Sabtu, 25 Mei 2013
HARIAN UMUM SUARA KARYA
DITERBITKAN OLEH:
PT SUARA RAKYAT MEMBANGUN
SURAT IZIN: KEPUTUSAN MENPEN NOMOR
070/SK/MENPEN/SIUPP/A.7/1986,
TANGGAL 1 MARET 1986

Perintis:
Ali Moertopo, Soedjono Hoemardani, Sapardjo

Penasihat:
Aburizal Bakrie, M Jusuf Kalla,
Akbar Tandjung

Pemimpin Umum:
Airlangga Hartarto

Wakil Pemimpin Umum:
Lalu Mara Satriawangsa

Pemimpin Redaksi/
Penanggung Jawab:

Ricky Rachmadi

Wakil Pemimpin Redaksi:
Kodrat Wahyu Dewanto

Redaktur Pelaksana:
Djunaedi Tjunti Agus

Wakil Redaktur Pelaksana:
Asep Yayat, Victor A Simandjuntak

Dewan Redaksi:
Ricky Rachmadi (Ketua),
Kodrat Wahyu Dewanto,
Djunaedi Tjunti Agus,
Asep Yayat,
Victor A Simandjuntak

Kepala Badan Litbang dan
Pengembangan Usaha:

Tiara Tohir

Redaktur Senior:
Bambang Soesatyo

Redaktur:
Sabpri Piliang, AAGDWA Ariwangsa, Ami Herman,
B Pudja Rukmana, Dwi Putro Agus Asianto, Mohamad Guntur S,
Kentos Reza Artoko, Yudiarma, Jimmy Ratu Radjah

Wakil Redaktur:
Lerman Sipayung, Laksito Adi Darmono, Yon Parjiyono,
Syamsudin Walad, Abdul Choir, Agus Haryanto,
Andry Bey Rusmanto, Indra D Himrat,
Budi Seno P Santo, Rully Ariefandi

Staf Redaksi:
H Singgih Budi Setiawan, Nunun Nurbaiti, Tri Wahyuni, Devita Dahlia,
Wilmar Pasaribu, Hanif Sobari, Joko Sriyono,
Sadono Priyo, Silli Mela Novi, Syamsuri S, Wem Fauzi, Muhamad Kardeni,
Nefan Kristiono, Andira, Sugandi, Hedi Suryono, Tri Handayani,
Kartoyo DS, Bayu Legianto, Feber Sianturi

Kontributor:
Ashari Nasution, Markon Piliang (Jakarta), Agus Dinar (Bandung),
Wahyudi HR, Pudyo Saptono (Semarang), Bambang Sugiarto (Yogyakarta),
Endang Kusumastuti (Solo), Manahan Tampubolon (Medan), Adrizas (Pekanbaru),
Chairul Ishar Wisnu (Serang), Hedi Suhaedi (Sukabumi), Tarwono (Bogor),
Windrarto (Depok), Yacob Nauli (Sorong), Bonne Pukan (Kupang),
Darwis Kusi (Makassar), Dina Kristina (Bandar Lampung), Kusyana (Indramayu), Muhajir (Bekasi)

Tim Penyunting Bahasa:
Wahiduddin (Wakil Kepala Bagian)
Sonny Heru Kusumo (Staf)

Kabag Pracetak:
Kusyanto

Wakil Kabag Pracetak:
Budi Pitoyo

Staf Pracetak:
Sugiyo, Suharno Glinka,
Sugeng Pramono, Chotimah,
Pramuji, Chaliri CH,
Harno

Staf SK Online:
Ari Wibowo, Elma Efly, Atim

Pemimpin Perusahaan:
Rakhmat Junaedi

Wakil Pemimpin Perusahaan:
Ph Ateng Winarno

Pemasaran & Iklan:
Manaek Sinaga

Sirkulasi dan Distribusi:
St N Haryaka

Keuangan:
Chairul Wahid

Alamat Redaksi & Tata Usaha:
Jalan Bangka Raya No 2
Kebayoran Baru Jakarta 12720
Telp: 7191352 dan 7192656
Faksimil: 71790746

e-mail: redaksi@suarakarya-online.com
Bagian Iklan: Telp: 7182270/71
Faksimil: 7182271

