Kamis, 9 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Sehat 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
KESEHATAN
Produk Pencuci Muka Scrub
Tak Mampu Kikis Kulit Mati
KESEHATAN
Tidur Siang Bisa Tingkatkan
Produktivitas Kerja
KESEHATAN
Pentingnya Layanan Terpadu
Pasien Diabetes
KESEHATAN
Waspadai Penggunaan Obat
secara Berlebihan
INFO KESEHATAN
Dongkrak Gizi Balita
Lewat Konsumsi Kecambah
KESEHATAN
Pedagang Tak Peduli
soal Bahaya Tas Kresek
KESEHATAN
Kasus HIV/AIDS di Indonesia Meningkat Enam Kali Lipat
KESEHATAN
Sejuta Manfaat Buah Anggur
KESEHATAN
Waspadai Kerusakan Retina
pada Bayi Lahir Prematur
KESEHATAN
Mau Terhindar dari Hipertensi,
Batasi Garam 1 Sendok Teh per Hari
KESEHATAN
Makanan Berserat Lindungi Jantung
KESEHATAN
Cegah Alergi Sejak Masa Kehamilan
arsip  
Testosteron dan Olahraga
Mitos Mengenali Seks
Sebelum Bertanding
Terapi Hipnotis
Alternatif Pemecahan Kehidupan
Seksual yang Bermasalah
REZA GUNAWAN
Sembuhkan Penyakit
Lewat Kekuatan Jiwa
WELNALDI
Awet Muda lewat Totok Energi
SUMARSONO WURYADI
Terapi Warna untuk
Keseimbangan Tubuh
JULIANA TJANDRA
Akupunktur untuk Rambut Rontok
arsip  
 
 
KESEHATAN
Pedagang Tak Peduli
soal Bahaya Tas Kresek


Jumat, 17 Juli 2009
Peringatan publik Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) terkait dengan bahaya plastik kresek, khususnya berwarna hitam agaknya belum diindahkan masyarakat. Hal itu terlihat masih banyaknya pedagang, terutama pedagang gorengan di pinggir jalan yang menjadikan plastik kresek hitam sebagai wadah gorengannya yang panas mengepul.

Tarno, pedagang gorengan yang biasa mangkal di seputar pasar Ciputat, Tangerang mengaku tidak tahu bahaya plastik kresek hitam yang digunakannya untuk wadah gorengannya. Ia menggunakan plastik kresek karena harganya yang murah.

"Kalau pakai kertas bekas harganya mahal. Nanti untungnya makin berkurang," kata pria tengah baya yang mengaku baru sekali mendengar tentang bahaya plastik kresek hitam selama 8 tahun berjualan gorengan.

Hasil penelitian I Made Arcana, dosen kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) bisa menjadi satu alasan kita menolak kantung plastik kresek sebagai wadah makan. Arcana menjelaskan, zat pewarna hitam yang digunakan untuk pewarna kantung plastik kresek itu jika terkena panas dapat terdegrasi dan mengeluarkan zat yang menjadi salah satu pemicu kanker. "Tidak dianjurkan menaruh makanan panas langsung dalam kantung plastik kresek, tetapi alasi dulu dengan daun atau kertas yang aman buat kesehatan, bukan kertas koran," ujarnya.

Namun, penting pula diketahui masyarakat bahwa plastik daur ulang itu tidak hanya dijadikan sebagai kantung plastik, tetapi juga produk lain yang selama ini tidak disadari masyarakat seperti sedotan, piring plastik kecil yang biasanya dipergunakan untuk wadah buah-buahan atau cake pada peringatan ulang tahun, dan gelas plastik berwarna.

Lantas, apa solusinya mengatasi persoalan kantong plastik? Yang pasti, lanjut Arcana, jangan pernah mencoba membakarnya. Jika proses pembakarannya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia.

"Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi," ujarnya.

Selain kantung plastik kresek, pembungkus makanan lain juga patut mendapat perhatian karena bisa saja mengandung zat berbahaya bagi kesehatan. Selama ini masyarakat menerima dengan lumrah makanan yang dibungkus oleh kertas biasa, kertas koran atau kertas bekas majalah.

Terkadang kertas pembungkus yang kontak langsung dengan makanan itu tidak didesain khusus untuk wadah makanan, sehingga mengandung zat berbahaya seperti timbal, karbon, dan lainnya. Timbal dapat mudah berpindah ke makanan jika terkena minyak dan panas yang mampu menyebabkan kelumpuhan.

Jadi bagi anda yang suka membeli gorengan, sayur-sayuran, kue, roti, dan lain-lain yang dibungkus dengan kertas bekas atau kertas bukan untuk makanan seperti kertas koran, kertas majalah, kertas print-an, gunakanlah piring atas wadah lainnya yang didesain khusus untuk makanan.

Harus Dikurangi

Penggunaan styrofoam sebagai wadah makanan, meski terbilang aman untuk kesehatan sebagaimana dilansir BPOM, tetapi harus dikurangi. Karena stryofoam tidak ramah lingkungan. Bahan styrofoam bersifat tahan lama dan tidak dapat terurai secara alamiah dalam waktu puluhan atau mungkin bahkan ratusan tahun.

Sementara jika styrofoam dibakar, maka racun yang menguap ke udara jika terhirup akan menetap di dalam tubuh serta dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius.

Sebaiknya mulai dari diri sendiri tidak menggunakan dan tidak membeli makanan mimuman yang memakai styrofoam sebagai kemasan agar tidak terkena dampak yang merugikan diri kita sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar kita. Lebih baik membawa tupper ware, piring atau rantang sendiri untuk membawa makanan kesukaan kita.

Kemasan lain yang patut diwaspadai adalah plastik air minum dalam kemasan yang mengandung bahan polyethylene terephthalate atau PET yang bersifat zat karsinogen jika dipergunakan berulang-ulang. Kemasan PET tersebut hanya aman digunakan beberapa kali saja, dengan suhu normal, tanpa dicuci-cuci, tidak kena sinar matahari.

Oleh sebab itu sebaiknya kita tidak memakai ulang botol dan gelas air minum kemasan dan hanya menggunakan kemasan minuman khusus untuk minuman yang aman dari zat-zat berbahaya.

Produk kemasan yang luput dari masyarakat adalah piring, mangkok, gelas dan barang berbahan melamin. Bahan melamin untuk pembuatan barang rumah tangga seperti piring, gelas, mangkuk, mug, cetok, sendok, garpu, dan sebagainya ternyata tidak semuanya aman bagi kesehatan kita dan dapat memicu kanker.

Selain harga yang murah, bentuknya yang beraneka ragam, ringan dan tahan banting menjadi primadona dalam perkakas rumah tangga di masyarakat. (Tri Wahyuni)

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i