Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Metropolitan 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
JELANG LEBARAN
Pelayanan Mudik Masih Terkendala
POLRI
Kapolri Masih Merahasiakan
Calon Penggantinya
ARUS MUDIK
Polisi Harus Utamakan
Tindakan Persuasif
PERGURUAN TINGGI
Pertamina dan Kemdiknas
Gelar OSN-PTI Berhadiah Rp 2,7 M
ARUS MUDIK
Masih Banyak Kerusakan Jalan
di Jalinpantim Lampung
KABUPATEN BEKASI
Seluruh Perusahaan Akan Bayar THR
TRANSPORTASI
Nasib Monorel Akan
Ditentukan Pekan Depan
PELECEHAN SEKS PASKIBRA
KPAI Nilai Pemprov DKI
Lelet Lakukan Pengusutan
DKI JAKARTA
Kompleks Makam Pangeran Jayakarta Akan Ditata
PENGGANTIAN PIMPINAN
Citra Tiga Institusi
Harus Bisa Dipulihkan
PERAS PENGGUNA NARKOBA
Enam Polisi dan
1 Anggota BNN Ditangkap
SARANA PENDIDIKAN JAKSEL
Lelang Rehab Langgar Keppres
arsip  
KRIMINALITAS
Polisi Tembak Mati Dua
Perampok Nasabah Bank
KRIMINALITAS
Densus 88 Bekuk Dua Perampok Bank CIMB Niaga
NARKOBA
Sindikat Narkoba Berpusat
di China Terungkap
KRIMINALITAS
Perampok Jarah Tiga
Toko Emas di Jakarta
KRIMINALITAS
Guru SMP Tewas
Ditembak Kawanan Perampok
KRIMINAL
Pelaku Mutilasi Profesional
Tenang Saat Beraksi
arsip  
 
 
PERTUMBUHAN PENDUDUK
Lansia Bisa Jadi Aset Pembangunan


Rabu, 24 Juni 2009
JAKARTA (Suara Karya): Jumlah lanjut usia (lansia) yang selalu berkembang setiap tahunnya, bisa dijadikan sebagai aset pembangunan. Di sisi lain, jumlahnya yang banyak kadang membuat masalah lansia menjadi komopleks.

Demikian dinyatakan Ketua Yayasan Damandiri, Prof Dr Haryono Suyono dalam acara Sarasehan Bina Keluarga Lansia, di Jakarta, Selasa (23/6). Lebih lanjut dikatakannya, pertumbuhan lansia saat ini jauh lebih cepat ketimbang tahun 2000. "Kalau pada tahun 2000 jumlah lansia hanya tiga juta, tahun ini sudah mencapai empat kali lipat. Tahun 2025 mendatang, diperkirakan akan naik sebanyak delapan kali lipat," kata Haryono Suyono.

Sayangnya, ujar dia, masih kurang kesadaran akan terjadinya ledakan lansia ini. Selain itu, manusianya sendiri banyak yang tidak mempunyai kesiapan yang cukup menghadapi menjadi lansia. Belum lagi, ketiadaan jaringan pemberdayaan lansia, kurang dukungan budaya, serta tidak fokusnya pemberdayaa, semua itu membuat persoalan lansia menjadi begitu kompleks.

Di Indonesia, lansia terbagi dalam tiga golongan. Yakni, lansia yang sehat, cerdas, mampu dan siap untuk membangun. Kedua, sehat, kurang cerdas dan kurang mampu, golongan ini belum siap untuk membangun. Dan, golongan terakhir ialah, lansia yang kurang sehat dan perlu bantuan secara rutin.

Padahal, dengan jumlah yang begitu banyak, lansia sangat potensial sebagai aset pembangunan. Bahkan, sambil berseloroh dikatakan Haryono, bagi calon presiden yang ingin mendapat suara banyak, bisa mendekati para lansia. "Tapi sejauh ini masih belum ada capres yang melakukan itu," ujarnya.

Karena itu, agar para lansia bisa tetap berperan aktif dalam pembangunan di negeri ini, perlu adanya kesiapan-kesiapan sebelum memasuki masa lansia. Kesiapan itu di antaranya mengikuti pelatihan, bergabung dengan organisasi sosial kemasyarakatan, mengenal dan bergabung dengan masyarakat di luar kantor. Sementara itu, pos pemberdayaan keluarga (Posdaya) bisa dijadikan para lansia meneruskan baktinya kepada anak bangsa. Lansia bisa berperan sebagai sesepuh pemberdayaan. (Budi Seno)

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i