mendengar apa lagi yang menarik dari orang yang memberi peluang kepada ayahnya dan dirinya untuk berkunjung ke negara ini.

"Kau tahu, Fari, apa kata Om Mattauch tentang pelantikan yang akan berlangsung besok? Obama adalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Suatu ketika di masa depan nanti, satu persatu orang kulit putih itu akan rontok dan negara mereka bukan lagi yang menentukan arah perjalanan dunia. Pada saat itulah dunia akan dipimpin oleh orang kulit hitam dan kulit berwarna dan merekalah yang mengarahkan kemana dunia harus bergerak. Tatkala itu menjadi kenyataan, warna air Sungai Potomac yang membelah kota Washington ini akan berubah menjadi jernih, tidak lagi berwarna cokelat seperti sekarang ini".

Fari hanya tersenyum, senyum yang tidak dipahami Parlaungan, apa maknanya. ***

Catatan:
Stroller = kereta anak.

* Jakarta, 11 Februari 2009


Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i