Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Cerpen 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
Bibir Biru
Oleh Naning Pranoto
Rahasia Emak
Oleh Noor Amanah
Tetes Air di Kamar Jenazah Pak De
Oleh Sunaryono Basuki Ks
Perempuan Beraroma Melati
Oleh: Kurniawan Junaedhie
Sebuah Mimpi
Oleh: Agus Sunarto
Si Bunian
Oleh: DTA Piliang
arsip  
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
arsip  
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
Mulut
Cerpen: Bagus Sidi Pramudya


Sabtu, 28 Februari 2009
Tahun ini dua anakku masuk sekolah lanjutan. Prihatin, putri sulungku, masuk SMU dan Sungkowo masuk SMP. Pusing! Sungguh-sungguh pusing. Biaya sekolah anak sekarang melebihi uang muka kredit kendaraan roda dua. Tidak semua sekolah, memang. Tapi, entah kebetulan atau tidak, rumah tinggalku terletak di wilayah yang sekolah-sekolahnya masih memberlakukan beban biaya ini dan itu untuk murid-murid kelas baru.

"Pak.. Prihatin memilih tak melanjutkan sekolah. Ia kasihan lihat bapak susah cari uang buat biaya sekolah lanjutannya," kata istriku.

Deg..! Sebuah pukulan telak menghantam ulu hatiku. Ini yang kutakutkan. Pilihan yang teramat sulit dilaksanakan. Prihatin tahu orangtuanya tak memiliki banyak uang. Gaji bapaknya hanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga sebulan.

Seberapa banyak gaji seorang kurir di perusahaan kecil. Sekian ratus ribu sebulan. Bila dikaitkan dengan UMR memang di atas batas minimum. Perusahaan tempatku bekerja tak mau sembarangan soal yang satu ini. Meski perusahaan kecil, hak-hak karyawan selalu diperhatikan.

Gaji sesuai UMR tapi harga-harga kebutuhan pokok ternyata jauh melebihi batas UMR. Maka, jungkir-baliklah otak kami, mencari strategi yang pas buat mensiasati melambungnya harga-harga dengan jumlah pemasukan yang kami dapat. Tiap awal bulan, aku dan istriku selalu putar otak, mengkalkulasi ulang mana kebutuhan yang harus didahulukan dan mana yang bisa ditunda sementara.

Tapi, menjelang tahun ajaran baru sekolah, semua kalkulasi kami buyar. Urusan perut bisa jadi nomor dua, karena kami harus berpikir soal biaya sekolah anak-anak. Istriku menjadi lebih cerewet dari biasanya. Ia bisa lebih ribut dibanding Prihatin ataupun Sungkowo. Setiap hari, menjelang pendaftaran masuk sekolah, ia akan terus mendesakku untuk cari uang, cari uang dan cari uang.

Aku pun memahami keinginan istriku. Aku juga tak mau anak-anakku putus sekolah. Sebab, hanya sekolahlah satu-satunya bekal anak-anakku untuk meraih masa depannya. Jadi jelas, keinginan Prihatin untuk berhenti sekolah tak akan kukabulkan.

* * *

Gang yang menuju rumah kontrakanku terletak di pinggir jalan kabupaten. Di seberang jalannya terdapat rumah mewah milik seorang pedagang beras keturunan Tionghoa. Rumahnya bercat serba putih. Bertingkat dua. Tanahnya luas, hampir satu hektar. Memanjang dari depan ke belakang. Dikelilingi tembok setinggi empat meter.

Di halaman depan rumah terdapat kolam ikan yang dihiasi air terjun kecil. Pagar halaman depan, yang berbatasan dengan jalan, setinggi dua meter, berteralis ukir dengan pintu gerbang kupu. Di halaman belakang, konon ada kolam renang berpatung naga yang moncongnya bisa mengeluarkan air hangat secara terus-menerus.

