Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Budaya 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Oka Rusmini Makin Menjadi
Oleh Sunaryono Basuki Ks
Evi Idawati,
Kembali Rilis Buku Baru,
Mencintaimu
Sitor Situmorang,
Penyair dengan Masa Kerja Terpanjang
Oleh Faidil Akbar
PEMATUNG
Nyoman Nuarta, Dapat
Dukungan dari Cucu
Oleh Noor Amanah
BUDAYA
Obama Naik Becak,
Pemenang Biennalle IAA 2010
Kolecer & Hari Raya Hantu
Budaya Lokal dalam Sastra
di Mata Cerpenis
Oleh Eka Fendri Putra
Mengapa Komik Jepang Bisa Mendunia?
Oleh Faidil Akbar
Diah Hadaning
Di Usia 70 Tahun,
Luncurkan Antologi 700 Puisi
Taman Budaya Bali,
Sebuah Percontohan
Oleh Eka Fendri Putra
Putu Wijaya, Sejak Remaja
Sudah Menggemari Sastra
Oleh Faidil Akbar
Nilai Budaya dalam
Bahasa Gambar Garin Nugroho
Oleh Eka Fendri Putra
Nasib Perempuan
yang Terpinggirkan
Oleh Sunaryono Basuki Ks
arsip  
Puisi puisi
Eka Fendri Putra
Puisi
Hendy CH Bangun
Puisi Puisi
Isbedy Stiawan ZS
Puisi Puisi
Gita Nuari
Puisi Puisi
Agus Sunarto
Puisi Puisi
Beni Setia
arsip  
Teh Buatan Siti
Oleh Faradina Izdhihary
Sahur Hari Pertama
Oleh Sutan Iwan Soekri Munaf
Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran
Oleh Benny Arnas
Kacamata Hitam Iyam
Oleh Ida Ahdiah
Ketika Aku Menjadi Orang Papua
Oleh Gerson Poyk
Sang Pahlawan
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
BAHASA DAN KITA
Antara Kepraktisan dan
Kesahihan Bahasa
Oleh Suhatri Ilyas


Sabtu, 25 April 2009
Hingga saat ini, setelah 81 tahun dinyatakan dalam Sumpah Pemuda, bahasa Indonesia kita masih memiliki kekurangan yang cukup mengganggu, paling tidak ketakseragaman dalam penulisan kata. Ada juga sebenarnya kerancuan-kerancuan dalam struktur dan pemaknaan. Namun, ketakseragaman penulisan kata itu paling mudah terlihat, termasuk oleh kalangan awam.

Dalam suatu kesempatan, teman saya yang orang asing pernah bertanya, "Kalian menuliskan praktik itu /praktek/ atau /praktik/, sih?" Tentu saja saya bernafsu mejelaskannya dengan panjang lebar, meski saya akhirnya tetap tak yakin dia merasa puas.

Dalam suatu diskusi berkala Forum Bahasa Media Massa (FBMM) awal Oktober tahun lalu, yang mengambil tema penyerapan kata-kata bahasa Arab dalam bahasa Indonesia, terlihat sekali betapa belum tuntasnya mekanisme penyerapan kosa kata bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, khususnya bahasa di media massa.

Yang menarik, dalam diskusi itu muncul dua sikap dalam menghadapi kesalahan-paling tidak ketakseragaman-berbahasa tersebut. Sikap pertama, berbahasa itu hendaknya yang praktis-praktis saja sesuai dengan keindonesiaan kita, baik pelafalan, penulisan, maupun pemaknaan.

Sementara yang kedua, menganggap harus ada kepastian bahasa dengan terlebih dahulu melihat kasahihan dan ketepatan melalui kajian, bahkan diperlukan penelusuran secara etimologis, misalnya terhadap suatu kata. Dan kita, menurut kelompok ini, harus hati-hati dalam hal ini, agar tidak terjadi kerancuan-kerancuan yang bisa menimbulkan penafsiran berbeda.

Namun, walau ada perbedaan dalam memandang penyerapan kata-kata asing itu, ada satu hal yang disepakati bersama dalam diskusi tersebut, yaitu perlunya konsistensi dalam menggunakan unit-unit bahasa seperti kosa kata, struktur, pemaknaan -- teristimewa di mediamassa -- karena forum ini teramat efektif menyosialisasi sebuah kata baru.

Justru itu, masalah yang relatif lebih banyak diperdebatkan karena semua orang bisa berkomentar akibat semua orang bisa menilai--adalah penulisan kata -- tersebut. Ini karena memang gamblang dilihat ketidakkonsistenan (perbedaan) dari satu media ke media lainnya, bahkan satu wartawan ke wartawan lainnya.

Kata praktik, satu media konsisten menggunakan kata praktik dengan alasan secara etimologis dan struktur memang bisa dibuktikan bentuknya yang benar adalah praktik, yakni dari kata practice atau dalam struktur berpadanan dengan praktikum (bukan praktekum).

Hal yang sama terjadi pada kata objek, dari bahasa Inggris kata /object/ masuk ke dalam bahasa Indonesia menjadi objek, bukan objek. Tetapi ada media yang terus menggunakan objek. Masih ada banyak kata lain seperti asas (selalu ditulis azas), izin (selalu ditulis ijin), dollar dan dolar, serta barrel dan barel.

Belum lagi kata-kata serapan baru, baik dari bahasa Arab, Inggris, Belanda, China, maupun dari bahasa Jepang dan Rusia. Termasuk penulisan nama, yang kadang-kadang kalangan media cukup tak berdaya karena nama-nama asing itu (banyak kasus nama-nama dari bahasa Arab) masuk ke Indonesia melalui bahasa Inggris. Di sini kita mengenal nama Mamoud Abbas, Mohammed Khoudury, bahkan nama seterkenal bin Laden.

Dalam kasus ini persoalan menjadi sulit karena untuk nama ini si pemillik nama diperbolehkan untuk menulis bebas sebagaimana yang diinginkan (dalam bahasa disebut arbitrer dan dalam puisi disebut licentia poetica)). Seperti Mohammed Khoudury, bisa jadi namanya memang begitu, kan itu haknya. Tapi kita terganggu karena dalam bahasa Arab kita tidak mengenal huruf /o/ dan /e/, yang ada hanya /a/, /i/, /u/. Jadi, mestinya hanya Muhammad Khudariy, Mahmud Abbas, dan lain-lain. Dengan demikian, seyogianya memang harus punya wawasan kebahasaan dalam hal ini sehingga kita tidak ikut-ikutan salah dalam hal ini.

* Penyelaras Bahasa Sebuah Penerbitan

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i