Pengaduan Dan Permintaan Langganan:
Telp: 7192656 - 7191352

Tarif Iklan Koran:
Hitam Putih: Umum Rp 39.000,-
Duka Cita: dari Keluarga Rp 29.000,-
dari Perusahaan Rp 33.000,-
Khusus 1 kolom X 100 mm Rp 33.000,-(per mmk), Mini: Rp 33.000,-/baris
Warna: 1 warna spot harga Rp 41.000,-
2 warna spot harga Rp. 45.000,-
Separasi warna (full colour) Rp. 55.000,-
Halaman I Rp 125.000,- (per mmk).

Tarif iklan belum termasuk PPN 10 persen

Bank Mandiri Kebayoran Baru No 126-007 4000349.
Giro Pos No 12745.

ISSN 0215-3130

Isi diluar tanggung jawab Percetakan


ooOoo

" >

PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Cerpen 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Rahasia Pengantin
Oleh Ente Duhita
Percakapan Mata
Oleh Faisal Syahreza
E M A K
Oleh Asep Yayat
Langgam Keroncong Dini Hari
Oleh Werda Filsani
Setangkai Mawar Putih
Oleh Evi Melyati
Senja di Tepi Sawah
Oleh Maria D. Andriana
Wawancara
Oleh: Beni Setia
E M A K
Oleh Siti Noor Aminah
Di Ujung Lorong Buntu
Oleh Sunaryono Basuki Ks
Melodrama Tikus di Lumbung Padi
Oleh Titik Kartitiani
Aku Tidak Gila
Oleh Fanny J. Poyk
I W I R
Oleh Aba Mardjani
arsip  
Puisi-Puisi
Herwin Malang Roa
Puisi-Puisi
Y Alpriyanti
Puisi Puisi
Ratna Ayu Budhiarti
Puisi-Puisi
Linda S Priyatna
Puisi-Puisi
Agus Muhamad Subarkah
Puisi-Puisi
Effendi Putra
arsip  
Rahasia Pengantin
Oleh Ente Duhita
Percakapan Mata
Oleh Faisal Syahreza
E M A K
Oleh Asep Yayat
Langgam Keroncong Dini Hari
Oleh Werda Filsani
Setangkai Mawar Putih
Oleh Evi Melyati
Senja di Tepi Sawah
Oleh Maria D. Andriana
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
CERPEN
Cinta yang Terganjal
Oleh: Djunaedi Tjunti Agus


Sabtu, 26 September 2009
Idul Fitri kali ini saya menghadapi masa pengadilan ketiga kalinya. Ku sebut sebagai pengadilan, karena seperti tahun-tahun sebelumnya, pada Lebaran ini aku kembali harus menghadap orangtua Endang, untuk menjelaskan kesiap-anku mempersunting Endang. Kali ini saya harus bisa meyakinkan bapak kepala desa itu bahwa aku benar-benar sudah siap, sudah memiliki kemampuan.

Endang adalah kembang desa di kampungnya. Semua pemuda di kaki gunung berhawa sejuk itu selalu berdecak kagum setiap berpapasan atau ketika menyaksikannya, begitu pula ketika dia memasuki bangku kuliah di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta. Gadis manis, berlesung pipi tersebut, satu perguruan tinggi dengan ku, tapi beda fakultas. Dia beberapa tahun di belakang ku. Dia ramah, sopan, pandai bergaul.

Semula saya tak menyangka kami akan saling tertarik, meski sering bertemu, karena tempat kos kami berdekatan. Dia telanjur saya anggap adik, karena seusia adiku, tiga tahun lebih muda. Tapi perjalanan waktu berkata lain, hanya beberapa pekan menjelang dia diwisuda sebagai sarjana pendidikan, saat aku luntung-lantang, pindah dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan lain, tiba-tiba saja perasaan saya berubah. Endang lebih pas menjadi kekasih ketimbang adik, dan ternyata aku tak bertepuk sebelah tangan.