Untuk urusan kolam renang dan patung naganya aku tak berani mempercayainya. Sebab aku belum pernah masuk dan melihatnya sendiri. Tapi, orang-orang kampung di sekitar rumah kontrakanku telah sering menggunjingkannya, terutama anak-anak. Menurut cerita anak-anak, mata naga itu bisa berputar-putar sendiri dan mengeluarkan cahaya seperti mata naga asli.

Anak-anak memang bisa mendeskripsikan keadaan halaman belakang rumah mewah itu, sebab pemiliknya, A Kiong, selalu open house untuk anak-anak sekitarnya. A Kiong tak pernah keberatan jika anak-anak kampung bermain dengan A Lin, anak perempuannya semata wayang yang berusia enam tahun.

Nah, perkara rumah milik A Kiong inilah yang menjadi perdebatan antara aku dan istriku. Menurut istriku, harusnya aku mencontoh perilaku Pak Muna, tetangga kami yang rumahnya berjarak lima rumah dari tempat tinggalku. Aku tahu siapa Muna, dan aku tahu apa yang dimaksud oleh istriku tentang perilakunya.

Hampir sebulan sekali aku melihat Muna mendatangi rumah A Kiong. Dari kunjungannya itu Muna kerap mendapatkan sejumlah uang. Aku tahu, A Kiong bukanlah termasuk orang yang pelit. Ia akan mudah trenyuh bila mendengar kesusahan orang lain. Dan, karena kemurahan hati A Kiong itulah Muna sering memanfaatkannya untuk memperoleh uang.

Masih menurut cerita istriku, setiap berkunjung ke rumah A Kiong, Muna selalu berkisah tentang keluarganya yang katanya serba kekurangan. Dengan kalimat-kalimat yang didramatisir Muna pandai memikat hati A Kiong. Kelanjutannya, A Kiong pun dengan sukarela mendermakan uangnya kepada Muna.

A Kiong mungkin bisa ditipu oleh cerita Muna, tapi aku tidak. Sepengetahuanku, keluarga Muna tidaklah miskin. Setidaknya untuk makan tiga kali sehari dengan lauk-pauk sederhana masihlah bisa. Hanya saja, Muna termasuk orang pemalas. Tak pernah kulihat ia bekerja mencari uang. Padahal, ada lima mulut di rumahnya yang harus ia kasih makan tiap hari.

"Bapak memikirkan si Muna ya?" tebak istriku. Aku mengangguk. "Tak perlu kesal dengan ulah si Muna. Hanya dengan mulutnya dia bisa mengumpulkan uang tiap bulan."
"Tapi aku tak mau mengemis!" potongku cepat.

"Si Muna tidak mengemis! Dia hanya minta bantuan pada orang yang berpunya. Lagi pula Koh A Kiong juga tidak keberatan membantu si Muna," cerocos istriku.

"Bagiku sama saja! Si Muna selalu minta belas kasihan pada A Kiong. Padahal, untuk bekerja tenaganya masih ada. Apa itu bukan mengemis namanya. Lagi pula, kalau aku berbuat seperti si Muna, tiap bulan meminta uang pada A Kiong, anak-anak kita pasti akan malu," bantahku tak mau kalah.

Untuk satu hal ini aku tak mau terpojok oleh pendapat istriku. Kalau aku terpojok dan menuruti kemauan istriku, anak-anakku terutama Prihatin akan mencap bapaknya sebagai laki-laki yang tak mempunyai harga diri. "Siapa bilang Bapak harus minta bantuan tiap bulan ke Koh A Kiong. Aku mohon saat ini saja, Pak, untuk biaya sekolah anak-anak!" desak istriku tak mau menyerah. Aku menggeleng. Bagiku, untuk biaya sekolah anak-anakku tak perlu dengan cara mengemis. Aku masih sanggup bekerja.

