ARAVANE REZAI Anak Mekanik yang Tak Kenal Menyerah
Senin, 9 Nopember 2009
NUSA DUA, Bali (Suara Karya): Sumringah. Begitulah wajah Arava Rezai setelah sukses menobatkan dirinya sebagai ratu turnamen Commonwealth Bank Tournament of Champions 2009. Suatu hasil yang memang pantas untuk petenis Prancis berusia 23 tahun itu.
Pasalnya, dia bertarung gigih dalam setiap penampilannya. Yang paling menonjol dari penampilan petenis kelahiran St Etienne, Prancis, 14 Maret 1987, itu memang semangat tandingnya. Dia seperti tidak mengenal kata menyerah selama di lapangan. Jadilah dia bisa membalik keadaan menjadi kemenangan meskipun sempat tertinggal jauh lebih dulu.
Hasil di final saat dia menghadapi Marion Bartoli menunjukkan bagaimana kegigihan Rezai. Sudah tertinggal 3-5, namun dia terus berusaha keras memperbaiki penampilannya. Sangat luar biasa hasilnya. Rezai membuat luluh Bartoli yang akhirnya menyerah 5-7 karena cedera.
"Saya bisa tampil begitu karena fisik. Menurut saya, fisik sangat penting. Dari pertandingan final tadi saya melihat bahwa saya unggul fisik dari Bartoli," ujar Rezai yang menerima hadiah 200.000 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 2 miliar itu.
Bagi Rezai, kemenangannya itu sangat bertarti penting bagi dirinya dan banyak orang. Gelar master pertama yang diraihnya ini akan menjadi motivasi besar bagi dirinya utuk terus meningkatkan peringkat dunianya. "Ini juga penting bagi banyak orang, terutama keluarga saya yang terus memberikan dukungan," ucap anak pasangan suami-istri, Arsalan dan Nouchine, yang keturunan Iran itu.
Melihat orangtuanya tentu sangat mengagetkan Rezai bisa melejit menjadi petenis peringkat 44 dunia saat ini. Bayangkan, ayahnya seorang mekanik mobil. Ibunya psikoterapi yang kini terus mendampingi Rezai tur di tenis.
Pemilik tinggi badan 165 cm dan berat 62 kg itu mengenal tenis sejak usia delapan tahun. Perjalanannya menjelma menjadi petenis baseliner dengan mengandalkan kecepatan dan kekuatan pukulan spin serta tidak terlepas dari peran pelatihnya, Patrick Mouratoglu. Penggemar film India dan musik Persia ini memunyai tekad untuk terus meningkatkan posisinya di peringkat dunia. Bahkan, dia ingin menjadi nomor satu dunia.
Menjadi juara master pertama saat datang untuk pertama kali di Bali jelas sangat indah. "Ini juga penting untuk memotivasi karier saya. Tahun depan, saya ingin datang lagi," ujar Rezai.
Pemain right-handed dengan two-handed backhand ini tahun depan akan mulai ikut tur dengan mengikuti turnamen di Sydney atau Brisbane. Namun, kini dia ingin kembali ke negaranya untuk istirahat dan mempersiapkan diri. "Sebelum itu, saya ingin satu hari lagi di Bali. Saya ingin menikmati sunset," kata pemain yang baru terjun ke tenis profesional sejak 1 Januari 2005 ini. (Gungde Ariwangsa)
|
|