Tiga tahun berlalu. Kami sudah merasa sama-sama siap meningkatkan hubungan, menjalin rumah tangga. Endang bahkan sudah bekerja sebagai seorang guru di kota, tak jauh dari desa asalnya. Aku juga sudah dapat pekerjaan. Tetapi di mata ayah Endang, saya masih jauh dari siap. Calon mertua, sang kepala desa, menginginkan aku mendapat pekerjaan yang mapan, pekerjaan tetap, jelas masa depannya.

"Apa yang bisa diharapkan dari seorang pekerja kontrak, pegawai outsourcing. Anda sewaktu-waktu bisa dipecat, diputus, lalu nganggur. Akan makan apa anak saya," kata sang kepala desa.

Ucapan bernada ketus Lebaran tahun lalu itu masih terngiang. Tahun ini aku harus menghadap lagi, menjelaskan kondisi ekonomi ku. Tapi apa yang harus dikatakan, keadaan saya masih sama dengan tahun sebelumnya. Gaji memang agak naik, tetapi statusku masih pegawai outsourcing.

Ada yang bilang pegawai jenis itu hanya untuk buruh pabrik. Untuk kami pekerja bank tidak boleh diterapkan. Tapi nyatanya kami diberlakukan sama. Bisa diberhentikan kapan perusahaan pengguna jasa tak membutuhkan lagi. Kami tak bisa protes, karena orang luar. Sementara perusahaan outsourcing hanya bisa menjanjikan akan menyalurkan lagi pada perusahaan lain.

"Cara kerja seperti apa itu? Seperti TKI, tenaga anda diperas, setelah tidak produktif dibuang begitu saja. Bagaimana saya bisa tenang, mempercayakan putri saya pada orang yang tidak jelas masa depannya?"

Ucapan yang sangat menyakitkan. Tapi apa daya. Dia benar, apa yang bisa diharapkan pada saya. Orangtua mana pun pasti berpendapat sama, mereka ingin anaknya memiliki masa depan jelas, memiliki masa depan cemerlang. Bukan seperti kami yang seperti layang-layang, dipermainkan perusahaan-perusahaan pengerah tenaga kerja. Kami kerja keras, tapi tiap bulan gaji kami dipotong perusahaan outsourcing.

Berbagai lembaga swadaya masyarakat perburuhan, tokoh buruh, pengamat, dan para buruh sendiri telah berjuang menentang perlakuan semena-mena yang kami alami. Tapi semua keberatan yang dikemukakan, upaya mendatangi DPR tak membuahkan hasil. Atas nama Undang-Undang, para pengusaha, pemerintah, dan DPR tetap mempertahankan sistem kerja kontrak dan outsourcing. Sistem outsourcing di beberapa negara memang menguntungkan pekerja, tapi di negeri sendiri tak lebih merupakan agen bagi perbudakan gaya baru.

"Jadi ukurlah diri sesuai bayangan," kata orangtua Endang. Saya tidak tahu apa maksudnya. Tetapi pembicaraan tahun lalu itu saya artikan sebagai pemberitahuan bahwa saya tak pantas menjadi suami putrinya.

"Berusaha saja nak. Mana tahu ada perbaikan," hanya ucapan Bu Narti, ibunya Endang, satu-satunya yang membuat aku agak terhibur. Tapi dengan kondisi saat ini, sepertinya tak ada gunanya kembali menemui ayahnya Endang.

Keadaanku masih seperti tahun lalu, pegawai outsourcing, masih ngontrak, tak punya apa-apa, kecuali sebuah motor butut pemberian orangtua ketika masih kuliah.