Istriku tak menanggapi gelengan kepalaku. Ia beranjak dan berjalan ke dapur. Sempat kulihat bibirnya monyong. Mungkin kesal hatinya. Ah, peduli setan dengan kekesalan istriku. Menurutku, mestinya istriku bangga mempunyai suami yang tak sudi merendahkan harga dirinya hanya untuk memperoleh sejumlah uang.

* * *

Setahun lewat. Prihatin putri sulungku kini kelas dua SMU. Sedang Sungkowo, adiknya, naik ke kelas dua SMP. Untuk sementara waktu aku bisa bernafas lega. Prihatin tak perlu putus sekolah lantaran bapaknya tak punya uang. Untuk sementara waktu pula aku lupa dengan kehidupan Pak Muna, tetangga kami.

Istriku pun tak pernah menyinggung soal Pak Muna. Ia sibuk berdagang. Dengan modal yang tak seberapa besar, istriku membuka warung kecil di depan rumah. Ini merupakan alternative yang terbaik buat menambah uang dapur kami. Sisa uang pendaftaran sekolah Prihatin dan Sungkowo dulu langsung dimanfaatkan sebagai modal dagang oleh istriku.

Tuhan memang Maha Adil. Dulu sewaktu kami kebingungan mencari biaya buat uang pangkal sekolah anak-anakku, tiba-tiba bosku memintaku mencarikan mobil bekas untuk keponakannya. Peluang tersebut tentu tak kusia-siakan. Setelah kasak-kusuk kesana-sini, aku pun bisa mendapatkan mobil yang diinginkan oleh bosku. Dari usaha dadakan tersebut aku mendapatkan komisi yang cukup lumayan, yang kemudian aku pakai untuk bayar uang pangkal sekolah anakku dan memberi modal dagang istriku.

Pancaran bahagia jadi sering kulihat dari mata istriku dan juga mata Prihatin, anakku. Ia pun makin getol sekolah. Semangat belajarnya selalu number one. Melihat istri dan anakku bahagia aku jadi teringat A Kiong. Warga keturunan itu memang luar biasa dalam urusan berderma. Mungkin dengan sering berderma A Kiong merasa bahagia. Meski terkadang kebaikannya sering disalahgunakan oleh orang lain.

Seperti yang kulihat sekarang. Jika kuperhatikan kini tak hanya Muna yang sering keluar masuk ke dalam rumah A Kiong, melainkan hampir sebagian warga kampung rajin keluar masuk ke sana. Tujuannya tak lain mengharap belas kasihan A Kiong agar memberikan bantuannya dalam urusan dapur mereka.

Mulut para warga jadi lebih aktif bekerja dibanding tangan dan kaki mereka. Mereka jadi lebih fasih bercerita daripada berdagang atau mencangkul di sawah. Cerita yang keluar pun bisa menjadi lebih seru dan menyedihkan dibanding kenyataan hidup mereka sehari-hari.
"Pak.. itu orang-orang kok nggak malu ya minta-minta sama Koh A Kiong!" ucap istriku.

"Biarin saja, Bu! Bukan urusan kita," aku coba mengingatkan istriku. Aku tak mau terlibat omong kosong soal kehidupan orang lain. Dulu, sewaktu aku menolak meminta bantuan A Kiong, istriku seakan tak setuju. Tapi kini, istriku malah risih melihat sekian banyak orang berbuat seperti yang dulu pernah dianjurkannya kepadaku.

Mulut kini memegang peranan penting di sebagian antero kampungku. Bagi mereka yang tidak bisa menggunakan mulutnya dengan cerdas (setidaknya untuk keuntungannya sendiri) maka ia tidak akan memperoleh apa-apa. Termasuk diriku ini. Tapi bagiku tak menjadi soal. Otak, tangan dan kakiku masih bisa kuandalkan tinimbang hanya mengandalkan mulut saja.

Makin hari perkembangan yang terjadi di kampungku semakin menarik perhatianku. Muna mulai terlihat sibuk mondar-mandir ke kantor kecamatan. Rumah A Kiong tampaknya mulai dilupakan. Aku jadi penasaran, apa yang tengah dilakukan oleh Muna.

