KERJA SAMA EKONOMI APEC Siapkan Model Penyatuan Abad Ke-21
BERTEMU OBAMA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama saat mengadakan pertemuan bilateral di sela KTT APEC di Singapura, Minggu (15/11). (Antara)
Senin, 16 Nopember 2009
SINGAPURA (Suara Karya): Para pemimpin forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) sepakat menyiapkan sebuah model penyatuan ekonomi kawasan Asia Pasifik pada abad ke-21. Model tersebut akan menggabungkan perdagangan bebas di perbatasan dengan meningkatkan lingkungan bisnis di dalam negeri dan mendorong keterhubungan rantai pasokan antarperbatasan.
Demikian deklarasi para pemimpin ekonomi 21 negara anggota APEC yang dibacakan usai pertemuan puncak ke-17 APEC di Singapura, Minggu sore.
Para pemimpin APEC juga meluncurkan inisiatif yang dipimpin Australia, Kanada, Jepang, Korea, Papua Nugini, Singapura, dan Amerika Serikat (AS) untuk mempraktikkan surat keterangan asal barang.
Pada pernyataan itu, para pemimpin APEC berkomitmen mencapai pengurangan biaya, waktu, dan jumlah prosedur pelaksanaan usaha, memperoleh kredit, menjalankan kontrak dengan sungguh-sungguh, negosiasi perizinan, dan pengiriman barang melalui perbatasan sebanyak 25 persen pada tahun 2015.
APEC juga akan mengurangi biaya transaksi usaha sebanyak 5 persen pada tahun 2010, setelah sukses menurunkan 3,2 persen periode 2006-2008 melalui Rencana Aksi II Fasilitasi Perdagangan.
Sementara itu, dalam bidang keterhubungan antarperbatasan, inisiatif keterhubungan rantai pasokan APEC telah mengidentifikasi delapan kebuntuan dalam rantai pasokan kawasan dan aksi untuk mengatasinya. Para pemimpin APEC akan mengeksplorasi keterhubungan multimodal melalui darat, laut, dan udara untuk memfasilitasi perpindahan barang dan jasa pengusaha di Asia Pasifik.
Menanggapi deklarasi APEC, ekonom Aviliani mengatakan, pemerintah dituntut memperkuat dan mempersiapkan sumber daya manusia di dalam negeri agar mereka mampu menjual produk Indonesia ke pasar internasional. Sebab, dengan model penyatuan ekonomi di kawasan Asia Pasifik pada abad ke-21, Indonesia praktis harus bisa mengejar ketertinggalan di berbagai sektor perekonomian.
"Jika sumber daya manusia kita tidak dipersiapkan, otomatis Indonesia akan digilas produk-produk impor. Sebab, selama ini masyarakat di perbatasan banyak yang menggunakan produk impor dan juga menjualnya di dalam negeri. Tapi mereka justru tidak mampu memasarkan produk kita sendiri ke pasar luar negeri," ujar Aviliani.
Menurut dia, selama ini masyarakat di daerah perbatasan negara terkenal miskin akibat kurangnya perhatian pemerintah. Jika itu terus berlangsung, tidak tertutup kemungkinan hasil pertemuan APEC malah menjadi malapetaka bagi perdagangan Indonesia.
Karena itu, kata Aviliani, sebelum kesepakatan APEC direalisasikan, pemerintah harus mulai mempersiapkan sumber daya manusia untuk berperan menjadi pemasar bagi produk Indonesia di perbatasan. "Produk asli yang dibuat masyarakat sekitar hendaknya menjadi produk unggulan di pasar ekspor. Artinya, produk tersebut mampu bersaing dengan produk impor," ujarnya.
Starategi menggenjot penjualan produk unggulan itu, menurut Aviliani, memiliki dampak berganda yang positif bagi peningkatan ekonomi masyarakat sekitar perbatasan. "Dengan demikian, mereka akan merasa mendapatkan perhatian pemerintah," katanya.
Masalah utama produk Indonesia, seperti daya saing yang masih rendah, harus menjadi program prioritas sebelum perdagangan bebas antarpulau di perbatasan negara diimplementasikan. "Jika daya saing tidak diciptakan pemerintah, justru produk luar negeri yang mengalir deras ke pasar dalam negeri. Kalau sudah terjadi demikian, ya bisa dibayangkan kehancuran ekonomi kita," tutur Aviliani.
Sementara itu, Presiden AS Barack Obama mengungkapkan keinginan membawa serta anak-istrinya berkunjung ke Indonesia. "Saya akan berkunjung ke Indonesia tahun depan. Saya harap Michelle dan anak-anak saya bisa berkunjung ke tempat saya (tinggal) dulu," kata Obama di akhir sesi pertemuan dwipihak dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Hotel Shangri-La, Singapura, Minggu petang.
Obama melakukan pertemuan dwipihak dengan Yudhoyono lebih kurang 45 menit seusai penutupan pertemuan ke-17 APEC. Dalam pertemuan itu, Obama dan Yudhoyono saling melemparkan pujian. Obama memuji kepemimpinan Yudhoyono serta Indonesia yang menjadi teladan dalam kehidupan demokrasi dan harmonisasi kehidupan antarumat beragama.
Sementara itu, Yudhoyono mengatakan bahwa Obama mengenal Indonesia dengan baik dan dia mendapat penghormatan luas di Indonesia. Yudhoyono juga mengucapkan terima kasih atas pandangan-pandangan baru Obama yang luas, terutama tentang umat Islam. (Bayu/Antara/AP/Hasyim)
|
|