Selasa, 9 Februari 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Puisi 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Puisi Puisi Evi Idawati
Sajak-sajak Doel CP Allisah
Sajak sajak Isbedy Stiawan ZS
Puisi-Puisi
Timur Sinar Suprabana
Puisi-Puisi Hardho Sayoko SPB
Sajak-sajak Esha Tegar Putra
Puisi-puisi
Ulfatin Ch
Puisi Puisi
Edi Supardi Emon
Sajak-sajak
Umar Fauzi Ballah
Puisi Puisi
Shinta Miranda
Puisi Puisi
Aspar Paturusi
Puisi-puisi
Ayid Suyitno PS
arsip  
Puisi Puisi Evi Idawati
Sajak-sajak Doel CP Allisah
Sajak sajak Isbedy Stiawan ZS
Puisi-Puisi
Timur Sinar Suprabana
Puisi-Puisi Hardho Sayoko SPB
Sajak-sajak Esha Tegar Putra
arsip  
Seru Aku dari Situ
Oleh Sunaryono Basuki Ks
Bermuka Dua
Oleh Djunaedi Tjunti Agus
Paman Darajat
Oleh Adek Alwi
Terompet
Oleh Faradina Izdhihary
Setelah 100 Hari
Oleh DTA Piliang
KRL (Kereta Rel Listrik atawa Komunitas Rakyat Lemah)
Oleh Gita Nuari
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
Sajak-sajak Kurniawan Junaedhie

Sabtu, 13 Juni 2009

             Pada Suatu Subuh

setelah satu demi satu kalender tanggal,
aku makin yakin,
aku merasa tak pernah mengenalmu:
siapa gerangan namamu?
di mana alamatmu?

sungguh, aku tak pernah melihatmu sebelumnya
aku mememang pernah melihat orang berjalan
tapi dia menjauh sejam kemudian
dan dia diam, dan hanya melipat tangan

apakah itu engkau?
apakah itu engkau?

aku memang pernah melihat
orang masuk ke dalam mimpiku sekali dua kali
tapi dia menjauh sejam kemudian 
dan dia diam, dan hanya melipat tangan

aku memang pernah mendengar
suara angin menggelepar
apakah kau yang sembunyi di situ?
apakah yang kauharap dari hidupku?

bagaimana mungkin kau kini mengenalku?
pernahkah kita berjabatan tangan?
dengan siapa selama ini aku berjalan?
dengan siapa selama ini aku bersapaan?

semakin banyak tahun menggelosor pergi
aku pun semakin yakin,
kita memang tak pernah berkenalan.

semua habis.
pengharapan  habis
suara burung  habis
sajak-sajak telah lama tak kutulis
masa laluku tak ubahnya orang yang kehabisan karcis,
melenting jauh ke arah bintang,
dan kini nungging di bumi sendiri

kini kuingat diriku yang tak punya teman
sementara jakarta hanya diam
dengan mata terpejam.

                                   Ciputat, 19 Juni 1994/ 2009


               Ibunda

setelah kamu pergi ke negeri jauh
kerjaku hanya bengong:
langit merendah, kata-kata merendah
juga gunung dan lembah

sekarang saja terpikir,
40 tahun umurku, 
aku belum bisa kasih kamu apa-apa
kecuali sajak-sajak
yang  sekarang  pun aku sudah tak bisa
lagi tunjukkan padamu

bahkan sekarang pun saat aku punya sali
kita tak bisa jalan bertiga
melihat kabut, matahari atau laut

kalau sekarang aku bicara begini,
jangan bilang terhadapmu aku bakal lupa
bagaimana bisa lupa?
kamu sudah terlalu jauh merasuki hatiku
sejak bayi sampai masa remajaku habis
juga ketika pertamakali aku jatuh cinta

dan ketika percintaanku kandas
kamulah tempatku mengadu
agar aku tumbuh kuat dan bertahan
kalau sekarang aku bicara begini,
anggap saja aku sedang ngigau
bagaimana terhadapmu aku bakal lupa?

setiap kali aku kecewa dan hidup susah
kamu yang mengajariku tertawa
ketika persoalan demi persoalan 
tak mampu kuatasi
kamu  yang  mengajariku melipat tangan
dan memejamkan mata
setiap kali aku mengadu padamu
bahwa hidupku risau dan perasaanku kacau
kamu mengajariku menuliskan cinta,
jadi, apakah mungkin bisa kulupa?

ya, sekarang aku masih bisa duduk di sini
meski kursiku telah kaubawa pergi.
jangan susah di surga
yakinlah, aku akan mengenangmu selama-lamanya

                                   18 Oktober 1995/ 2009


          Ketika Azalika 
          di Perut Ibunya

waktu kamu umur empat bulan
aku suka pasang kuping di perut ibumu
dan kukira, di dalam sana pun kamu ikut 
pasang kuping
sembari tertawa sendiri
melihatku menangis dan meringis silih berganti

waktu kamu umur lima bulan
waktu kami mulai sibuk mencari nama
waktu kami suka senyum-senyum sendiri
karena merasa bakal momong anak,
kamu mungkin akan heran,
dunia orang dewasa ternyata norak dan kampungan

tapi aku memang tak sabar menunggumu
mungkin ini perlu kamu tahu:
ketika malam menjadi paripurna di bar
ketika aku sedang stres karena pekerjaan kantor
ketika aku jauh dari rumah
hanya kamu yang kuingat
juga ketika bangun pagi hari
ketika nonton televisi
ketika melihat gambar bagus di kaos anak-anak
aku merasa diriku seperti ayah-ayah yang lain
yang janji untuk menyayangi anak-anaknya
meski mereka nakal dan bengal
dan angka rapotnya kebakaran

harap kamu tahu, 
kamulah yang bikin aku tambah sayang
pada pepohonan, tanaman, binatang, desir hujan
kamu juga yang bikin umurku terus bertambah
dan hidup tambah bergairah

Juli 1995/ 2009
Catatan Redaksi:
Kurniawan Junaedhie tinggal di Serpong, Tangerang. Buku puisinya antara lain: Selamat Pagi Nyonya Kurniawan (Jakarta, 1978), Dari Negeri Poci (kump. puisi bersama 12 penyair Indonesia, Pustaka Sastra, Jakarta, 1993), Dari Negeri Poci 2 (kump. puisi bersama 45 penyair Indonesia, Pustaka Sastra, Jakarta, 1994), Dari Negeri Poci 3 (kump. puisi bersama 49 penyair Indonesia, Majalah Tiara, Jakarta, 1996) dan The Fifties (bersama 19 penyair lainnya, Jakarta, 2009).

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i