Namun, untuk mengorek keterangan dari mulut Muna sendiri aku malas, sebab aku yakin Muna takkan mau bercerita banyak. Mulutnya hanya dipergunakan untuk kepentingannya sendiri bukan untuk melayani kepentingan orang lain. Mirip-mirip anggota dewan yang sering banyak omong tapi hanya untuk keperluan perutnya atau kepentingan golongannya.

* * *

Hari masih pagi. Prihatin dan Sungkowo telah berangkat ke sekolahnya masing-masing. Istriku tampak sibuk membuka dagangannya. Di meja teras rumah kulihat segelas kopi hitam tersedia. Ritual pagiku memang seperti ini.., menikmati segelas kopi hitam dan membaca koran pagi.

Duduk di teras aku pun asyik melahap berita-berita di koran. Berita-berita politik didominasi oleh peristiwa pemilihan gubernur, bupati atau walikota. Termasuk pemilihan bupati di wilayah tempatku tinggal. Kubaca beritanya di koran. Hampir aku tak percaya. Kuulangi lagi membaca. Tertulis nama Muna di situ. Jadi, Pak Muna ikut mencalonkan diri menjadi bupati.

"Ini tak bisa dibiarkan," aku menggumam. "Apanya yang tak bisa dibiarkan?" istriku nyeletuk dari dalam warung.
"Ini, Bu, si Muna ikut mencalonkan diri jadi bupati!" sahutku.
"Aduh gimana, Pak?! Dia kan orangnya cuma bisa meminta dan malas bekerja! Apa jadinya kalau dia memimpin kita?!" tanya istriku kemudian.
"Yah.. paling-paling kita sering berhutang!" sahutku asal-asalan.

Aku geleng-geleng kepala membayangkan si Muna duduk di kursi empuk di ruang kantor bupati. Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus memberi masukan bagi orang-orang yang hendak mendukung si Muna.

Kepada istriku aku cerita hendak ke kecamatan dan mencoba memberi masukan tentang si Muna pada orang-orang di kecamatan. Istriku, walau terlihat cemas, hanya menganggukkan kepala. Jadilah aku berangkat ke kecamatan.

Sampai di kota kecamatan, aku segera mencari kantor DPC partai yang mendukung pencalonan Muna. Tak sulit. Tak lebih dari satu jam aku telah bertemu orang-orang yang menjadi tim sukses Muna. Kepada mereka aku bicara. Tetapi.. aku kaget dan tak bisa percaya. Mulutku tak luwes berbicara. Kalimat yang hendak kukeluarkan terdengar tak utuh. Aku terbata-bata. Dengan susah payah kuceritakan prilaku Muna selama menjadi tetanggaku di kampung.

Selesai bercerita kutunggu reaksi mereka. Satu menit, dua menit.. aku berharap mereka akan menyalamiku dan mengucapkan beribu terima-kasih atas informasi yang telah kuberikan. Tapi tak ada reaksi apa-apa. Lima menit berikutnya kudengar tawa mereka. Membahana sahut-menyahut. Aku terpana. Tawa itu sangat menyakitkan. Mengejek kehadiranku di hadapan mereka.

Tak sampai sepuluh menit suara tawa pun reda. Lalu, mulut-mulut di hadapanku mulai bersuara. Susul-menyusul. Mulut-mulut itu begitu piawai merangkai kata. Mulut-mulut itu membius akal sehatku. Mulut-mulut itu memiliki kesimpulannya sendiri tentang Muna yang jujur, pekerja keras dan pantang menyerah.

Jadi, Muna memang pantas ikut pemilihan bupati. Mulut-mulut itu telah membungkus sosok Muna di dalam kerdas kado yang cantik untuk dijual di hadapan masyarakat pemilihnya nanti. Mulutku tak mampu melawan mulut mereka.***

* Cibinong, awal Februari 2009.


Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i