PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Damandiri Siap Bantu Modal untuk Memacu Peran Posdaya
Selasa, 17 Nopember 2009
Yayasan Damandiri siap memfasilitasi pos pemberdayaan keluarga (posdaya) yang dikelola dengan sungguh-sungguh. Selain menawarkan bantuan modal tanpa bunga, mereka juga siap memfasilitasi pembentukan koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan para anggota posdaya.
Menurut Ketua Yayasan Damandiri, Prof Dr Haryono Suyono, bantuan yang di antaranya ditawarkan kepada Posdaya Empat Lima di Kelurahan Jemursari, Kecamatan Wonocolo Surabaya itu, sifatnya untuk memotivasi agar posdaya lainnya bisa berperan maksimal. "Kita tawarkan pinjaman modal tanpa bunga Rp 15 juta selama setahun," ujarnya saat berada di posdaya tersebut, Senin (16/11).
Mantan Menko Kesra itu mengaku bangga mempertontonkan posdaya yang telah memberi peran pada para lansia tersebut kepada Presiden Asian Urban Information Center of Kobe (AUICK) Prof Hirofumi Ando dan Assisten City Health Officer Philipina, Lioyd Bryan Tobban, kemarin.
Haryono yang didampingi mantan Menteri Koperasi yang kini menjadi Sekretaris Yayasan Damandiri, Subiakto Tjakrawerdaja itu juga puas melihat para lansia yang sudah mengajarkan pada generasi yang lebih muda, untuk bertanam sayuran dan membudidayakan perikanan di lingkungan sekitar. "Kami memiliki 150 orang anggota dari kalangan lansia, mereka ikut membantu mengelola perikanan dan perkebunan yang kami selenggarakan," ujar Bendahara Posdaya Empat Lima, Nurul Qomariah.
Di lingkungan padat penduduk tersebut, Nurul merelakan lahannya seluas 6X27 meter itu untuk membudidayakan Lele. Dukungan permodalan dari instansi terkait, ikut berperan menjadikan budidaya lele itu menjadi kegiatan yang bernilai ekonomis. "Posyandu juga kami harapkan bisa ikut terbantu, karena mereka bisa memberi makanan bergizi setiap hari pada anak-anak balitanya, bukan sebulan sekali seperti sekarang," lanjutnya.
Para lansia, kata Haryono memang tidak selayaknya ditempatkan di rumah jompo. Dengan berbagai aktifitas tersebut, pihaknya optimis keberadaan kaum lansia mampu menghasilkan kontribusi baik bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat. Para lansia menurutnya, juga harus diberi wadah agar tidak menjadi momok, dan sebaliknya bisa tetap berkreasi.
Di Surabaya kemarin, rombongan yang akan mengikuti workshop Sharing Lesson Learn Enhancing The Quality of Life in Mega Cities itu mengunjungi Kampung Hijau di RT 07/10 Margorukun Kelurahan Gundih Kecamatan Bubutan, melihat langsung proses produksi Rumah Kompos di Kelurahan Kewijenan Kecamatan Sukamanunggal dan Posdaya Empat Lima di Kelurahan Jemursari Kecamatan Wonocolo Kota Surabaya.
Sampah
Saat berada di Rumah Kompos, rombongan dibuat takjub oleh penjelasan Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan Pemkot Surabaya, Hidayat Syah yang menyebutkan pengiriman sampah Surabaya ke tempat penampungan telah berkurang, dari yang biasanya 1.480 meter kubik kini menjadi 1.260 meter kubik perhari berkat keterlibatan 26.640 kader termasuk dari kalangan lansia.
Di Rumah Kompos senilai Rp 350 juta tersebut, sampah organik yang dari rumah tangga dan pusat-pusat perbelanjaan dikelola menjadi kompos. "Ribuan kader itu berperan mensosialisasikan pemilihan sampah, sehingga sampah kering bisa didaur ulang dan yang basah menjadi kompos," jelasnya.
Hingga saat ini, Pemkot Surabaya yang memiliki 31 kecamatan itu, baru memiliki 14 unit Rumah Kompos. Rencananya, jumlah Rumah Kompos itu akan terus ditambah agar setiap kecamatan minimal memiliki 1 unit Rumah Kompos.
Oleh Haryono, rombongan termasuk warga asing itu juga diajak melihat langsung Kampung Hijau yang memanfaatkan air limbah untuk menyiram tanaman. Air limbah dapur dan kamar mandi itu, oleh warga Kampung Gundih Kelurahan Margorukun, diproses dengan cara sederhana untuk menghilangkan bau dan bahan kimianya.
Menurut Ketua RT setempat, Sugiarto, air limbah yang sudah diproses itu ternyata sangat subur untuk menyiram tanaman di sekitar rumah. "Warga kami yang berjumlah 170 KK, sekarang ini bisa menggunakan air sepuasnya terutama untuk menyiram tanaman, tanpa menggunakan air PDAM yang ternyata kurang baik untuk tanaman," ujarnya. (Andira)
|
|