* * *

Walau desa yang akan saya tuju berhawa sejuk, sekitar 7 hingga 8 jam perjalanan dari Jakarta, hati ini sama sekali tak bergairah. Desa di kaki gunung di Jawa Tengah itu memang indah, tetapi bayangan ayahnya Endang, bapak kepala desa yang dihormati di pinggiran kota itu membuat saya berangkat setengah hati. Jika bukan karena dorongan Endang, saya sudah menyerah.

Kali ini memang saya tak langsung menuju rumah Endang. Saya lebih dulu menemui ibu di kota kami, kota yang sangat terkenal dengan produksi batik, juga di Jawa Tengah. Kepada ibu saya katakan, saya sengaja menemui ibu sebelum Lebaran, karena saya kemungkinan agak lama di kampungnya Endang.

"Mungkin ini terakhir kalinya aku menemui Endang, bapak dan ibunya Bu. Karena untuk yang terakhir, barangkali agak lama, beberapa hari."

Ibu lama terdiam. Dari dulu ibu tidak pernah mempengaruhiku. Dia terlihat begitu sayang terhadap Endang. Setiap ketemu kedua perempuan ini sangat akrab, tapi kalau sudah bicara jodoh dan pernikahan, ibu tak pernah terbuka.
"Terserah kamu saja Le. Ibu nunud saja."

Setiap berkata begitu, wajah ibu tampak begitu tenang, tak jarang ucapannya diikuti dengan mengulurkan tangannya, lalu mengusap kepala ku. Kalau sudah begitu aku sering tidak tahan, air mata mengalir.

Ibu seorang wanita lembut. Sejak ditinggal ayah untuk selamanya, ibu hanya ditemani adik bungsu kami dan seorang pembantu. Tapi kami tak khawatir, karena Bu De-adik ibu-tinggal tak jauh dari rumah kami.

Saya empat bersaudara. Mbak Surti, kakak tertua, tinggal di Sumatera mengikuti suaminya seorang pengusaha. Mas Budi, kakak kedua yang seorang dokter, tugas dan buka praktik di Makassar. Aku anak ketiga, dan terkecil adalah adikku perempuan sebaya Endang. Diantara saudara-saudara, aku kurang beruntung, pegawai yang kerap disebut tak punya masa depan, pegawai outsourcing.
Adalah Sri Anggraini, adikku yang ceplas ceplos, yang suka usil tentang hubunganku dengan Endang.

"Mas, perempuan itu bukan hanya Endang. Masa anak pengusaha batik takluk pada anak kepala desa. Banyak gadis lain yang mau sama Mas. Apa perlu aku cariin," katanya menggoda.

Kalau sudah begitu, ibu menengahi. Sambil bergumam, ibu melirik pada adik ku Sri sambil menempelkan telunjuk di bibir. Tapi Sri tetap tak mau kalah.
"Habis bagaimana bu. Emangnya perempuan itu hanya Endang. Banyaaak," katanya.

Kami bersaudara akrab satu sama lain, meski tinggal berjauhan. Dalam hal ekonomi orangtua kami berkecukupan. Almarhum ayah adalah pengusaha batik. Kini usaha itu dijalankan Bu De bersama suaminya. Walau tak berlebihan, ibu dan Sri bisa hidup tenang dari hasil usaha batik.

Sri sering meledek ku soal Endang, itu karena tahun ini dia sudah akan menikah dengan pria pilihannya. Sesuai harapan ibu, Sri akan tetap menetap di kota kami, karena calon suaminya adalah seorang pegawai pemerintahan kota.

* * *

Sepanjang perjalanan pikiran dan hati saya sering tergoda ucapan adikku Sri. Ya, saya harus tegas, punya harga diri. Usia saya sudah tidak muda lagi. Bukan saatnya dipermalukan seorang kepala desa. Adikku benar, bagaimana pun aku ini anak seorang pengusaha batik. Setidaknya dulu, karena kini kalah bersaing dengan perusahaan besar.

