Sajak-sajak Selendang Sulaiman
Sabtu, 11 April 2009
TENTANG SEORANG BERNAMA PIA
Sekian musim yang kau setubuhi menempuh jalan becek
Krikil dan tanah tandus lahirkan sejumput ilalang
Pada gerai rambutmu gersang memecah sahara
Lihatlah, ada banyak mata berdatangan
Ingin meluapkan tatapan-tatapan nanar
Jangan kau terlena jikalau tak punyak daya
Betapa tajam untuk menyibak mahkotamu
Di tengah kebisingan kereta,
kerata sibuncit berdasi merah tua
warna lidah ganas bercelat
Getirkan getar hati yang sekarat
Jalan itu yang dekat dengan ujung kukumu
sangat panjang dan jauh
Bugitupun matamu yang mampu menjangkau warna biru
langit tipis sekali
Namun rumput-rumput itu masih lepas genggam
dieja matahari senja hari
Sambil menari ria dengan cecapung
di matamu tanpa sealun nada kesturi
Sungguh sia-sia
Kau jangan ragu-ragu
Tetaplah di sana bercengkrama dengan pungguk
Maka gunung akan lahirkan bulan piatu
Dan akan belajar menjadi purnama
dengan puting susumu
Kutub DIY, Agustus 2008
PENGANTIN HAMIL
Perutmu bersemi cumbu cinta liar
Pada perjamuan manja yang dini
tatanpa terekam waktu
Dimana anak mata saling tikam
Menembus rahasia bunga saga
Hasrat memuncak gelora asmara
Pengap terengah nafas menggila
Dalam geliat api dadamu
Tubuhku membara, mengerang
Menggelitik lentik jemari jalang
Jemari yang baru berpotong kuku
Bersama senggama kupu di beranda
Tempat cerita mengalir Hingga larut
Tiba-tiba naluri nurani menjelma tuak
bulan bintang sepanjang malam
Sambil bereuforia di ranjang terlarang
Bara birahi kita hablur
Di sungai air mata ayah bunda
Atau air mata kita sendiri
Kutub, 10 Nop 08
UNTUK HATI YANG SEPI
: (Demi kata yang tak dapat kurangkai)
I;
Maka aku bertanya:
Kenapa kata sulit terangkai
Padahal musim-musim telah lebur
Bersama renung dan hablur
Bahkan rongga telah kering
Demi mengkoarkan suara imaji
Disetiap pintu-pintu dan jendela
Bahkan ruang-ruang pengap
Tak lagi kelam
Usai nawala kutorehkan
Menjadi sketsa luka dan cinta
Ya, cinta dan luka-luka
I;
Mengapa metafor terlalu berat dieksplor
Meramu puisi dengan diksi-diksi suci
Menyusun puing-puing rindu
Menjadi babat syair-syair syahdu
Atau mensyakralkan syair dalam sendu
Kini,
Bukan hanya kata-kata
Palu genggamku-pun patah
Dan paku penaku tumpul
Sekedar memahat air mata
Yang tak kering di ceruk malam
Yogyakarta 2008
SURAT DARI MIMPI
Cakrawala memerah pipimu
Bintang jatuh menyindu keningmu
Terangi lembar kenangan
Yang kusut melumut
Di sungai, tempat membasuh luka
Yogyakarta, 2008
TENTANG GADIS JOGJA
Bedakmu cadar mantra
Kebayamu jubah kehormatan
Wismamu tahta yang sakral
Aku menerka dalam impian
Kau bakal permaisuri
Dariku sang perantau
Ah,
Terlalu semu untuk terjelma
Layaknya mimpi senja hari
Yogyakarta, juli 2008
Catatan Redaksi
Selendang Sulaiman, kelahiran Madura 18-10-1989. Alumnus S Conglet PP Al-in'am Sumenep Madura. Aktif di forum kajian sastra pesantren, Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa UIN SUKA Fakultas Adab, jurusan SKI |
|