Pencantuman Gelar Haji, Pentingkah? Oleh Bawono Kumoro
Jumat, 13 Nopember 2009
Saat ini ribuan umat Islam Indonesia tengah menjalankan ibadah haji di tanah suci Mekkah. Mereka memiliki potensi besar untuk mengaktualisasikan ajaran Islam secara lebih sempurna bagi kemaslahatan lingkungan sekitar kelak saat kembali ke tanah air.
Namun, setelah sekian lama berlangsung, potensi besar aktualisasi ibadah haji bagi perbaikan kualitas hidup sehari-hari agaknya lebih merupakan mimpi ketimbang kenyataan. Ketika kembali dari tanah suci Mekkah tidak sedikit umat Islam Indonesia yang gagal mengaktualisasikan potensi besar ibadah haji bagi peningkatan kesalehan sosial di lingkungan sekitar.
Tidak ada yang berubah, kecuali penambahan huruf H atau Hj di depan nama. Padahal pengunaan gelar haji di depan nama tidak pernah dikenal saat zaman Rasulullah, sahabat, dan tabi'in. Karena itu, penulis berpandangan bahwa penggunaan gelar haji sangat berpotensi merusak kesucian nilai ibadah itu sendiri.
Gelar haji merupakan bagian dari legitimasi formal dari tingkat spiritual seseorang. Gelar itu memang hanya berhak disandang oleh mereka yang telah pergi ke tanah suci Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Namun, apakah legitimasi formal itu memiliki korelasi erat dengan kualitas spiritual secara substantif?
Rasulullah pernah bersabda, "Allah tidak melihat (kualitas iman) kamu sekalian dari pakaian dan atribut yang dipakai, tetapi dari (keimanan) yang ada dalam hati kamu sekalian". Jika diletakkan dalam konteks ibadah haji, maka jelas sekali bahwa ukuran peningkatan kualitas iman tidak dilihat dari pencantuman gelar haji di depan nama, tetapi sejauh mana nilai-nilai ibadah itu teraktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari (day to day).
Nilai substantif ibadah haji terletak pada kemampuan untuk meningkatkan kualitas kesalehan sosial dan sifat-sifat kemanusiaan lainnya saat kembali dari tanah suci Mekkah. Mereka yang telah menunaikan ibadah haji tetapi dalam kehidupan sehari-hari tidak mencerminkan peningkatan kualitas kesalehan sosial, maka sudah sepatutnya menanggalkan gelar haji itu di depan nama mereka.
Haji merupakan wahana latihan bagi manusia untuk meningkatkan kualitas kesalehan sosial, seperti meredam keangkuhan, keserakahan, dan keinginan menindas terhadap sesama. Hal ini antara lain disimbolkan melalui pakaian yang dikenakan. Ketika menjalankan ibadah haji kita diharuskan mengenakan pakaian ihram yang sederhana sehingga tidak mencerminkan strata sosial diri kita masing-masing. Yang ada ialah persamaan dari sisi kemanusiaan, persaudaraan, rasa solidaritas, dan kepekaan yang tinggi terhadap sesama.
Bahkan, kita dianjurkan untuk rela mengorbankan apa pun yang kita miliki, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan sang putra tercinta Ismail. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh intelektual Muslim asal Iran Ali Syariati bahwa pakaian melambangkan preferensi, status, dan perbedaan-perbedaan tertentu.
Haji merupakan bagian dari serangkaian perjalanan menuju Allah SWT yang Mahasuci. Karena itu, manusia yang ingin menghadap-Nya kelak diharuskan dalam keadaan suci lahir batin. Dalam menjalankan ibadah haji dibutuhkan kesiapan fisik, mental, materi, dan spiritual. Fenomena 'alumnus Mekkah' yang gagal menunjukkan peningkatan kualitas keberagamaan sangat mungkin disebabkan oleh pemahaman yang minim dan ketidaksiapan dalam menjalankan rukun Islam kelima tersebut.
Rasulullah mengatakan, "tidak ada haji yang balasannya surga selain haji yang mabrur" (HR Bukhari-Muslim). Pada hadis lain Rasulullah mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak diiringi dengan perilaku negatif dan pasif dalam kehidupan sosial, "Siapa yang berhaji dengan niat semata-mata karena Allah, tidak berkata kotor dan berbuat fasik, maka ia akan menjadi sosok suci seperti bayi yang dilahirkan oleh ibunya." (HR Bukhari).
Karena itu, wajar bila haji mabrur menjadi dambaan dan cita-cita setiap kaum Muslim yang pergi ke tanah suci Mekkah. Namun, hal itu tidak dapat dicapai jika haji yang dilakukan sama sekali tidak membekas dalam hati yang teraktualisasikan dalam perilaku sehari-hari pascahaji. Jelas kiranya makna substantif ibadah haji tidak terletak pada pencantuman gelar haji di depan nama kita, tetapi lebih kepada aktualisasi nilai-nilai simbolik peribadatan.***
Penulis adalah alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta
|
|