Harga diri ku makin terusik, karena baru saja, saat aku tidur-tidur ayam di atas bus yang penuh sesak pemudik, Endang menghubungi handphone-ku.

"Mas, Ayah pesan, Mas diminta langsung masuk ke penginapan di kota. Nggak usah langsung ke rumah di desa. Nanti dihubungi lagi," katanya.
"Apa maksudnya? Apa ini penolakan. Beginikah akhir hubungan kami?"

Hati mendidih. Ada pikiran lebih baik turun saja dari bus di tengah perjalan ini, lalu balik lagi ke rumah ibu. Atau langsung saja ke Jakarta, ke tempat kontrakan. Wanita memang bukan hanya Endang. Adikku benar.

Tapi otakku berkata lain. Saya harus memperlihatkan kedewasaan. Kalau mau pisah, ya pisah lah secara baik. Kalau pun akhirnya disakiti, balas lah dengan senyum. Aku pernah mendengar nasihat; jika ditampar pipi kiri berikan lagi pipi kanan. Duh, dewasanya saya, meski cintaku tengah terganjal.
* * *

Entah apakah aku masih perlu ketemu orangtua Endang, setelah dua hari terakhir dia selalu mengirim seorang pemuda sebayaku untuk membicarakan urusan yang tak ada kaitan sama sekali dengan hubunganku dan Endang.

Pemuda berperawakan sedang, berkulit putih, ramah, dan mudah senyum itu khusus datang ke tempat ku menginap untuk diskusi seputar bank perkeriditan rakyat atau BPR. Semula saya sempat cemburu, jangan-jangan dia calon suami Endang pilihan ayahnya. Tapi setelah tahu Rudy, pemuda itu, sepupunya Endang, aku jadi malu sendiri.

"Saya puas mendengar cerita anda tentang BPR dari Rudy. Saya juga tak setuju BPR justru jadi rentenir pemeras rakyat. Saya yakin anda akan sukses mengelola BPR yang betul-betul membantu rakyat," tutur Pak Sasmito, ayahnya Endang.

Saya masih tak mengerti ke mana arah pembicaraan kami. Saya mulai tak sabar, tak ingin berlama-lama lagi, ingin meninggalkan rumah Pak Kepala Desa ini secepatnya.

"Mungkin saya bukan jodohnya Endang. Kalo begitu saya pamit. Saya ingin segera kembali ke rumah ibu," kata saya memberanikan diri.
Herannya, Pak Sasmito tak terlihat kaget.

"Sabar nak. Pergilah bersama Endang untuk menemui ibumu. Katakan pada dia kapan datang ke rumah kami untuk melamar."
Justru saya yang kaget.

"Ya, setelah menemui ibumu teruslah ke Jakarta, untuk mengajukan permohonan mengundurkan diri dari bank tempat nanda bekerja. Bapak rasa, anak lebih pas menangani BPR di kota ini," kata dia.
Belum habis heran ku, Endang sudah datang dengan koper di tangan kanannya.

"Mari Mas, kita diantar Pak Tejo, sopir Bapak. Dari rumah ibu kita langsung ke Jakarta, dan selanjutnya kembali ke sini."

Semuanya seperti telah diatur rapi, dan membuat saya terheran-heran. Impian begitu cepat jadi kenyataan.
"Terima kasih ya Allah," tiba-tiba saja saya bersujud.

"Saya dan beberapa teman sejak tahun lalu mendirikan sebuah BPR. Tujuan utamanya untuk membantu rakyat. Nanda bapak nilai memiliki kemampuan. Jadilah pembela rakyat, jangan menjadi rentenir," kata sang bapak calon mertua.

Saya langsung ingat sosok peraih Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus, asal Bangladesh. Saya pengagum berat Yunus. Buku-buku tentang dia sudah aku lalap habis. Ya, aku ingin menjadi pejuang bagi rakyat jelata, bukannya rentenir berkedok penyelamat bangsa.***

* Kebayoran Baru, Ramadhan 1430 H.

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i