COTABATO - Ranjau yang diduga diledakkan oleh gerilyawan di Provinsi Basilan, Filipina selatan, Selasa, menewaskan seorang tentara Filipina dan melukai tiga orang lainnya. Tentara yang bertugas di Batalion Infantri 32 Angkatan Darat Filipina itu berada di dalam sebuah truk militer ketika rantau yang dilekatkan oleh gerilyawan meledak di jalan Maluso, kata Komandan Militer Regional, Letjen Benjamin Dolorfino. Sebelumnya, pada November tahun lalu, ledakan ranjau di Filipina selatan menewaskan empat petugas kepolisian dan mencederai empat petugas polisi lainnya. Tentara mengejar ke tempat kejadian ledakan dan terlibat bentrokan senjata dengan gerilyawan, yang menyebabkan seorang gerilyawan juga tewas. Sementara itu, dua tentara Amerika Serikat tewas di Pulau Jolo, Filipina selatan, September silam, tewas akibat ledakan ranjau serupa.
AS Bantu Cari Pesawat Etiopia
BEIRUT - Sebuah kapal selam Amerika Serikat (AS) akan membantu pencarian korban pesawat Etiopia yang jatuh di Laut Mediterania di lepas pantai Lebanon sepekan lalu, lapor surat kabar Lebanon, An-nahar. Pemerintah Lebanon secara resmi meminta kapal selam angkatan laut AS yang bermarkas di "Odyssey Marine Explorations" untuk mengirim sebuah kapal selam guna membantu pencarian pesawat dan kotak hitamnya. Pesawat penumpang itu jatuh ke laut tak lama setelah tinggal landas dari bandar udara internasional Beirut pada 25 Januari lalu akibat badai, menewaskan 90 orang yang ada didalamnya. Menteri Pekerjaan Umum dan Transportasi Lebanon Ghazi Aridi seperti dikutip surat kabar itu mengatakan kapal selam AS telah diberangkatkan dan akan tiba di Lebanon dalam beberapa hari mendatang.
Perompak Bebaskan Kapal Barang
MOGADISHU - Perompak Somalia membebaskan kapal kargo MV Filitsa, setelah uang tebusan diserahkan dan awaknya selamat, kata seorang pejabat maritim regional. Seorang perompak di atas kapal itu sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa mereka mengharapkan akan menerima 3 juta dolar untuk kapal barang berbendera Kepulauan Marshall berbobot mati 23.709 ton, yang ditangkap November lalu. Awak kapal itu termasuk tiga pejabat Yunani dan sisanya adalah orang Filipina. Holikopter telah menjatuhkan uang tebusan yang telah disetujui di atas kapal itu, kata Andrew Mwangura dari Program Bantuan Penumpang Kapal Afrika Timur yang bermarkas di Kenya. "Kapal itu sekarang berlayar menuju ke perairan yang aman. Semua anggota awak dikatakan aman," katanya. "Kami telah mengambil uang dari kapal itu, kapal itu telah mulai berlayar dan ada kapal-kapal angkatan laut di sana yang mengawalnya," kata perompak Rage.
Uribe Berkunjung ke Ekuador
BOGOTA - Presiden Kolombia Alvaro Uribe akan berkunjung ke Ekuador untuk membahas respons Amerika Selatan terhadap bencana gempa dahsyat di Haiti, yang menelan banyak korban dan kerusakan. Ini adalah kunjungan pertama ke negara tetangganya itu sejak hubungan diplomatik keduanya terputus pada 2008. Kantor Uribe mengumumkan bahwa Presiden Kolombia itu akan menghadiri satu pertemuan kelompok UNASUR dari negara-negara Amerika Selatan di Ekuador, setelah dia tidak mengunjungi negara itu selama hampir dua tahun akibat cekcok diplomatik. Ekuador putus hubungan dengan Kolombia setelah Uribe memerintahkan mengebom terhadap kamp pemberontak FARC, yang terletak di perbatasan wilayah Ekuador pada Maret 2008, yang menewaskan pemimpin nomor dua gerilyawan, Raul Reyes. Kedua negara telah tergerak untuk memperbaiki hubungan dalam beberapa bulan belakangan ini, namun perbedaan politik mereka masih besar. (Ant/AP/Hasyim)