Jumat, 3 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Metropolitan 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
JELANG LEBARAN
Pelayanan Mudik Masih Terkendala
POLRI
Kapolri Masih Merahasiakan
Calon Penggantinya
ARUS MUDIK
Polisi Harus Utamakan
Tindakan Persuasif
PERGURUAN TINGGI
Pertamina dan Kemdiknas
Gelar OSN-PTI Berhadiah Rp 2,7 M
ARUS MUDIK
Masih Banyak Kerusakan Jalan
di Jalinpantim Lampung
KABUPATEN BEKASI
Seluruh Perusahaan Akan Bayar THR
TRANSPORTASI
Nasib Monorel Akan
Ditentukan Pekan Depan
PELECEHAN SEKS PASKIBRA
KPAI Nilai Pemprov DKI
Lelet Lakukan Pengusutan
DKI JAKARTA
Kompleks Makam Pangeran Jayakarta Akan Ditata
PENGGANTIAN PIMPINAN
Citra Tiga Institusi
Harus Bisa Dipulihkan
PERAS PENGGUNA NARKOBA
Enam Polisi dan
1 Anggota BNN Ditangkap
SARANA PENDIDIKAN JAKSEL
Lelang Rehab Langgar Keppres
arsip  
KRIMINALITAS
Polisi Tembak Mati Dua
Perampok Nasabah Bank
KRIMINALITAS
Densus 88 Bekuk Dua Perampok Bank CIMB Niaga
NARKOBA
Sindikat Narkoba Berpusat
di China Terungkap
KRIMINALITAS
Perampok Jarah Tiga
Toko Emas di Jakarta
KRIMINALITAS
Guru SMP Tewas
Ditembak Kawanan Perampok
KRIMINAL
Pelaku Mutilasi Profesional
Tenang Saat Beraksi
arsip  
 
 
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Damandiri Siap Bantu Modal
untuk Memacu Peran Posdaya


Selasa, 17 Nopember 2009
Yayasan Damandiri siap memfasilitasi pos pemberdayaan keluarga (posdaya) yang dikelola dengan sungguh-sungguh. Selain menawarkan bantuan modal tanpa bunga, mereka juga siap memfasilitasi pembentukan koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan para anggota posdaya.

Menurut Ketua Yayasan Damandiri, Prof Dr Haryono Suyono, bantuan yang di antaranya ditawarkan kepada Posdaya Empat Lima di Kelurahan Jemursari, Kecamatan Wonocolo Surabaya itu, sifatnya untuk memotivasi agar posdaya lainnya bisa berperan maksimal. "Kita tawarkan pinjaman modal tanpa bunga Rp 15 juta selama setahun," ujarnya saat berada di posdaya tersebut, Senin (16/11).

Mantan Menko Kesra itu mengaku bangga mempertontonkan posdaya yang telah memberi peran pada para lansia tersebut kepada Presiden Asian Urban Information Center of Kobe (AUICK) Prof Hirofumi Ando dan Assisten City Health Officer Philipina, Lioyd Bryan Tobban, kemarin.

Haryono yang didampingi mantan Menteri Koperasi yang kini menjadi Sekretaris Yayasan Damandiri, Subiakto Tjakrawerdaja itu juga puas melihat para lansia yang sudah mengajarkan pada generasi yang lebih muda, untuk bertanam sayuran dan membudidayakan perikanan di lingkungan sekitar. "Kami memiliki 150 orang anggota dari kalangan lansia, mereka ikut membantu mengelola perikanan dan perkebunan yang kami selenggarakan," ujar Bendahara Posdaya Empat Lima, Nurul Qomariah.

Di lingkungan padat penduduk tersebut, Nurul merelakan lahannya seluas 6X27 meter itu untuk membudidayakan Lele. Dukungan permodalan dari instansi terkait, ikut berperan menjadikan budidaya lele itu menjadi kegiatan yang bernilai ekonomis. "Posyandu juga kami harapkan bisa ikut terbantu, karena mereka bisa memberi makanan bergizi setiap hari pada anak-anak balitanya, bukan sebulan sekali seperti sekarang," lanjutnya.

Para lansia, kata Haryono memang tidak selayaknya ditempatkan di rumah jompo. Dengan berbagai aktifitas tersebut, pihaknya optimis keberadaan kaum lansia mampu menghasilkan kontribusi baik bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat. Para lansia menurutnya, juga harus diberi wadah agar tidak menjadi momok, dan sebaliknya bisa tetap berkreasi.

Di Surabaya kemarin, rombongan yang akan mengikuti workshop Sharing Lesson Learn Enhancing The Quality of Life in Mega Cities itu mengunjungi Kampung Hijau di RT 07/10 Margorukun Kelurahan Gundih Kecamatan Bubutan, melihat langsung proses produksi Rumah Kompos di Kelurahan Kewijenan Kecamatan Sukamanunggal dan Posdaya Empat Lima di Kelurahan Jemursari Kecamatan Wonocolo Kota Surabaya.

Sampah
Saat berada di Rumah Kompos, rombongan dibuat takjub oleh penjelasan Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan Pemkot Surabaya, Hidayat Syah yang menyebutkan pengiriman sampah Surabaya ke tempat penampungan telah berkurang, dari yang biasanya 1.480 meter kubik kini menjadi 1.260 meter kubik perhari berkat keterlibatan 26.640 kader termasuk dari kalangan lansia.

Di Rumah Kompos senilai Rp 350 juta tersebut, sampah organik yang dari rumah tangga dan pusat-pusat perbelanjaan dikelola menjadi kompos. "Ribuan kader itu berperan mensosialisasikan pemilihan sampah, sehingga sampah kering bisa didaur ulang dan yang basah menjadi kompos," jelasnya.

Hingga saat ini, Pemkot Surabaya yang memiliki 31 kecamatan itu, baru memiliki 14 unit Rumah Kompos. Rencananya, jumlah Rumah Kompos itu akan terus ditambah agar setiap kecamatan minimal memiliki 1 unit Rumah Kompos.

Oleh Haryono, rombongan termasuk warga asing itu juga diajak melihat langsung Kampung Hijau yang memanfaatkan air limbah untuk menyiram tanaman. Air limbah dapur dan kamar mandi itu, oleh warga Kampung Gundih Kelurahan Margorukun, diproses dengan cara sederhana untuk menghilangkan bau dan bahan kimianya.

Menurut Ketua RT setempat, Sugiarto, air limbah yang sudah diproses itu ternyata sangat subur untuk menyiram tanaman di sekitar rumah. "Warga kami yang berjumlah 170 KK, sekarang ini bisa menggunakan air sepuasnya terutama untuk menyiram tanaman, tanpa menggunakan air PDAM yang ternyata kurang baik untuk tanaman," ujarnya. (Andira)

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i